8.6.10

Aku bilang padamu, menulis itu tidak segampang membalikkan telapak tangan dan kamu melihat di kertasmu telah dipenuhi rangkaian kata2 yg enak dibaca. Tapi gaya bicaramu sok ekstrim, membuatku kalang kabut ketika sedang berpikir apa sanggahanku selanjutnya. Detak jantung dan emosiku juga terkesan tak terkendali, pikiranku kacau balau dan diksi hilang ketika hendak menguraikan sebuah kata penolakan. Namun, lagi2 tawamu pecah ditengah panasnya hawa amarah yg membuncah didadaku, kamu sekali lagi bilang kalo tulisanku bagus bahkan ketika aku tertidur saat menulisnya. Sungguh sindiran yg terlalu dalam bagiku, bagaikan tembakan senapan disaat perang pengharapan. Kini aku mulai acuhkan perasaan2 rancu di hatiku, aku bangkit dari ejekan manismu. Aku ungkapkan pada dunia arti dari sebuah sketsa pengharapan seorang gadis yg hampir putus asa. Setelah ini, akan kulihat kamu terbenam dalam keegoisanmu, terbaring tak berdaya bagai keledai berbaring dalam lumpur.
 




Dedicated to: separuh rasa putus asaku
23/07/09
23:25

0 comments:

Post a Comment