22.11.10

A Morning Dew


Adzan Subuh sayup- sayup sudah terdengar, aku membuka mata dan mengucap doa bangun tidur.
Aku menoleh kesamping kanan, kudapati dirimu, mata yang masih terpejam dan raut wajah damai. Aku mengelus tanganmu, lalu sedikit menggoncangkannya, mulutku membisik pelan berniat membangunkanmu. Kau tampak sudah terbiasa dengan rutinitas ini, hingga sering menyebutku sebagai 'alarm abadi', lucu juga.

Segera setelah bangun, kau berwudhu, diikuti olehku yang sebelumnya mampir dulu ke kamar jagoan kita, memastikan mereka berdua baik- baik saja.

Kau berdiri tegak memulai salat, mengangkat tangan, takbiratul ikhram, kau imam dalam hidupku.

Selesai salat subuh, aku memulai tugasku sebagai istri, sekaligus ibu dari anak-anakmu, memasak sayur dan lauk kesukaanmu dan menyiapkan baju dinasmu. Sementara di sela- sela mengerjakan semua itu, aku membangunkan jagoan kita.

Si bungsu masih lelap dibalik selimutnya, sedangkan si sulung tampaknya sudah mulai peka dengan alarm paginya. Meskipun harus menggeliat dulu, tapi ia sudah mulai terbiasa bangun pagi. Aku mengecup lembut dahi si bungsu, sengaja membiarkannya tetap terlelap.

"Bunda.." panggil si sulung kepadaku sambil mengangkat dua tangannya, isyarat minta gendong.

"Oh, dear, wake up please", rayuku, sambil memberikan rangkulan terhangatku. Aku membantunya bangun dan duduk disamping ranjangnya.

"Bunda, mas gak mau sekolah, i am sleepy", rengeknya kepadaku.

Aku tersenyum, kutatap wajah polosnya cukup lama.

Aku belum sempat berucap, tiba- tiba kau muncul dari balik pintu.

"Mas, ayo bangun..", ajakmu dengan suara yang agak keras.

Kali ini, kau membuat jagoan kita mendelik, mungkin ia sedikit kaget mendengar suaramu.

Tiba- tiba ia mendekapku, lalu mengucapkan kalimat yang sama berulang- ulang sambil sesekali meronta menahan tangis.

"Bunda, mas gak mau bangun, gak mau sekolah, i am sleepy".

Aku tersenyum lagi, betapa lucu merekam gayanya itu dalam ingatanku.

Sementara kau mendekati ranjang, lalu membelai rambut si bungsu yang masih terlelap, sambil sesekali mengulang ajakanmu agar si sulung segera bangun dan sekolah.

Aku memotong kalimat si sulung, menenangkannya agar tidak lagi meronta. Aku mengangkat tubuh gempalnya ke pangkuanku. Aku memegangi kedua tangannya, lalu mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

"Coba mas diam, silent please.. ", aku memasang telunjuk di bibirnya yg tipis.

"Trus dengerin yang bisikin mas. Can you hear? Mas denger gak?
yang kanan bilang;
'ayo bangun, sekolah dong' dan yang kiri bilang; 'tidur lagi aja, kan masih ngantuk'," aku berucap, sambil berbisik tepat di telinga kanan dan kirinya bergantian.

"ayo bangun, sekolah dong' dan yang kiri bilang; 'tidur lagi aja, kan masih ngantuk'," beberapa kali aku mengulangnya pelan- pelan, dan ia kubiarkan tetap diam mengikuti alur drama yang kuciptakan. Sementara kau masih di seberang ranjang si bungsu, tersenyum- senyum melihat adegan lucu antara dua orang yang kau sayangi ini.

"Nah, you know, dear.. mas tau gak, yang bisikin sebelah kanan itu malaikat BAIK.
Yang kiri itu setan atau iblis yg dibenci Alloh..", aku melanjutkan dramaku di depan jagoan kecil kita.

"Sekarang, jagoan bunda mau ikut bisikan yang kanan atau yang kiri?", aku mengajukan pertanyaan.

Kemudian kau menimpali, "Anak BAIK mau ikut malaikat atau syetan? Mau bangun dan sekolah, atau mau tidur lagi?".

Jagoan kita diam sejenak, lalu menoleh kearahku dan kearahmu.

"Bunda, aku mau disayang Alloh. Aku mau bangun! I want to go to school!" teriaknya tiba-tiba, sambil melonjak dan mengajakku berdiri. Aku spontan tersenyum lagi, dan melirikmu yang tak bisa menahan bahagia detik ini.

"Kamu anak ayah yang BAIK, nak. Alloh pasti sayang kamu..", pujimu padanya.

"Alhamdulillah.. ayo anak BAIK segera mandi, go go go..", ujarku mengakhiri adegan bangun pagi kali ini.

Aku bersorak, sambil berlari kecil, mengantarkan lelaki lima tahunku yang lincah ini ke kamar mandi.


#adegan pagi di waktunya nanti
by : Ikha Oktavianti