4.6.10

Sepenggal Kisah di Sekolah Baru


SEPENGGAL KISAH DI SEKOLAH BARU


            Kamu itu sebenarnya nggak cantik banget tapi wajahmu itu manis dan seakan memaksa setiap mata untuk memperhatikanmu. Aku melihatmu saat pendaftaran masuk sekolah ini. Saat itu kamu terlihat sangat feminine dengan hem putih ketat dan rok jeans dibawah lutut . Kamu melemparkan senyum padaku karena kamu mendapatiku sedang memperhatikanmu. Saat itu kulihat kamu bersama banyak teman cewekmu,gengmu kali ya?. Tapi diantara teman-teman se-gengmu, kamulah yang terlihat paling menonjol. Perawakanmu yang tinggi, rambutmu yang panjang , hitam dan lurus, serta kulitmu yang putih bersih membuat kamu tampak memiliki pesona yang lebih dibanding yang lain. Sejak pandangan pertama itu ternyata wajahmu tidak hilang begitu saja dari ingatanku. Malamnya aku jadi sulit tidur dan selalu mengingatmu, tawamu bersama teman se-gengmu dan tentunya wajah manismu itu membuatku ingin mengenalmu.
            “ Rasmini “, kamu menyebut namamu dengan bangga saat acara perkenalan siswa baru di kelas ini. Bagai mendapat durian runtuh karena ternyata kamu dan aku diterima disekolah ini dan ditempatkan dikelas yang sama. Ah, senangnya diriku !.Kemudian senyummu mengembang bagai bunga mawar di halaman rumahku. Bunga mawar yang sedang mekar itu selalu menarik perhatian orang yang lalu lalang didepan rumahku.
            Hari pertama masuk sekolah baru jadi terasa sangat menyenangkan bagiku, karena ternyata aku sekelas denganmu dan hari itu juga aku tahu namamu. Kamu bilang kamu berasal dari salah satu SMP negeri favorit di Solo ini. Itu membuat aku semakin yakin kalau kamu itu pasti cewek yang pandai. Lagipula sekolah ini kan juga salah satu SMA Negeri  favorit di Solo. Senyummu kembali mengembang saat aku melemparkan senyumku padamu. Senyum termanisku itu hanya untuk dirimu. Dari situ aku yakin pasti kamu cewek yang ramah dan murah senyum. Ah, Rasmini!
            Ini tepat seminggu aku sekelas denganmu. Setiap hari aku belajar mengenal sekolah baruku ini denganmu. Tapi percaya atau tidak sampai saat ini juga aku belum pernah bicara sama kamu. Bila sudah berada didekatmu aku seakan bisu dan tak mampu mengatakan niatku untuk sekadar bicara dan mengenalmu lebih jauh. Huh, memalukan!. Tapi itu benar-benar kualami dan sulit kumengerti kenapa itu semua terjadi. Sesekali aku mencoba untuk mencari waktu yang tepat untuk bicara denganmu, menanyakan alamatmu dan sebagainya, siapa tahu ternyata kita ini tetangga. Ah, aku mulai berkhayal lagi tentang dirimu,tapi seandainya kamu benar-benar tetanggaku , kita bisa berangkat bersama dengan sepeda motor baruku itu. Sepeda motor yang dibelikan Bapak karena aku berhasil menempuh ujian SMP lalu dengan hasil yang bisa dibilang sangat memuaskan. Aku selalu bangga mengendarainya, dan seandainya aku bisa mengendarainya denganmu, pasti aku menjadi sangat bangga sekali. Tapi bagaimana mungkin hal itu terjadi sedangkan aku  belum berani bicara denganmu.
            Akhirnya kuputuskan, hari ini juga aku harus bisa bicara denganmu, karena menurut penanggalan pribadiku, hari ini juga adalah tepat dua minggu aku sekelas denganmu dan genap dua minggu pula aku mendadak terserang penyakit sulit tidur atau biasa orang bilang insomia karena selalu membayangkanmu. Sedikit hiperbol sih, tapi aku benar-benar merasakannya. Siang itu saat jam istirahat berbunyi, para siswa menghambur keluar kelas. Saat yang tepat bagiku untuk melancarkan aksiku ini, karena kebetulan kamu nggak beranjak dari tempat dudukmu. Disana, dimeja nomor dua dari belakang. Sepertinya kamu lagi asyik membaca buku. Aku mendekatimu dengan sedikit canggung. Tapi kali ini aku harus bisa karena ini kesempatan bagus untuk pendekatan denganmu.
            Beberapa pertanyaan berhasil aku tanyakan padamu hingga akhirnya bel masuk itu berbunyi. Yach , belum puas sih sebenarnya ngobrol sama kamu, tapi Lastri , teman sebangkumu itu sudah masuk kelas dan mengusirku dari tempat duduknya. Huh, sial !
            Siang yang cukup panas, bel pulang sekolah yang kutunggu-tunggu itupun berbunyi. Seusai berdoa aku segera menuju parkir sepeda motor dan sampai di gerbang depan sekolah aku berhenti. Aku mencari-cari sosokmu. Niatku sih baik, aku cuma pengin nawarin kamu boncengan karena kamu tadi kan bilang kalau kamu nggak bawa motor. Setelah menyebarkan pandang akhirnya kutemukan juga sosokmu sedang ngobrol sama Hendra. Hendra sudah nangkring di sepeda motornya. Aku jadi sedikit cemburu. Huh, ngapain sih tuh anak ?. Secepatnya aku membawa motorku mendekati kamu dan Hendra. Tapi sebelum aku sampai di dekatmu, alangkah terkejutnya diriku karena kamu sudah nangkring juga di motor Hendra. Dan Hendra, dia langsung tancap gas dengan cengirannya itu. Ceritanya aku sudah kalah cepat dengan Hendra nih. Tapi tunggu besok yah…
            Pagi yang sumringah dengan semangat empat lima aku berangkat ke sekolah , itu semua berkat kamu. Senyum kamu itu membuat aku jadi semangat setiap berangkat ke sekolah. Sampai di kelas aku lihat segerombolan cewek-cewek sedang cekikikan. Dasar cewek, masih pagi gini sudah ngrumpi. Semakin keras tawa mereka membuat aku semakin tergoda akan bahan rumpian pagi itu. Dengan sedikit isyarat aku memanggil Lastri. Dan dia segera menuju ke mejaku.
            “ Lagi ngrumpiin apa tho, kok kayaknya heboh ?” , aku bertanya kepadanya.
            “ Itu anak-anak lagi pada minta makan-makan sama Rasmini. Ayo dong, kamu juga ikut ngrayu dia. He…he…he!!”, Lastri malah menarik-narik tanganku.
            “ Makan-makan apa, dia ulang tahun ya ?”,tanyaku lagi.
            “ Huh, kamu kok telmi amat sih. Si Rasmini kan kemarin jadian sama Hendra.”,Lastri segera meninggalkanku dan kembali berkerumun bersama cewek-cewek yang lain.
            Apa?! Jadi selama ini ?!Aku tercengang. Bagai mendengar petir di siang bolong, aku sadar ternyata senyumanmu selama ini bukan untukku tapi untuk Hendra, teman semejaku. Aku tak bisa menerangkan bagaimana perasaanku, tapi yang jelas aku sangat malu padamu, dan pada diriku sendiri. Tapi setidaknya senyummu saat pandangan pertama itu memang buat aku, kan ?! 


published on:
07/05/2005
ikha oktavianti

0 comments:

Post a Comment