19.12.10

Bisnis Terbaru gueee ini !

Lama ngilang dari sini, aku terlalu sibuk sama kualitas hidupku.Ya, benar saja, sapa sih yang nggak boring nunggu dosen pembimbing hijrah ke LN dan membiarkan skripsiku keteter? hm..

Kesal pastinya iya, jadi semakin bingung kan mau ngapain.
alhasil, berkat kreatifitasku di saat- saat kepepet gini, muncullah ide bisnis ini..

Jeng jeng ..!!!









"Boneka Flanel Pre order"

pesan sesuai karakter yang kamu inginkan :)
Cocok Buat kado unik yang different...

Tinggi boneka : 17 cm,
Box : 20 cm

Harga : Rp 30.000 ( + Box )

Pesen :
- Komen di FB
- Message ke inbox
- Sms 085647200900 ( no call )
atau 
" Flanel boneka wisuda "











Cocok Buat Souvenir Wisuda...

Tinggi boneka : 17 cm,
Box : 20 cm

Harga : Rp 25.000 ( + Box ) + Rp 2.000 ( tambah papan nama )

Pesen :
- Komen di FB
- Message ke inbox
- Sms 085647200900 ( no call )
 
sebenernya masih banyak macem yang udah di order, cuma camdig mendadak ngadat rusak. yawes.. ini dulu aja.. sapa aja yang minat , feel free to order yak :)
 
 

1.12.10

Alloh tidak pernah tidur , sayang...


“Alloh tidak pernah tidur, sayang”, ucapmu malam itu dari ujung seberang sambungan telepon tanpa kabel. Sementara disini, aku meringkuk bak si punguk yang merindukan rembulanku muncul dengan purnamanya, namun gagal. Dan aku benci harus terisak menangisi nasib yang seakan terus menerus tak berpihak padaku.

Sementara jemari tanganku sibuk menyeka air mata yang mengalir deras di pipiku, aku masih mendengarkan kau melanjutkan suaramu.

“Kamu sudah solat?”, tanyamu, mungkin berusaha mengubah arah pembicaraan malam itu. Namun aku tetap terisak, hingga aku merasa sepertinya tenggorokanku mulai tercekat.

“Hm, sayang, tak ada gunanya menangisi semua masalah dalam hidup, apalagi masalah seperti ini. Stop crying, ling…aku tahu kamu adalah gadis tegar yang selalu berhasil mencuri perhatianku seperti hari- hari yang lalu…”, kau lanjutkan kata- katamu lagi, tapi dengan menyisipkan sedikit komplimen, atau rayuan, ah entahlah. Ya, itu pasti dirimu, kau yang selalu berbicara dengan menyisipkan kosakata penyejuk hati. Tapi aku heran, kala itu untuk putaran pertama, jurusmu bisa dikatakan tak sempurna, buktinya aku benar- benar tak bisa menghentikan arus kristal bening yang meleleh dari mataku.

“Sudah, sayang, kamu sholat ya.. tangisanmu sudah cukup membuatku mengerti apa yang sedang terjadi padamu”, kau masih saja berjibaku dengan ucapan manismu, mencoba menenangkan.

Sebentar kemudian aku menarik napas yang panjang, lalu menghembuskannya pelan dari mulutku. Masih ada bulir- bulir yang menetes menganak di kedua pipiku, tapi aku berusaha membuka mulut.

“Han, kenapa ya, kenapa aku tidak bisa lulus sesuai waktu? Aku ingin segera lulus dan bekerja han…”, aku mengulangi keluhan yang kuutarakan sejak awal kita saling membuka saluran telepon. Napas yang tidak teratur membuat suaraku tersendat- sendat.

“Ling, kamu harus yakin, ini bukan halangan, justru ini tantangan. Ayo, buktikan bahwa tanpa ijazah sarjana pun kamu sudah bisa mapan dan tak menyusahkan. You don’t need to worry, dear… bukankah kamu sudah membuktikannya sejak dulu…kamu bisa survive tanpa ijazah kesarjanaan yang sedang dalam perjuangan…”, kau sebentar saja berhenti berucap, lalu melanjutkan,

“Sekarang kamu tidak sedang menganggur, masih ada banyak tugas yang harus kamu kerjakan, bukan menangis, ling.. menangis tak akan menyelesaikan masalah. Menangis malam ini, tak berarti esok pagi kamu bisa antri menjejalkan formulir permohonan wisuda, kan?”.

Lalu kamu diam, diam yang sedikit agak panjang, tapi tak memberi kesempatan padaku untuk menyela.

“Kau tahu, tugasmu malam ini bukan menangis karena dosenmu belum pulang dari Negeri Jiran, itu jelas bukan solusi yang BAIK. Tugasmu hanya bangkit, dan dirikanlah sholat. Berhajatlah… ijinkan Alloh mendengar curhatmu selain aku…”.

Dan sederet kata- kata itu adalah puncak petuahmu.
Kau kemudian menghentikan ucapanmu, memberi kepadaku waktu untuk berpikir kembali dan berbicara, mencoba menghilangkan kelu di lidah, menumpahkan kata- kata yang sedari tadi tertahan di balik bibir saja.

***

Ya. Dalam memoriku rapi tersimpan episode malam itu, kala aku benar- benar dalam kondisi terpuruk karena beberapa tekanan yang mempersempit jalan pikiranku. I was dropped! And it was my lowest point…

Sedikit mengingatkan, kala itu aku langsung memutuskan untuk menunda percakapan kita. Aku memintamu menutup telepon karena aku ingin segera menjalankan tugasku selanjutnya, yang pasti berhenti menangis, berwudhu dan mendirikan rekaat salat hajat.

Meskipun ucapanmu sangat panjang, tapi penyampaianmu yang lembut itu berhasil membuka pikiranku yang sempat menyempit. Tidak munafik, ucapanmu malam itu benar- benar membuatku merasa nyaman, bahkan tanpa sadar kau mengembalikan kepercayaan diriku. Kau mengingatkan bahwa tugas utama kita sebagai manusia adalah berikhtiar, berdoa, dan bersabar. Ya, nyaris tak ada tugas yang lain.

Malam itu, aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan selain menempelkan earphone di telingamu, mungkin kau sedang asyik bermain game Need For Speed terbaru, atau menonton tayangan komedi Opera Van Java favoritmu itu. Yang jelas, ucapanmu kala itu membuatku sangat sangat menyadari, bahwa aku adalah wanita beruntung yang diperkenankan bertemu denganmu. Kau yang selalu mengertiku bahkan disaat aku benar- benar tak mengerti siapa diriku. Kau juga yang lantang mengatakan aku mampu, meskipun aku sendiri merasa ragu. Kau - terima kasih atas angin sejuk yang selalu kau hembuskan kedalam kehidupanku…


#untuk mengingatmu: saat rindu seakan mengelus rambut yang tumbuh di kepalaku…

Tuesday, November 30, 2010 at 7:14am
IKHA OKTAVIANTI

22.11.10

A Morning Dew


Adzan Subuh sayup- sayup sudah terdengar, aku membuka mata dan mengucap doa bangun tidur.
Aku menoleh kesamping kanan, kudapati dirimu, mata yang masih terpejam dan raut wajah damai. Aku mengelus tanganmu, lalu sedikit menggoncangkannya, mulutku membisik pelan berniat membangunkanmu. Kau tampak sudah terbiasa dengan rutinitas ini, hingga sering menyebutku sebagai 'alarm abadi', lucu juga.

Segera setelah bangun, kau berwudhu, diikuti olehku yang sebelumnya mampir dulu ke kamar jagoan kita, memastikan mereka berdua baik- baik saja.

Kau berdiri tegak memulai salat, mengangkat tangan, takbiratul ikhram, kau imam dalam hidupku.

Selesai salat subuh, aku memulai tugasku sebagai istri, sekaligus ibu dari anak-anakmu, memasak sayur dan lauk kesukaanmu dan menyiapkan baju dinasmu. Sementara di sela- sela mengerjakan semua itu, aku membangunkan jagoan kita.

Si bungsu masih lelap dibalik selimutnya, sedangkan si sulung tampaknya sudah mulai peka dengan alarm paginya. Meskipun harus menggeliat dulu, tapi ia sudah mulai terbiasa bangun pagi. Aku mengecup lembut dahi si bungsu, sengaja membiarkannya tetap terlelap.

"Bunda.." panggil si sulung kepadaku sambil mengangkat dua tangannya, isyarat minta gendong.

"Oh, dear, wake up please", rayuku, sambil memberikan rangkulan terhangatku. Aku membantunya bangun dan duduk disamping ranjangnya.

"Bunda, mas gak mau sekolah, i am sleepy", rengeknya kepadaku.

Aku tersenyum, kutatap wajah polosnya cukup lama.

Aku belum sempat berucap, tiba- tiba kau muncul dari balik pintu.

"Mas, ayo bangun..", ajakmu dengan suara yang agak keras.

Kali ini, kau membuat jagoan kita mendelik, mungkin ia sedikit kaget mendengar suaramu.

Tiba- tiba ia mendekapku, lalu mengucapkan kalimat yang sama berulang- ulang sambil sesekali meronta menahan tangis.

"Bunda, mas gak mau bangun, gak mau sekolah, i am sleepy".

Aku tersenyum lagi, betapa lucu merekam gayanya itu dalam ingatanku.

Sementara kau mendekati ranjang, lalu membelai rambut si bungsu yang masih terlelap, sambil sesekali mengulang ajakanmu agar si sulung segera bangun dan sekolah.

Aku memotong kalimat si sulung, menenangkannya agar tidak lagi meronta. Aku mengangkat tubuh gempalnya ke pangkuanku. Aku memegangi kedua tangannya, lalu mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

"Coba mas diam, silent please.. ", aku memasang telunjuk di bibirnya yg tipis.

"Trus dengerin yang bisikin mas. Can you hear? Mas denger gak?
yang kanan bilang;
'ayo bangun, sekolah dong' dan yang kiri bilang; 'tidur lagi aja, kan masih ngantuk'," aku berucap, sambil berbisik tepat di telinga kanan dan kirinya bergantian.

"ayo bangun, sekolah dong' dan yang kiri bilang; 'tidur lagi aja, kan masih ngantuk'," beberapa kali aku mengulangnya pelan- pelan, dan ia kubiarkan tetap diam mengikuti alur drama yang kuciptakan. Sementara kau masih di seberang ranjang si bungsu, tersenyum- senyum melihat adegan lucu antara dua orang yang kau sayangi ini.

"Nah, you know, dear.. mas tau gak, yang bisikin sebelah kanan itu malaikat BAIK.
Yang kiri itu setan atau iblis yg dibenci Alloh..", aku melanjutkan dramaku di depan jagoan kecil kita.

"Sekarang, jagoan bunda mau ikut bisikan yang kanan atau yang kiri?", aku mengajukan pertanyaan.

Kemudian kau menimpali, "Anak BAIK mau ikut malaikat atau syetan? Mau bangun dan sekolah, atau mau tidur lagi?".

Jagoan kita diam sejenak, lalu menoleh kearahku dan kearahmu.

"Bunda, aku mau disayang Alloh. Aku mau bangun! I want to go to school!" teriaknya tiba-tiba, sambil melonjak dan mengajakku berdiri. Aku spontan tersenyum lagi, dan melirikmu yang tak bisa menahan bahagia detik ini.

"Kamu anak ayah yang BAIK, nak. Alloh pasti sayang kamu..", pujimu padanya.

"Alhamdulillah.. ayo anak BAIK segera mandi, go go go..", ujarku mengakhiri adegan bangun pagi kali ini.

Aku bersorak, sambil berlari kecil, mengantarkan lelaki lima tahunku yang lincah ini ke kamar mandi.


#adegan pagi di waktunya nanti
by : Ikha Oktavianti

23.10.10

Extraordinary Gift

Bicara tentang ulang tahun, pastilah tidak akan jauh dengan kado atau hadiah. Kali ini, masih dalam edisi ulang tahun, aku akan menulis tentang asal muasal pemberian kado atau hadiah, sekaligus hadiah yang extraordinary yang pernah kuterima.

Kok bisa ya, ada tradisi hadiah ulang tahun segala? memang unik sih, walaupun sebenarnya nggak penting banget, tapi kadang justru yang kita tunggu dari perayaan ulang tahun adalah kado itu sendiri.

Setelah bergelut dengan dunia maya ini, aku menemukan satu artikel yang menceritakan mitos memberi hadiah pada yang berulang tahun.

Ceritanya begini, 
Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. Hmm.. ini memang warisan zaman kegelapan Eropa.

Nah, berdasarkan catatan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun. Utamanya yang punya duit.

Ah, itu kan western culture yah? dan sama sekali tidak ada moral value-nya karena semakin lama justru mengajak ke gaya hidup hura- hura. Berarti selama ini kita hanya mengimpor budaya saja dongs... Masya Allah..

Meski begitu, terlepas dari tradisi perayaan ulang tahun yang mengarah ke hedonisme. Ternyata dalam pandangan Islam, memberi hadiah itu diperbolehkan kok.  Hadiah disebut juga hibah, yaitu pemberian dari seseorang yang dilakukan secara sukarela bertujuan untuk mendekatkan diri pada Alloh SWT (ibadah) tanpa mengharap balasan apapun. Tujuannya adalah untuk menyenangkan orang.

Hibah atau hadiah diartikan sebagai serah terima harta atau uang atau barang dari si pemiliknya tanpa ganti rugi kepada oranglain secara sukarela. Jumhur ulama berpendapat bahwa pemberian hadiah dikategorikan sebagai bentuk tolong menolong dalam rangka kebajikan antar manusia. Hal ini dipandang oleh sebagian besar ulama sangat positif. Contohnya mahar dalam pernikahan, dan atau sumbangan dan kado dari tamu undangan untuk mempelai. Mengenai yang terakhir ini aku dapat informasi setelah membaca dari majalah Anggun Pengantin Muslim.

Bahkan, untuk persoalan ini, Nabi juga pernah menegaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nasai, Hakim, dan Baihaqi :

"Saling memberi hadiahlah kamu, dan saling mengasihilah".

Dari keterangan dalil ini dapat disimpulkan bahwa pemberian hadiah memang dianjurkan dalam Islam. Sebab didalamnya mengandung kebaikan antara yang memberi dan yang diberi.

Jadi intinya mungkin begini, asal kita memberinya ikhlas dan tidak mengharap imbalan apapun kecuali ridha Alloh dan tidak untuk menyombongkan diri atau bukan untuk perkara suap, maka pemberian hadiah diperbolehkan. Meski aku belum menelusuri lebih dalam mengenai waktu kapan saja muslim bisa saling memberi hadiah, tapi kukira asalkan ikhlas dan bermaksud baik, maka tidak dilarang ya..
Bukankah juga ada hadist yang berbunyi :

"Innamal a'malu bin niyat"
Segala sesuatu tergantung niat

Aku pun sejak kecil, tiap ulangtahun selalu harap- harap cemas mengharap hadirnya hadiah. Ibu bapakku itu memang selalu memberikan sesuatu sebagai hadiah bila aku ulang tahun dan telah mencapai target tertentu. Kebiasaan yang lumrah sih, tapi coba dilihat efek sampingnya, hadiah bisa menjadi penyemangat sekaligus pengingat agar menjadi anak yang baik dari tahun ke tahun. Kan, kalau nakal nggak mungkin dapat hadiah..

Aku masih ingat kado yang spesial dari ibu dan bapak. Dulu, tepatnya di ulang tahun yang ke 17. Ceritanya, pagi sekali ketika ibu dan bapak berangkat  ke kantor, beliau meninggalkan amplop putih berukuran besar di meja ruang tamu. Nah, giliran aku akan berangkat sekolah (karena memang aku selalu menjadi yang terakhir meninggalkan rumah), aku menemukan amplop itu. Karena di amplop itu tertulis : Untuk Anakku Tersayang: Ikha Oktavianti, maka tanpa pikir panjang, aku langsung membuka amplopnya.

SURPRISE!
Aku menangis membaca sebuah puisi yang ditulis ibuku di kertas dalam amplop. Isinya seperti ini (tanpa rekayasa):

MAT ULTAH KE - 17

Malam itu jam berdentang sebelas kali
Terdengar lengking tangis
dari seorang orok mungil
Yang terlahir dari rahim seorang ibu
Tepatnya tanggal 8 Oktober 1988
Dia menangis karena gembira
Melihat terangnya dunia

Hari berganti hari, Minggu berganti minggu
Bahkan bulan tlah berganti tahun
Tak terasa ... orok mungil itu
Tlah tumbuh menjadi seorang gadis remaja
Yang cantik, lincah, ramah, dan humoris

Och.. Tuhan.. tak terasa
Anakku yang dulu kugendong, kususui, dan kutimang
Kini... sudah menjadi gadis remaja
Ya.. Alloh..
Bimbinglah dan tunjukkanlah dia
Ke jalan yang kau ridloi

Anakku..
Usia 17tahun, usia penuh goda
Penuh tantangan dan rintangan
Pandai- pandailah membawakan diri
Jangan terpengaruh hingar bingarnya dunia
Yang hanya penuh ke'semu'an belaka

Anakku..
Kami orangtua dan adikmu
Tak dapat memberikan apa- apa
Hanya ucapan "Selamat Ulang Tahun Ke- 17"
Semoga menjadi anak yang solekhah
Berbakti pada kedua orangtuanya, sayang kepada adiknya
Berguna bagi nusa, bangsa, dan agama....
AMIEN...

Ingat!! Usia 17 tahun diibaratkan
sekuntum bunga yang sedang mekar
Banyak kumbang yang ingin menikmati nectar yang ada
Hati- Hatilah!!!

Jangan salah dalam melangkah
Sekali salah langkah
Kau akan menyesal selamanya

Dari:
Ibu, Bapak dan Adikmu




Memang sengaja, sampai saat ini aku membingkai puisi tersebut dan memasangnya di tembok kamarku. Rasanya selalu merinding bila membacanya, apalagi bila dibaca pas sendirian di kamar, huh, selalu saja berhasil melelehkan bongkahan kristal di pelupuk mata.

Di dalam amplop ulang tahun tersebut ternyata tak hanya berisi selembar puisi, tapi juga selembar lagi kertas yang ukurannya lebih kecil. Kubaca pelan- pelan karena masih sesenggukan baca puisi sebelumnya, dan di dalam kertas kedua terdapat tulisan sebagai berikut:


HADIAHNYA SONY ERICSSON K 508 i
SILAKAN NANTI SEPULANG SEKOLAH DIAMBIL SENDIRI 
DI COUNTER MAS KRIS.

GILA! Kaget banget, bukan?!

Sebuah HandPhone, mungkin bukan barang mewah lagi kala itu, tapi bagiku lain. Aku memang bukan tipe anak yang dimanja, sehingga ibu dan bapak sebelumnya tidak pernah membelikan HandPhone untukku.

Sebelumnya, aku memang pernah punya HandPhone dengan tipe yang sama persis, HandPhone itu dulu berhasil kubeli dengan uang tabungan pribadi yang kudapat dari honor artikel serta honor menulis karya tulis teman- teman. Namun, sangat malang, karena belum ada sebulan aku memakainya, eh, HandPhone tersebut raib dicopet di Solo Grand Mall. Padahal, dulu Solo Grand Mall belum semeriah sekarang loh, kala itu aku juga baru kali kedua pergi kesana.

Memang tragis nasibku kala itu, bahkan sampai di rumah aku baru menyadari bahwa HandPhone baruku tersebut sudah tak ada di dalam tas. Spontan saja aku menangis sejadi- jadinya. Itu kan HandPhone mahal untuk ukuranku kala itu (masih SMU). Bayangkan saja, kala itu harganya sudah Rp. 1.850.000-, saking mahalnya sampai sekarang aku masih ingat nominalnya. Itu juga HandPhone tercanggih yang berhasil kubeli, dan malam hari pra- kecopetan, HandPhone tersebut baru dipakai untuk merekam pentas tari adikku. Kebayang, kan, betapa terpuruknya aku kala itu...

Setelah kejadian kecopetan itu, aku memang tak punya HandPhone lagi, setiap jam istirahat di dalam kelas, hampir semua teman memegang HandPhone, aku hanya diam saja di meja (nggak diam- diam banget sih, aku kan memang dasarnya cerewet, hehehe). Dan kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagiku agar kelak lebih berhati- hati.

Kembali dengan cerita amplop di pagi hari ulang tahunku yang ke 17 tahun, tepatnya pagi di tanggal 8 bulan Oktober tahun 2005. Membaca lembar kedua benar- benar membuatku tercengang dan berjingkat-jingkat. So glad!

Aku sudah tentu bahagia dengan hadiah ibu dan bapak tersebut. Sebuah HandPhone dengan tipe dan warna serupa dengan HandPhoneku yang hilang karena kecopetan. Aku sungguh gembira tiada tara, dan kebahagiaan tersebut tentu saja berlangsung sejak pagi, rasanya kala itu, seharian aku tak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran bapak ibu guru, ya gara- gara tak sabar mengambil hadiah di counter mas Kris. he he he



HandPhone Sony Ericsson K 508 i warna hitam itulah yang menjadi kado unforgottable dalam hidupku. Sampai sekarang, aku memang tak pernah ada niat untuk menjual HandPhone tersebut. Pokoknya, meski sudah sangat tua dan kinerjanya sudah tak maksimal, aku lebih memilih untuk menyimpannya sebagai kenangan.

Masih bicara soal hadiah, maka tahun inipun aku juga mendapat hadiah yang extraordinary. Setelah hadiah dari adikku yang kutulis didalam artikel another party, juga hadiah dari kekasih yang kutulis dalam artikel Behind The Scene, ternyata ada yang memberiku hadiah lain, meski memberinya telat, tapi tetap saja kuucapkan banyak terimakasih.

Hadiah yang extraordinary tersebut adalah dari salah satu anakku, Alfan , yaitu dua pasang underwear atau pakaian dalam wanita, maaf ya tidak ada gambarnya, agar tidak ada yang berpikiran negatif, he he he. Hadiah yang lain adalah sepaket emping mentah dari anakku yang lain, yang bernama Endah. Pada sudah tahu belum emping itu apa? emping itu keripik dari buah melinjo. Berikut adalah gambarnya:



Menarik bukan? dan begitu extraordinary, he he he

Tanpa mengurangi rasa terimakasihku pada mereka, aku sangat bersyukur mempunyai orang- orang sekitar yang menyayangiku. Selanjutnya, bukan masalah memberi hadiah atau tidak, tapi masalah kebahagiaan yaitu mempunyai orang- orang yang perhatian dan menyayangi kita. Ucapan ulang tahun saja sudah sangat berkesan bagiku. Dalam setiap ucapan ulang tahun kan selalu ada peringatan dan doa, doa agar kita menjadi yang lebih BAIK daripada sebelumnya.

Terimakasih ya bagi yang sudah mengucapkan ulangtahun kepadaku di hari ulang tahunku kemarin, baik yang lewat telepon, lewat pesan singkat, maupun lewat facebook. Ucapan dan doa kalian sangat membangun motivasi dalam diriku. Aku menjadi sangat optimis dalam menjalani hidup, bukankah ratusan orang sudah ikhlas memanjatkan doa untuk kesuksesanku di kemudian hari..

Sekarang tinggal ikhtiar dan berdoa lagi.. semoga Alloh SWT senantiasa memberikan rahmat dan barokahnya kepadaku dan orang- orang yang menyayangiku, keluargaku, orang- orang yang telah mendoakanku, teman- temanku, dan orang- orang yang beriman.

AMIN YA ROBBAL ALAMIN....

18.10.10

Another Party

Masih ditulis seputar Acara Ulang Tahun,

Ternyata ada yang protes setelah artikel terakhir sudah dipublish, si kecil bongsor yang ngaku- ngaku kecewa namanya nggak disebut di blog. he he he. Padahal sengaja loh, aku pengen tulis yang lain- lainnya menyusul, soalnya dalam waktu sebulan ini aku pengen ngisi blog ini dengan semarak ulang tahun and anniversary. Bulan ini kan bulanku yang BAIK. Pengennya sih tiap hari khusus bulan ini aku mau nulis terus, mau publish terus, itung- itung sebagai hadiah dari diri sendiri. Tapi niatku ini terhalang kendala sarana dan prasarana, modemku tersayang itu koneksinya empot- empotan hingga buat buka blogspot aja loadingnya lambretaa. Alhasil emang rencana manis itu gagal jua. Harap maklum, karena untuk ke warnet dan nulis panjang- panjang seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu artikel saja bisa sampai sejam! Fiuhh, berat di ongkos, bang...

Pada akhirnya artikelku yang ini kudedikasikan khusus untuk adikku tersayang, Anindut tidak bisa gendut, dan segenap keluargaku, yang mana aku menyayangi mereka sangat- sangat. Di pergantian tanggal delapan kemarin memang nggak ada yang membangunkanku tengah malam seperti biasanya (memang dasarnya aku juga belum bobok dan asyik telepon- teleponan dengan kekasih.hehe). Namun, justru pas pergantian tanggal sembilan, aku yang belum juga bobok, dikagetkan dengan kilau pendar sinar dari empat batang lilin yang ditancapkan di sebuah tart ukuran moderate. Taraaaaaaaaaa!!!
 
 


'Happy birthday to youuuu'

 
Si cantik itu berdiri dan tertawa- tawa dengan membawa tart berwarna kuning di tangannya. Malam itu, ia memakai kaos orange yang dulunya memang pernah menjadi kaos kesayanganku, judulnya 'Little Girl Big Dream'. Dengan senyumnya yang sok dimanis- maniskan, akhirnya ia nyelonong juga masuk kamar.

'Tart nya dari Ibu dan Bapak', katanya. 'Tapi beliaunya capek, jadi nggak tak bangunin', lanjutnya masih dengan ringisan tawa. Aku mengangguk dan tersenyum- senyum ceria.

'Iyoooo.. maturnuwuuun...', balasku.

Sebentar kemudian, setelah kutiup, api di atas lilin sudah padam. Kali ini aku memang make a wish, tapi singkat, aku cuma pengen diberi kemudahan dalam perkara kelulusan. Amin.

Selanjutnya, ia memberiku sebuah bingkisan mungil. Penasaran sih, jadinya langsung kubuka, dan taraaaaaaaaaaaaaa....

 
 
 
Sebuah dompet berwarna dominasi putih dan sedikit hijau. Cocok ini sih, pas banget mengisi kebutuhanku. Pasalnya memang aku baru membutuhkan sebuah dompet baru untuk mensubtitusi dompetku yang lama yang sudah buluk.

Sedikit bercerita, dompetku yang lama berwarna hitam merk Milk Teddy itu aslinya juga dompet pemberian. He he he. Ceritanya, beberapa tahun silam, tepatnya sekitar tiga setengah tahun silam, temenku yang bernama Fatmanissa Prima Ayunda sedang berbaik hati, hingga pas ia belanja di mall, ia membelikanku dompet itu. Sampai sekarang bandrol harganya tidak kuhilangkan loh, jadi masih menggantung seperti pada mulanya. He he he. Wah, awet juga yah ternyata, lihat nih, meski sudah tua, tapi fisiknya lumayan masih keren. Itu juga sih yang menjadi alasan aku tidak membeli dompet baru selama ini, yah selain alasan pengen ngirit. he he he  

Malam itu, dompet pemberian si adik yang juga ber -merk Milk Teddy, langsung kugunakan. Semua barang- barang termasuk bon- bon dan kartu nama dari dompet lama migrasi ke dompet warna putih. Finally, dapat free dompet baru juga, he he he

Thanks my lil sist.. *kecuppp
Sementara itu, tart- nya aku simpen di dalam kulkas, dengan pertimbangan besok malam kita kerumah simbah, pasti keponakan pada ngumpul, jadi bisa dimakan bareng- bareng sama mereka.

Benar saja, hari Sabtu sore, sepulang dari acara anniversary BAIK, aku sekeluarga kerumah simbah. Dirumah simbah sudah ngumpul keponakanku yang lucu- lucuuuu.. Ada Rizal, Faizal, Rayhan, Galang, Fajar, Dian dan kembaranku, Riris. Kenapa kok aku menyebut anak kecil ini kembaranku? adalah karena dia lahir di tanggal dan bulan yang sama persis dengan tanggal bulan lahirku. 
 
 
 
Riris, atau Kharisma Wahyu Pambangun (di gambar diatas memakai hem warna merah), memang lahirnya sama persis denganku, hanya saja anak laki- laki gendut itu lahir di tahun 2003. Jadi selisih usia kami genap 15 tahun. Selama ini, kata banyak orang, ia lebih tepat menjadi adik kandungku. Menurut mereka, karena karakter sifat dan bentuk wajah kita yang serupa. Hanya saja kulitku agak terang, sedangkan ia hitam legam. he he he

Malam itu, karena dia juga masih terbius euphoria ulang tahunnya, kontan saja dikiranya tart ini dibelikan khusus untuk ngrayain ultahnya. Nggak papa lah, itung- itung menyenangkan hatinya. he he he

Selesai bernyanyi, kita potong kue, dan memang sengaja dari awal hingga akhir acara, tokoh utamanya adalah Riris.

Happy birthday, ya Riris sayang..

Cepat gedhe dan jangan nakal!
yang sangat jelas, diharapkan jangan mewarisi sifat dan  karakter yang buruk dari mbakmu ini.
 
amiiinn ya robbal alaminn :)
 

14.10.10

Behind The Scene BAIK 2 Anniversary

 Masih di tengah euphoria ulang tahun dan BAIK anniversary :)

Jumat, 8 Oktober 2010 (Dini hari)

Malam sudah semakin larut, atau biasa orang bilang: sudah dini hari, tapi telepon genggam masih kutempelkan di telinga sebelah kanan. Dari sambungan telepon tanpa kabel tersebut, berhasil kudengar sayup- sayup suara bernada tenor sedang melantunkan lagu Avril Lavigne dengan lirik yang sengaja dialihbahasakan.
"Kowe ora dewe, 
awake dewe ngadek bareng,
aku neng sampingmu saklawase,
aku bakal gandeng kowe..."

Tubuhku tergoncang mendengarkan sayup- sayup syairnya. Aku terus- terusan terbahak sambil memegangi perutku yang syarafnya mulai menegang. Sungguh lucu dan menggemaskan! Bagaimana aku tidak gembira mempunyai kekasih seorang yang berselera humor sangat tinggi seperti dia. Hingga untuk mengucapkan anniversary saja ia lakukan dengan adegan sangat menghibur seperti itu. Ia cukup percaya diri mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara berbeda. Ia cukup yakin bisa membuat pasangannya merasa nyaman dan bahagia, dan malam ini hanya dengan bermodal suara dan syair yang ia translate ke dalam bahasa jawa. Ya, ia memang seperti itu, dan justru itu yang seringkali membuatku jatuh cinta kepadanya..


________________________________________________

Sabtu, 9 Oktober 2010

Hari yang indah, meski sudah lewat sehari setelah hari jadi, tapi diantara kami masih ada janji yang akan ditepati.

Pagi sekali ia sudah datang ke rumahku, membawa dua porsi bubur ayam special yang beberapa waktu belakangan memang selalu dipamer- pamerkan kepadaku. Setelah menyantap kelezatan bubur ayam tersebut, kami berdua menunggangi belalang tempur merah yang sudah dipastikan dalam kondisi prima. Kami menikmati perjalanan hari Sabtu pagi yang cerah ceria.

Aku turut saja saat ia membawaku ke sebuah Book Store terbesar di Surakarta: GRAMEDIA Slamet Riyadi. Sampai di dalam, ia sibuk sendiri mencari barang yang katanya diperuntukkan untukku, sebut saja sebagai hadiah, karena dua tahun sudah mendampinginya menikmati episode yang disebut cinta. Ia masih sangat sibuk, meneliti dengan hati- hati setiap rak buku berlabel 'KEUANGAN' dan 'MARKETING'. Sementara aku, yang sebenarnya sedang diselimuti rasa penasaran, hanya berdiri mematung sambil acapkali mengambil gambarnya.

Ketika tampaknya ia lelah mencari, ia memutuskan untuk meminta bantuan pada sejumlah karyawan toko untuk mencarikan buku yang ia maksud. Beberapa karyawan toko berkerumun di rak- rak buku MARKETING dan KEUANGAN membantu mencari barang yang ia maksudkan sebagai hadiah untukku. Sementara aku masih berdiri, masih menyimpan rasa penasaran di dalam hati.

Berpuluh menit, karyawan toko pun kewalahan, hingga harus masuk ke gudang dan mendapati bahwa buku yang dicari tersebut sedang dalam proses penangguhan di dalam gudang. Oleh salah satu karyawan toko, ia dan aku dirujuk ke cabang Gramedia di Solo Square untuk mendapatkan buku yang dimaksud. Kami berdua mengiyakan, dan meluncurlah kami menuju ke Solo Square. Akhirnya, setelah melalui proses menelepon dan menunggu, disanalah kemudian buku yang berjudul AKU WANITA TERKAYA ini didapatkan.

Aku akan bercerita mengenai buku ini nanti setelah aku bercerita tentang kerja keras kekasihku ini mengenalkan diriku dengan dunia gemar membaca. Aha! dulunya aku memang mempunyai minat yang sangat tipis untuk membaca. Tapi, semenjak kenal dia, segala macam buku terutama yang berbau motivasi dan berkaitan dengan marketing serta bisnis, selalu saja menjadi lalapan segar untukku. Tak tahu juga dorongan apa yang kemudian membuatku menuruti rekomendasinya tersebut. Ada- ada saja caranya membangunkan selera membaca dalam diriku. Mulai dari kebiasaan wajib memberi hadiah buku, sampai kebiasaan mengkuotasi isi buku dalam pesan singkatnya, misalnya seperti SMSnya dibawah ini:
SIMAK NI STATEMENTS CHARLEZ SWENDOLL ABOUT SIKAP!
'Makin lama saya hidup, makin saya menyadari peranan sikap dalam setiap kehidupan. Sikap, bagi saya lebih penting dari fakta- fakta. Sikap lebih penting dari masa lalu, dari pendidikan, dari uang dan keadaan, dari kegagalan dan keberhasilan, dari apa yang orang pikir, katakan, atau lakukan. Sikap lebih penting daripada penampilan, bakat, atau keterampilan. Sikap bisa membangun atau merobohkan sesuatu. Satu hal yang luar biasa adalah bahwa setiap hari memilih bagaimana kita akan bersikap. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita tidak bisa mengubah fakta bahwa orang akan bertindak dengan suatu cara tertentu. Kita tidak bisa mengubah hal- hal yang akan terjadi. Satu- satunya yang bisa kita lakukan adalah memainkan apa yang kita kuasai dan itu adalah sikap kita. Saya percaya bahwa hidup adalah 10% apa yang terjadi pada diri saya, dan 90% adalah bagaimana saya bereaksi terhadapnya. Demikian pula hidup anda. Kita masing- masing adalah penguasa atas sikap kita.'


05/01/2009
5:54 pm

Pesan yang ternyata sudah cukup lama menghuni salah satu folder di HPku. Pesan yang kontennya tidak bisa dikategorikan singkat itu memang cukup panjang dan memang hanya berisi kuotasi dari sebuah buku yang kala itu sedang dibacanya. Aku lupa judul bukunya, yang jelas setiap kali ia berganti judul, saat itu pula ia akan selalu menceramahiku dengan segala isi buku yang sedang ia baca. Nice bukan? Faktor ini pula yang kemudian membuatku malu, ceiley gini- gini aku juga masih punya rasa malu. Meskipun aku tidak pernah absen mengiriminya SMS romantis atau perhatian- perhatian kecil, tapi gila saja jika intelektualitasku jatuh rubuh karena engga bisa mengimbangi dia dengan pesan- pesan yang lebih bermutu dan bernilai ilmu. Makanya, mulai sejak itu, diam- diam aku mulai menyukai buku, yaa awalnya suka sama covernya dulu, tapi lama- lama tertarik juga buat baca. he he he

Ternyata setelah kuingat- ingat, engga hanya itu cara dia menyulut semangatku untuk membaca, dia juga sering meminjamiku buku, lalu alih- alih memberiku deadline yang mana pada hari yang ditentukan aku harus bisa menceritakan semua isi buku yang ia pinjamkan tersebut. Maksa bukan? Ya, itulah ia, tipe pemaksa yang halus, belakangan baru kuketahui bahwa kemampuan seperti itu dimiliki hampir semua ahli dunia marketing. ha ha ha

Dan seperti yang sudah kusinggung, dia selalu membudayakan diri memberi buku sebagai hadiah. Sejak awal, sejak pertama kalinya ia melamar statusku menjadi calon pendamping hidupnya, ia sudah memberiku buku, dan yang membuatku heran, buku yang ia berikan padaku sebagai bingkisan pertama kali adalah buku merah berjudul Seni Berbicara yang ditulis oleh Larry King. Norak bukan? Bukannya aku ini tipe nyamuk kecil yang suka berdenging? Hm, setelah aku usik- usik nih alasan dia memberiku buku Seni Bicara, katanya dulu itu aku menjadi tampak sangat pendiam dihadapannya, sampai- sampai membuatnya bingung. Yaiyalah, mungkin kala itu aku grogi setengah mati ya. Belakangan dia baru nyadar, setelah jalan denganku, tampak juga tabiat asli cerewetku. Kewalahan juga kan? Hahaha.

Sambil mengingat- ingat lagi, ulang tahunku tahun lalu ia juga memberiku buku, dua items malahan. Judulnya Thats All karya istrinya Pepeng, mbak Tami Ferasta. Isinya maknyusss..setiap halamannya membuat merinding bulu kuduk. Dalam buku itu intinya ditulis bagaimana perjalanan suka duka mbak Tami kecil hingga pertemuan dengan Mas Pepeng yang tanpa diduga akhirnya justru menjadi pasangan hidupnya. Sungguh buku yang sangat inspiratif dan memotivasi untuk menjadi calon pendamping yang baik. uhuuyy..
Sedangkan buku yang lain adalah buku semacam antologi puisi kompasiana judulnya Ikan Terbang Tanpa Sayap, untuk buku ini sih yang aku tangkap sebenarnya dia memotivasiku untuk terus menulis, ia tahu aku hobi berkirim tulisan ke media cetak. Harapannya sih, kata dia, kelak aku bisa mengeluarkan debut tulisanku, mungkin saja bisa ikut antologi atau yang selalu dalam angan- angan adalah novel. Mimpi kali yee.. hehehe

Tapi tidak mimpi kok, meski aku belum pernah mengirimkan tulisanku ke publishing, tapi aku sudah berhasil menelorkan satu single mini novel based on true story, ditulis sendiri, diprint sendiri, bikin cover sendiri, dijilid sendiri, lalu diberikan pada kekasih sendiri. Hehehe. Sayangnya aku lupa memfoto, dulu buru- buru sih.

Kembali pada keterkaitan buku berjudul Aku Wanita Terkaya yang diterbitkan oleh Elex media, dalam buku itu berkisah mengenai kerja keras Wulan Ayodya memulai dunia wirausahanya, dari sejak usia lahir hingga sekarang ini ia terkenal sebagai multitalented woman enterprenuer. Dari awal mula ia kenal dunia bisnis hingga berkecimpung sebagai pelaku sekaligus peminat bisnis. Buku ini kena banget di hatiku, tak kalah seru dengan buku- buku lain yang pernah ia berikan kepadaku. Ketika membaca perlembar buku ini, aku merasa bercermin dengan masa laluku. Masa dimana aku mulai tertarik dan mempunyai minat besar dalam dunia bisnis. Mulai dari sejak kecil gemar membisniskan tenaga sendiri untu mencabut uban ibu dan saudara- saudara, bisnis membuat PR dan karya tulis, jualan kue nastar dan parcel, jualan baju hingga pernik- pernik macam kuncir rambut dan gantungan kunci, hingga yang terakhir jadi stand guide atau SPG, bukankah yang dijalani oleh mbak Wulan Ayodya ini benar- benar sama denganku? Tapi yang luar biasa, mbak Wulan ini orangnya tipe penjaring kakap dengan jala, kalau aku sih, boro- boro dapat kakap, tarafku masih pemancing wader. Beruntung sekali karena hingga saat ini aku masih selalu diberi ide kreatif, kalau tidak, mana bisa mengisi bensin dan pulsa di HP? Alhamdulillah...Terimakasih ya Allah.

Dalam waktu kurang dari 5 jam, buku berjudul Aku Wanita Terkaya tersebut sudah kubaca habis kata perkata hingga isi kandungannya. Beberapa kali lebih singkat daripada usaha keras kekasihku dan karyawan toko saat mencarikan fisik bukunya. Dalam buku itu diceritakan Mbak Wulan hanya memiliki keinginan keras untuk maju dan berkembang serta mandiri dan tidak bergantung pada siapapun termasuk orangtua. Saat ini, dirinya sudah tenar namanya, menjadi jutawan dengan bisnis yang masih digeluti adalah owner pom bensin, pengusaha dalam bidang fahion, bidang jasa transportasi Ayoedya Travel, bisnis persewaan tenda dan kursi, termashyur menjadi pengisi seminar usaha kecil dan bergiat dalam UKMKU yang dibentuknya sejak tahun 2006, oya, ia juga berhasil menumbuhkan minatnya dalam hal menulis, buku yang ia keluarkan sudah cukup banyak dalam hal bisnis dan industri wirausaha. So inspiring, tampaknya aku harus segera membenahi sikap dan strategi agar bisa menjadi the next Wulan Ayoedya ya... Amin ya robbal alamin :)

Terimakasih kepada kekasihku atas hadiah buku ini :)

Perjalanan dari Solo Square dilanjutkan ke kantor Jasa Pengiriman Tiki dan JNE. Usahlah mencari tahu barang apa yang akan diambil atau dikirim, karena memang kekasihku ini sedang hobi sekali bisnis online sparepart komputer and game. Kupikir, paling juga ia dapat orderan atau gimana, ah, yang ini memang aku cukup tak menanyakannya. Sedikit ngomel sih, pasalnya setiap kali nyelonong masuk kantor, aku cuma ditinggal di motor, ceritanya sekalian merasakan suka duka jadi tukang parkir...

Selanjutnya, si belalang merah kembali dipacu ditengah huru- hara Solo Raya, kali ini destinasinya adalah Master Foto di daerah depan Toko Buku Sekawan yang sampingnya Lippo Bank Slamet Riyadi. Disana, akupun cuma dibiarkan mematung. Ia malah asik dengan ibu- ibu karyawannya, sudah saling akrab aja kayak kenalan lama. Oh, ceritanya mereka lagi asik ngedit foto, ternyata ada foto aku juga yang didisplay di komputer itu. Sedang gandengan tangan, dengan... hmm... dengan kekasihku ya, hehehe. Ingat- ingat lagi, itu ternyata foto jaman kita touring ke Bromo, ah kenangan yang enggak akan kulupakan karena dari delapan peserta touring motor, hanya aku yang menjadi touringers cewek, huahaha. Mantap gitu loh, men!



Setelah ribet mencetak foto, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju ke sebuah toko aksesoris mungil di daerah dekat UNIBA. Eh, sekalinya menyandarkan motor, si ibu sudah keliatan akrab gitu sama cowokku. Hm, lagi - lagi sok dekat banget nih kekasihku, hehehe. Usut punya usut, ternyata emang dia bilang nih, toko ini udah jadi langganan dia kalau memberi bingkisan kepadaku, wrappingnya kan selalu disini, begitu katanya.

Dan benar saja, ibu itu langsung cekatan membungkus barang- barang yang dimaksudkan sebagai paket hadiah untukku. Mulanya, kekasihku mengeluarkan buku Aku Wanita Terkaya, lalu cetakan foto kita berdua gandengan di Bromo tadi itu, nah, yang aku kaget nih, saat dia juga mengeluarkan sesuatu yang dibungkus koran. Oh, GOD! Ternyata dia tadi tuh ke kantor delivery service buat ambil paketan dia yang ini, yaitu... deng deng deng... Selamat anda mendapatkan dua kaos cantik berwarna putih! ahaha.. tapi ikut dibungkus dulu yaa.. Gaya paling unik adalah desain kaosnya, halaaaaaaahh, mentang- mentang dia kaskuser sejati, lalu kaos yang ia beli itupun juga dari kaskus, dengan desain lucu dan tetap saja ada cap kaskusnya. Hahaha. Dasar kaskus maniac!

Awalnya dia sok- sok ikut memberi arahan ide pembungkusan pada ibu itu, tapi langsung dibantah terus  ide-idenya, dikata style wrapping yang dia usulkan itu kuno dan ndeso, hahaha, aku cuma ngampet ngakak aja di belakang. Proses wrapping pun selesai dengan sentuhan tempelan pita kuning yang cantik di sebelah samping. Simple, sederhana, dan cantik... just like me :)



Terimakasih (lagi) ya sayangku. Kasih senyum deh :)


Awalnya aku pikir setelah hadiah itu ready diberikan untukku, ia langsung membawaku pulang. Eh, tapi dugaanku salah ternyata, karena tiba tiba saja si belalang merah digeber menuju Solo Grand Mall. Setelah diparkir, langsung deh kita berdua menuju second floor, lebih tepatnya ke pojok Pizza Hut! Ciee.. tumben- tumbenan nih aku dibawa ke premium resto, biasanya kan cukup di Hik Lek Wito. hahaha

Kita sengaja pilih meja di smoking area, tepatnya di sebelah serambinya, biar romantis karena bisa lihat view jalan raya Slamet Riyadi gitu. Mesra juga nih kekasihku. Setelah pesan paket sensasi delight, tetep aja yang bandrol pricenya paling murah, biar ada sisa buat tabungan katanya. Ngales.com. hahaha

Dan inilah kami, setelah prosesi yang cukup panjang, perayaan acara anniversary BAIK diakhiri disini. Eh, salah, aku diantar pulang sampai rumah! Horeeeyyy... HAPPY ANNIVERSARY, Bayu dan IKha yang BAIK :)


Be better than before yah :)
nih intip kata- kata doa dan harapan kami disini.
 

The last but not least, thanks for reading. Have a nice day for you :)


   

12.10.10

dua tahun yang BAIK

8/10/2010

dua tahun yang BAIK


BAIK sudah 2 tahun :)


Pertama, aku jelasin dulu apa yang dimaksud dengan BAIK terutama yang sering kutulis di blog ini. BAIK sebenarnya merupakan singkatan dari namaku dan kekasihku, BAyu dan IKha. Terus terang, dulunya akronim itu muncul atas usulan Ibundaku. Karena BAIK dalam istilah kebahasaan bermakna positif, jadi aku dan kekasih langsung saja menggunakan akronim tersebut layaknya label untuk hubungan kita. Awalnya, BAIK bertemu dalam EPISODE TERBAIK, kemudian setelah melalui fase- fase yang cukup unik, akhirnya BAIK diresmikan di hari yang baik, yaitu tanggal 8 Oktober 2008, tepat pada saat ulangtahunku yang ke 20.

Hari Jumat lalu (8/10/2010) , tak terasa BAIK sudah genap dua tahun. Bayangkan kalau misalnya BAIK itu anak manusia, pastilah sudah bisa berjalan kesana kemari dan berceloteh ini itu. Atau misalnya, bayangkan bila BAIK itu adalah sebuah korporasi, pastilah sudah menjadi korporasi yang kokoh karena sudah mengalami tahap penempaan selama dua tahun. 

Namun, karena BAIK adalah hubungan antara BAyu dan IKha, maka tolok ukur pertumbuhannya adalah tingkat kedewasaan dalam menyikapi dan menghadapi perbedaan masing-masing karakter. Kalau dulu di tahun pertama masih sering ngambek- ngambekan, harapan ke depannya BAIK akan lebih dewasa dan tangguh dalam menghadapi permasalahan yang muncul dalam hubungan. Mengeliminir egoisme diantara kedua kubu juga sangat diperlukan, mengingat setiap masalah yang muncul pada dasarnya berpangkal dari level egoisme kedua belah pihak. Rasa sayang dan sikap saling menghargai sebenarnya sudah tertanam sejak awal, sehingga kedepannya hanya perlu maintenance saja. Iklim perubahan yang kondusif akan terus dimanfaatkan  agar supaya hubungan BAIK ini membawa masing- masing pribadi kearah yang lebih BAIK. Terakhir, semoga BAIK segera diberi kesempatan untuk mengukuhkan hubungan bersertifikasi dan BAIK akan menjadi pasangan BAIK yang langgeng selamanya. AMIN :)


HAPPY 2th ANNIVERSARY     



Halal bihalal ED 06



Lupa deh ini acaranya kemarin tanggal berapa. yang jelas mereka ternyata masih saja sama gilanya kalo lagi ngumpul.. hehe

Apalagi bahas siapa yang lulus duluan, kayaknya masih pada sayang sama kampus sastra hingga belum ada satupun diantara kita yang lulus di semester 9 ini, hahaha



English Department 2006

I love you all, guys!

Ayo segera lulus, bareng-bareng juga gapapa deh ,, hehe
yang jelas tetep kompak yah :)

6.10.10

Pelajaran Bersyukur

Sudah bersyukurkah anda hari ini?

Judulnya memang sengaja dibuat dengan kalimat interogatif, biar nantinya setelah membaca postingku yang ini, anda semua bersedia menjawab dengan sebuah jawaban yang tepat :)
 
Sebelumnya, silahkan membaca surat gadis remaja berikut ini:

Surat seorang gadis kepada ayahnya
oleh Isa Alamsyah

Belum sempat John meletakkan tas kerjanya sepulang ke rumah, matanya tertegun melihat sebuah surat tergeletak di atas meja.
Di sebuah amplop tertulis "Untuk ayah tersayang"
Setelah belasan tahun menjadi single parent, baru kali ini ada surat untuknya dari Lucy, anak gadisnya. Ada apa?

Kalimat pertama pada surat itu sudah mengguncang hatinya;
Ayah tersayang, jika ayah membaca surat ini maka aku sudah tidak ada di rumah.
Sekalipun berat John melanjutkan bacaan kata demi kata.

Ayah, aku telah menemukan pria yang akan mendampingiku selamanya.
Memang buat orang lain dia sudah terlalu tua, tapi bagiku pria berusia 45 tahun masih tetap muda.
Dia sangat energik ayah, kalau ayah mengenal lebih dekat dengannya pasti ayah juga akan menyukainya.
Ayah jangan terkecoh dengan tato di seluruh tubuhnya atau janggut dan brewoknya yang panjang atau puluhan tindik di telinga dan hidungnya, karena jauh di dalam hatinya ia adalah orang baik.
Ia sangat sayang padaku, dan juga ayah dari anak di dalam kandunganku.
Istrinya tidak keberatan aku mendampinginya, karena istrinya sudah sibuk mengurus anaknya yang banyak.
Oh iya, ayah tidak usah khawatir tentang kehidupanku.
Ia menguasai penjualan ekstasi di kota, jadi uang sama sekali bukan masalah buat kehidupan kami.
Saya tahu ia sudah mengidap HIV sejak lama, tapi katanya dalam beberapa tahun ke depan obat penyakit AIDS akan ditemukan jadi aku tidak perlu khawatir bukan?

Ayah jangan bersedih karena aku bahagia.
Usiaku sudah 18 tahun ayah jadi aku bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku.

Tanpa sadar, air mata sang ayah menetes jatuh ke lembar surat itu.
Bagaimana mungkin anaknya yang lucu dan periang bisa menjadi seperti inii?
Lembar pertama surat pertama baru saja selesai dibacanya.

Tangan sang ayah bergetar, berat rasanya, tapi ia membuka lembar kedua surat itu.
Kali ini isinya jauh berbeda.

Ayah sayang,
Maaf, sebenarnya surat di halaman pertama tadi tidak benar-benar terjadi.
Saya hanya ingin menggambarkan betapa kemungkinan terburuk bisa terjadi pada anak-anak gadis, dan syukurlah aku tidak demikian.
Ayah bahagia bukan, kalau aku tetap bersama ayah?
Ayah bahagia bukan, akau tidak menghancurkan diriku seperti itu?
Tentu saja, mempunyai anak yang rapornya jelek, jauh lebih menguntungkan daripada mempunyai anak seperti itu.
Oh iya Ayah, raporku ada di dalam tas, nilainya jelek, maaf ya.
Silahkan ayah lihat, jangan lupa ditandatangani.
Besok guru ingin bicara dengan ayah tentang nilai raporku, jangan marah ya.
Kalau ayah tidak marah melihat nilai raporku, aku sedang bermain di rumah sebelah, aku tunggu yah?
Love you Daddy.

"Lucy....... ...!" John berteriak dan lari ke rumah tetangganya, ia akan mengitik habis anaknya yang 'keterlaluan' itu.

Lega rasanya hati John. Konyol tapi melegakan.
Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hati John justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya.
Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!

Humor dan Hikmah
terinspirasi dari sebuah blog inspiratif di dunia maya ini. tapi lupa sourcenya :(
Kali ini humor dan hikmah tulisannya tidak ditulis dijudul, biar gak bocor humornya.

Sebenarnya Lucy hanya ingin agar ayahnya tidak marah melihat rapornya yang buruk, untuk membuat masalah rapor buruk terlihat kecil ia membuat gambaran masalah besar yang mungkin terjadi sehingga masalah yang ada jadi terlihat kecil.

Ini sebenarnya adalah seni bersyukur dan seni berkomunikasi dengan diri.

Kalau Anda ingin bersyukur atas kesulitan yang kita terima maka kita sebaiknya membayangkan kesulitan lebih besar yang mungkin bisa kita alami. Dengan demikian kita bisa menghindari diri dari stres atau kegalauan yang berkepanjangan.

Masalah kekecewaan hati atau rasa tidak bersyukur biasanya tidak berhubungan dengan uang tapi lebih karena penerimaan hati.
Orang yang tidak bersyukur biasanya FOKUS PADA YANG TIDAK DIPUNYAI sedangkan ORANG BERSYUKUR FOKUS PADA YANG DIMILIKI.

Kita bisa melihat anak kampung bahagia main layang layang yang 1 set berharga tidak lebih dari Rp 5000.
Tapi anak orang kaya ngambek pada orang tuanya padahal baru dibelikan pesawat remore control seharga 5 juta. Kenapa? Karena anak kaya itu suka dengan yang model baru seharga 15 juta.

Ada anak kaya yang ngambek pada orang tuanya karena link internet putus satu hari karena lupa bayar bulanan, padahal ia sudah beruntung bisa mengakses internet selama 29 hari sebelumnya.

Memang apa yang dilakukan Lucy pada Ayahnya John agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentang bagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.

Ya, begitu banyak orang yang merasa kecil dan kurang puas dengan sesuatu yang telah didapat atau dimiliki. Tidak munafik sih, aku sendiri seringkali masih luput dari ungkapan syukur yang tulus. Terkadang masih saja mengutuk diri sendiri sebagai orang yang kurang dalam berbagai hal, sehingga berpotensi kearah kufur nikmat. Padahal kesempurnaan milik Alloh semata kan, ya..Astaghfirulloh, naudzubillah.. 
 
Dalam agama kita, bahkan sejak bangun tidur, kita dianjurkan untuk mengucap syukur:
“Alhamdulillahil ladzi ahyaana ba’da maa amaatana wailaihi nusyur”
artinya:
Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkan kembali setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya kami kembali

Kita harus selalu bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk membuka mata dan memulai hari dengan ceria. Kita harus bersyukur karena kita diberi kesehatan sehingga bisa menghirup oksigen dengan bebas dan gratis. Kita harus bersyukur mempunyai keluarga dan orang- orang yang menyayangi kita. Kita harus bersyukur karena setiap hari kita masih diberkahi dengan berbagai hal kecil yang membahagiakan.

Sangat penting bagi kita untuk terus mensyukuri nikmat yang kita dapatkan, sampai- sampai sejak beberapa bulan terakhir, aku sengaja memasang ringtone special di HPku, sebuah potongan dari lagu Jangan Menyerah karya Band D'masive yang kuharap dapat selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah kudapat :

"Syukuri apa yang adaa... hidup adalah anugerah.. tetap jalani hidup ini... melakukan yang terbaik..."

Rasanya tiap kali ada short message yang masuk, aku enggan untuk cepat- cepat pencet tombol HP sebelum alunan ringtone ini rampung. Haha

Pada intinya, jangan sampai kita lupa mengungkapkan rasa syukur kita pada Allah SWT. Tanpa bersyukur, kita tidak bisa melihat peluang dan potensi kita untuk terus maju dan berkembang. 
 
So.. sudahkah anda bersyukur hari ini??

My second world (anakku part 2)

Selasa, Lima Oktober 2010



Seperti biasa, hari Selasa anak- anakku udah ngumpul di teras rumah.

"Mba, mba Ikhaa, mba mba Ikhaaa....", panggil mereka bersahut- sahutan. 
Panggilan mereka itu udah seperti alarm bagiku, mengingatkanku untuk tetap ikhlas dan istiqomah mengamalkan ilmu yang kupunya agar bermanfaat bagi sekitar.
Setelah mematikan TV, aku berjalan menuju teras depan. Kudapati mereka yang sudah berdandan cantik- cantik dan ganteng. Sedangkan aku malah belum mandi, hehehe

Sebagaimana rutinitas, Si Phia dan si Lia segera menggelar karpet  untuk dipakai duduk bersama.

"Oke anak- anak, ayo berdoa dipimpin Atik", perintahku.

Tanpa mengulur waktu, Atik segera memimpin doa belajar diikuti olehku dan belasan anak yang duduk melingkar denganku:

“Robbi zidni ilman warzuqnii fahman” 
artinya: 
Ya Alloh, tambahkanlah ilmu pengetahuanku dan berilah aku kefahaman
  
"Siapa yang ngga datang hari ini?", tanyaku setelah mengamini doa sebelum belajar.

"Budi sama Abi, Bu", jawab Ayu yang sering latah memanggilku dengan sebutan Bu Guru. The word I've missed so much.

Kemudian setelah berdoa dan warming up, mereka belajar berkelompok sesuai kelasnya masing- masing. Mereka belajar dengan khidmat, sambil tetap aktif menanyakan kepadaku tentang materi pelajaran yang mereka tidak tahu.

___

Yah, FYI alias For Your Information, sejak bulan Agustus aku memang mengundurkan diri dari pekerjaan mulia memerankan guru cantik di almamaterku. Praktis, sejak bulan itu pula, aku sudah tak pernah lagi dipanggil "Miss Ikha" atau "Bu Guru Ikha". Meski sejak Agustus itu pula anak- anak dihadapanku ini datang menggeruduk rumahku, namun sesekali aku masih merindukan berada di dalam kelas dan memandangi satu persatu wajah polos yang duduk di kursi- kursi reot dan meja- meja tua itu. Aku benar- benar rindu mereka... murid-muridku di gedung sekolah tua itu.... memori tentang mereka tidak akan pernah hilang dari ingatanku, tentang keramaian mereka dikelas, kekompakan, keusilan, tangisan dan lain sebagainya.

Ah, mulanya memang aku mengundurkan diri menjadi guru honorer di sekolah dasar almamaterku karena aku berniat ingin fokus dengan skripsi, karena waktu itu Pak dosen bilang sekitar Agustus beliau balik ke tanah air.  Eh, ternyata beliau balik di tanah air cuma dua minggu doang, itu aja dalam rangka mudik lebaran, alhasil cuma bisa konsultasi sehari saja, setelah itu pak dosen hengkang lagi ke Luar Negeri. Yah, nasib...

Dan bagai mendapat petunjuk dari Allah agar aku terus mengamalkan ilmu, tiba- tiba saja beberapa tetangga mendatangi rumahku. Kala itu aku bengong aja, yang bener nih ibu- ibu dateng kerumah bareng- bareng, jangan- jangan mereka mau protes karena aku jarang ikut kegiatan kampung? Haha. 
 
Ternyata tebakanku salah, ibu- ibu yang datang itu dengan santun memintaku meluangkan waktu mengajari putra putri mereka tentang pelajaran sekolah. Meski dulu aku pernah juga didaulat menjadi guru TPA di kampung, tapi permohonan ibu- ibu itu membuatku terbelalak, sempat surprised juga sih, aku ini tipikal anak rumahan yang belakangan acuh terhadap lingkungan kampung, kok malah dipercaya mengajar anak- anak dikampung. Tapi surprisednya sebentar saja, karena aku langsung melontarkan deal hari- hari longgarku untuk putra putri mereka.

Alhasil, mulai saat persetujuan itu setiap Selasa dan Kamis belasan anak- anak menggeruduk rumahku, totalnya sekarang sudah 20 anak. Dari 20 anak tersebut ada yang masih duduk di kelas 1 sampai kelas 6 SD dan ada pula satu siswa kelas 1 SMP namanya Atik. Aku tidak sendirian saja mendampingi mereka, karena Ibundaku yang notabene adalah guru juga membantuku mengajari mereka tentang pelajaran yang sulit bagi mereka. Aku dan ibunda sepakat tidak menarik uang bayaran untuk kegiatan bimbingan belajar ini, yah, tidak perlu naive, mengingat di kampung ini kesejahteraan hidup masyarakat sangat kurang, orang tua dari anak- anak yang kuajar inipun rata- rata hanya bekerja sebagai buruh bangunan, buruh tani dan buruh jahit. Boro- boro buat bayar les, bisa membeli buku dan menyekolahkan anak- anak mereka saja sudah cukup. Fakta lain, di kampungku ini ada sekitar 60% anak drop out sekolah karena faktor ekonomi. Miris.

Aku, Ibunda dan Bapak serta adikku yang pemikirannya mulai kritis itu, kadang- kadang saling ngobrol tentang kemauan dan minat belajar anak- anak ini, sayang jika semangat mereka pupus hanya karena terpentok biaya. Lagipula kami yang menjadi saksi hidup perkembangan kampung ini seakan berkaca dan melihat cahaya baru di wajah anak- anak ini, kesadaran mereka tentang pentingnya pendidikan membuat kami berempat senantiasa menghela napas lega. Lega karena tiba- tiba saja kampung yang dulunya berstatus inpres desa tertinggal, sekarang sudah mulai tampak benih- benih kemajuannya. Sekedar info juga nih, bahkan sebagai salah satu bukti ketertinggalan masa lampau, sekolah dasar di kampung sini sampai sekarang masih sering disebut SD inpres. Padahal, kalau sampai sekarang orang- orang masih menyebutnya SD inpres sebenarnya itu salah, karena sejak beberapa tahun yang lalu, sekolah ini sudah diresmikan dan diganti nama menjadi SD WARU II. Yah, begitulah kadang- kadang, orang kampung sering latah dan sering missundertand. hehe

Kini anak- anak itu menjadi bagian lain di salah satu jalan di hidupku. Meski aku belum mampu menyediakan fasilitas penunjang belajar lain selain selembar karpet  untuk duduk dan buku bersampul kuning untuk mengerjakan latihan, tapi aku tetap berusaha mempertahankan semangatku juga. Semangat berbuat baik untuk sesama.  Semoga Allah SWT selalu memberi jalan untuk kebaikan. Amin Ya Rabbal Alamin :)


NB : Aku sengaja memberikan mereka buku kuning, sama seperti ketika aku mengajar siswa baru di sekolah lama. Semoga dengan buku kuning pemberianku, mereka akan terpacu semangat belajarnya :)

Oya, ayo tebak dari gambar diatas, aku pake baju apa hayoo... hehehe