30.7.10

My Amazing Life

My Amazing Yellow Life


Hari kemarin saya mendapat undangan pernikahan salah satu teman SPG yang selama ini masih berhubungan dengan baik dengan saya. Yah, meskipun sudah setahun lebih saya meninggalkan 'dunia ceria' itu, tapi kenangan menjadi bagian yang hidup di dunia itu menjadi  sesuatu yang 'tak pernah terlupakan' bagi saya. Saya banyak menemukan hal - hal baru yang diluar bayangan saya sebelumnya. Saya banyak menemukan cerita atau kisah yang 'menjebak', membuat saya berdecak dan ternganga. 

Kala itu, bekerja atau bermain atau bahkan belajar, saya hampir tak bisa membedakan. Ya. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan setelah menyelami 'dunia ceria' itu. Banyak cerita menginspirasi yang mendewasakan hidup saya. Meskipun secara personal saya hanya mengenal dekat beberapa gelintir teman SPG, tapi mereka cukup mewakili perbedaan yang membuat hidup saya penuh warna.  Diversiti yang berhasil membuka mata saya yang selama ini buta. Dimensi yang pantulannya memberi sinar, sehingga saya bisa keluar dari kegelapan tempurung hidup saya sebelumnya.

Saya memutuskan keluar dari pintu 'dunia ceria' itu sudah lebih dari setahun yang lalu.  Alasan saya cukup simpel, saya ingin lebih fokus ke dunia perkuliahan saya, alasan lain, seseorang yang kemudian saya sebut sebagai kekasih saya itu yang menyarankan saya untuk segera bangun dan menatap kearah dunia luar yang katanya lebih valuable dibanding 'dunia ceria' yang saya maksud sebelumnya. Meskipun awalnya sangat sulit, karena.. yah, terus terang saya sudah merasakan nikmatnya hidup mandiri berkat 'dunia ceria' itu. Saya bisa membayar semua kebutuhan hidup saya, saya bisa memberikan sedikit kepada yang membutuhkan, bahkan saya bisa membuka rekening dan menjaga konsistensi menabung! Tapi keputusan saya sudah bulat, sehingga kemudian saya benar- benar pensiun, dan siap berhenti mengeruk financial dari dunia tersebut.

Sejak saat itu saya memulai hidup saya dengan sesuatu yang baru, yang menurut saya lebih valuable dan tak kalah memberi kesan dalam hidup saya. Guru honorer. Yah, dunia saya ini  kemudian saya namakan 'dunia bahagia'. Alasannya, setelah menjadi tenaga pengajar dengan honor yang bisa dibilang 'jauh dari layak' itu, bukannya hidup saya menjadi 'melemah' seperti saya pikir sebelumnya, karena saya pikir saya akan jadi 'miskin' dan 'kembali bergantung' pada orangtua saya. tapi sebaliknya, saya justru menjadi sangat bahagia. Bahagia bisa berasal dari mana saja, bukan hanya dari jumlah financial semata. Yah, meskipun tidak munafik, financial sangat influential dalam pencapaian bahagia hidup. Tapi sepertinya istilah 'dunia bahagia' memang yang paling pantas untuk menyebut kebahagiaan yang saya dapatkan selama saya menjadi sukarelawan di almamater saya. Baik secara financial, maupun secara spiritual.

Secara financial, entah kenapa, ada saja rejeki yang saya terima diluar honor mengajar. Tak tanggung- tanggung, rejeki yang saya terima itu bahkan nominalnya lebih besar beberapa kali lipat dari honor yang saya terima perbulan. Ada saja sumbernya, yang pastinya halal.. beberapa contoh, tiba-tiba beberapa tawaran job translate berdatangan -cukup riskan bahkan saya dipercaya mentranslate versi Inggris summary disertasi ibunda mas Bayu yang -alhamdulillah- sekarang telah mendapat gelar doktoral tersebut, tak berhenti sampai disitu, tiba- tiba beberapa tulisan saya terdahulu 'dihargai' dan jerih payah saya beberapa tahun lalu tiba-tiba kembali 'dibayar'. Saya hampir tak pernah membayangkan akan mendapat banyak berkah dari 'dunia bahagia' saya ini.  Dan tentu saja saya selalu bersyukur kepada Alloh SWT atas limpahan rejekiNYA kepada saya.  Alhamdulillah..

Secara spiritual, saya sendiri merasakan hidup saya banyak berubah. Rasanya jiwa dan hati ini menjadi tentram. Sepertinya bukan hanya saya yang merasakan perubahan dalam diri saya, banyak teman saya yang merasakan saya telah reinkarnasi- dari saya yang semula 'cengengesan' dan 'ra gagasan' alias cuek bebek, berubah menjadi seseorang yang sering mengirim pesan singkat 'i miss you, buddies' atau sekadar menanyakan kabar mereka. Efeknya luar biasa bagi saya, karena respon teman- teman saya sangat menggembirakan dan tentu saja saling menyemangati. Tidak hanya sampai disitu, kemudian banyak yang tiba- tiba mempercayai saya mendengarkan keluh kesah mereka. Tentang kisah asmara mereka, tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang hidup mereka pribadi, dan banyak hal. Yah, saya memang bukan psikolog yang bisa memberikan solusi terbaik untuk setiap masalah yang mereka curhatkan kepada saya, disisi lain, saya hanya manusia biasa yang hanya bermodal dua lubang telinga saya untuk mendengar semua keluh kesah mereka.  Saya juga punya naluri dan perasaan yang biasa saja, sehingga kadang saya tak memberi solusi baik, tapi hanya memberi mereka semangat untuk bangkit. Bagi saya semua yang mereka ceritakan kepada saya adalah sebuah kejujuran dan kepercayaan, sehingga saya tak akan menganggap remeh curhatan mereka - insyaallah-. Selain saya memberi sedikit unek- unek saya -yang kadang  gila- saya juga mendoakan mereka, agar mereka selalu diberi kemudahan  serta dilimpahi kebahagiaan dalam hidup mereka, just like me. yea, the best for you all my friends, my family, Amin ya robbal alamin...

Saya rasa postingan saya kali ini benar- benar tak beraturan, tapi saya harap ini bisa jadi refleski bagi saya pribadi, untuk menjadi lebih BAIK kedepannya. Ya, saya mencintai hidup saya, saya menghargai setiap moment dan adegan yang terjadi didalamnya. Saya ingin selalu menjadi lebih BAIK, dalam hal apapun. Saya ingin menjadi seseorang yang bahagia dan membahagiakan. Saya tidak ingin berhenti sampai detik ini. YES, I am a lovable maiden wanna be- as always. 

Banyak hal dalam hidup yang ternyata hikmahya baru kita tahu setelah hidup itu sendiri berjalan. Hidup saya memang sederhana, tapi saya selalu melihatnya dengan sudut pandang saya, sehingga saya menemukan titik yang kemudian menyadarkan saya bahwa saya harus selalu bersyukur karena ternyata hidup saya LUAR BIASA indah. Terimakasih Tuhan, atas hidup yang sangat indah :)





Diary of an ordinary
Sebuah perenungan penutup bulan Juli

30/07/2010

Ikha Oktavianti

27.7.10

malming with 'NEW FAMILY' :)

Sabtu, 24 Juli 2010

Sore, pukul 04:40 HP ku berdering. Satu pesan singkat berhasil masuk inbox. Kubuka, ternyata dari Bapaknya mas Bayu. Kubaca, isinya mengajakku makan malam sambil ngomong- ngomong. Hmm.. ngomong- ngomong? Ngomong apa ya? bikin penasaran aja nih..

Setelah kudiskusikan sama mas Bayu lewat sms, dan mengurus perijinan pada Ibu, akhirnya kubalas juga dengan kalimat persetujuan. 

Lagi- lagi, ini bukan pertemuan yang pertama dengan keluarga mas Bayu. Tapi tetap saja ada rasa deg-degan. Deg- degan karena akan bertemu dengan keluarga yang dahsyat. Ya, keluarga kekasihku memang keluarga yang luar biasa dahsyat :)

Malamnya, sepulang dari kuliah magister, mas Bayu langsung jemput aku di gubukku yang mewah (mepet sawah). Sekitar pukul 7:30 kami berdua bertolak menuju kediaman orang tua Mas Bayu di Serangan, Colomadu, Karanganyar.

Seperti biasa, sesampai disana kami berdua disambut hangat dengan senyuman. Setelah basa- basi, akhirnya kuketahui bahwa malam ini temanya adalah wedding anniversary, jadi usia pernikahan Ibu dan Bapaknya mas Bayu tahun ini sudah genap 26 tahun. Happy anniversary untuk Bapak Ibu Sutomo :)

Kemudian mengingat malam sudah semakin larut, tanpa menunggu lama, kami berempat (aku dan mas Bayu, serta Bapak dan Ibunya) berangkat menyusuri kota Solo, mencari rumah makan yang manarik untuk dikunjungi. Berbagai pilihan destinasi dirembug bareng di dalam mobil, sampai akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di sebuah Restoran di daerah Jagalan, Surakarta. Namanya Restoran Permata Hijau. 

Permata Hijau Resto

Permata Hijau Resto terletak di Jalan Surya, no. 101, Jagalan, Solo. Tempatnya cozy, cocok untuk dipakai meeting outdoor, nongkrong sama kawan, kumpul keluarga, atau sekadar berhaha-hihi dengan sang pacar. Disini banyak disediakan pilihan tema tempat duduk, ada yang dibuat berjajar mirip warung makan pinggiran, ada yang dibuat ala cafe, ada pula yang dibuat seperti nuansa pinggir pantai. Dan kami memilih tema yang terakhir, nuansa pinggir pantai. Aku bilang nuansanya seperti dipinggir pantai,  karena kaki ini benar- benar menginjak pasir, dan rambut ini benar- benar dibelai sepoi angin. Konsep dan  positioning yang keren ditambah panggung lengkap dengan show organ tunggal sederhana  praktis menyulap resto ini menjadi kian romantis. 


Panggung sederhana lengkap dengan organ tunggal





Bertiga sama orangtua mas Bayu, orangtua dahsyat!

Resto ini berusaha mengemas diri dengan tampilan yang sedemikian maksimal.  Selain itu juga terlihat berusaha merangkul target market dari berbagai tingkat usia. Lihat saja, beberapa gambar dibawah, di resto ini juga disediakan taman air untuk tempat bermain anak dilengkapi dekorasi patung- patung lucu yang tentu saja akan membuat anak betah berlama bermain disini. 

Taman air tempat bermain anak




Patung- patung kurcaci


Menu yang disediakan pun bermacam - macam, mulai dari yang sederhana seperti nasi goreng, cap jay, kulit goreng, hingga soup Singapura, dsb. Aku sendiri memesan soup ayam jamur, yang ternyata rasanya agak aneh di lidah Jawaku, tapi kata kekasihku, rasa seperti itu biasa, karena masakan yang kupesan adalah masakan China.  Bandrol harganya pun cukup bersaing, mulai dari 7,500. Sebagai informasi tambahan, cara pesan pun dibuat dual serve, bisa pesan langsung, ambil langsung untuk makanan yang siap saji, persis kalau kita beli di hik, tapi disini tempatnya bersih dan makanannya pilihan lho ya, jadi jangan kaget kalau harganya juga menyesuaikan pelayanan. Cara pesan yang kedua adalah dengan memanggil pelayan, sama seperti ketika kita makan di restoran lain. Dan malam itu kami memilih cara pesan yang nomer dua. 

Sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol banyak hal, yah, jarak antara waktu memesan dengan waktu antar pesanan ke meja kami memang cukup lama. Sehingga banyak sekali obrolan seru yang akhirnya membumbui malam. Belum lagi backsound dari  suara renyah penyanyi serta iringan organ tunggal semakin membuat suasana malam ini menjadi semakin larut dan berkesan. 

Acara makan malam di Permata Hijau Resto selesai pukul 11.00. WOW, sekali lagi, kami sangat puas mengobrolkan berbagai topikan. And for that GREAT MOMENT i'd like to say THANK again for my Hanii, mas Bayu, and family, Ibu Yunastiti dan Bapak Sutomo. Semoga dengan bertambahnya usia pernikahan, keluarga menjadi semakin harmonis, hangat, dan tentu saja dilimpahi barokah.. Amiinnn ya robbal alamin :)

Senyum malu- maluku :)


Bertiga

Kekasih dari belakang

 P.S : Sebelum diantar pulang, aku kembali dihibah oleh ibunda mas Bayu, beberapa tas lucu dan pernak- pernik cewe, ada kalung, cepit , bros dan berbagai hiasan dari manik- manik yang menarik.. yah, memang aku harus selalu bersyukur kepada Alloh SWT, karena telah diperkenalkan dengan keluarga dahsyat ini. Alhamdulillah :)





diary of an ordinary

24 Juli 2010

Ikha Oktavianti

 

26.7.10

Buku Kuning

Rabu, 21 Juli 2010

Langit masih membiru, mentari masih malu- malu, dan seperti biasa, semangatku masih jauh dari layu. Masih dengan suasana pagi yang sering kudeskripsikan dalam potongan timeline hidupku. Aku kembali hadir menjalani peran menjadi seorang pengajar yang masih selalu belajar. Belajar pada alam, belajar pada keadaan, belajar pada kesalahan, serta belajar pada malaikat- malaikat kecil yang selama tiga hari dalam seminggu selalu kutemui itu.

Sehari sebelum hari ini, aku sudah mempersiapkan agenda mengisi kelas. Kelas kecil. Bukan, bukan luasnya yang kecil, tapi jumlah jiwa yang mengisinya tiap pagi sampai siang itu yang kecil, alias sedikit. Hanya lima belas jiwa saja ditambah aku atau kadang guru lain yang mengisi, jadi hanya enam belas jiwa. Ya, enambelas persis kalau semua jiwa periang itu datang. Karena sering sekali kelas menjadi benar- benar sepi gara- gara dua sampai tiga siswa absen. Tidak masuk karena sakit, karena keperluan keluarga, atau mungkin karena kondisi psikologis mereka masih labil, jadi berangkat sekolah masih sesuai hasrat dan syarat. 

Setibanya di dalam kelas, aku menghitung jumlah sang periang yang hadir. Satu, dua, tiga.... dua belas. Hm, jadi hari ini aku akan melewati kelas tanpa senyum tiga periang. Nanda, Anas, dan Atikah..

Setelah menghitung, aku mengangguk sebagai kode, menyilakan sang ketua kelas memimpin doa. Dengan cekatan Wildan berdiri, lalu mengomando seisi kelas dengan lantang. Suasana kelas menjadi hening dan khidmat, hanya suara sang pemimpin melantunkan doa belajar. 

Aku mendengar ketukan pintu sedetik setelah Wildan menyelesaikan komandonya. Aku  bergegas membuka pintu. Kudapati satu lagi senyum sang periang di depan pintu kelas. Tahi lalat di alisnya memberi ciri sendiri selain matanya yang sipit itu. Anas. Ya, Anas akhirnya mau datang ke sekolah setelah Bapaknya bersedia memenuhi seabrek syarat yang diajukannya. Salah satu syarat mengharuskan Bapaknya menungguinya di depan kelas. Itu masih mending, kemarin dan beberapa minggu pertama ajaran baru, periang yang matanya sipit ini mensyaratkan semeja dengan Bapaknya. Sungguh pemandangan menggelikan karena setiap hari ada siswa usia dewasa di dalam kelas.

Tanpa menunggu perintah, Anas segera mencium tanganku. Peraturan tak tertulis yang tak pernah dilanggar. Anas kemudian masuk ruang kelas dan duduk di kursi pojok. Sepertinya dia sudah merasa cocok dengan kursi yang sedikit reot itu. Setiap kali dia bergerak, kursi itu akan berdecit dan ia menyukai suara decitan itu. Dulu aku sudah menyuruhnya duduk di kursi lain, tapi tetap saja dianggapnya tidak memenuhi syarat, sehingga ia kembali ke pojok, kembali pada kursi reot.

Hari ini aku membagikan buku yang kusebut buku kuning. Disebut demikian karena memang warnanya kuning. Sebagai bocoran, kuning adalah warna favoritku. Bukan kebetulan, karena memang aku sengaja menyetujui keinginan personal dengan memilih sampul berwarna kuning untuk membungkus buku bergaris itu. Ah, tenang saja, tidak akan ada yang protes, karena buku kuning itu ikhlas kubelikan untuk mereka dengan tabungan pribadiku. Harapanku, buku itu bisa digunakan oleh sang periang untuk mencatat pelajaran Bahasa Inggris sampai kelas berikutnya. Catatan dari kelas yang lalu akan sangat membantu, mengingat Bahasa Inggris adalah pelajaran yang dinamis. 

Satu persatu, sang periang melangkah ke depan kelas setelah berhasil berhitung dalam Bahasa Inggris. One, two, three... dan inilah wajah- wajah sang periang setelah berhasil menyebutkan angka satu sampai sepuluh. 


Senyum sang periang dengan buku kuning di tangan :)

Buku Kuning :)




-to be continue

diary of an ordinary

21/07/2010

Ikha Oktavianti

23.7.10

Soundtrack of the day

Jumat, 23 Juli 2010

Mungkin ini backsound yang paling cocok untuk kita hari ini. Yah, just take it slow...

Kadang kita hanya perlu sedikit menganggap mudah semua masalah rumit yang ada di depan kita.  Apalagi masalah duniawi. Meskipun sulit. 

Kita perlu sebentar berhenti berlari jika memang kaki sudah terasa berat. Kita perlu  sebentar saja terdiam saat hidup terus memaksa kita berteriak. Kita perlu sebentar saja memejamkan mata saat hidup terus memaksa kita terjaga. Kita perlu sebentar saja menangis kencang untuk air mata yang selama ini kita simpan dalam-dalam.

Yah, kita hanya manusia biasa...we just ordinary people. Kita engga bisa mengelak bahwa kita punya rasa lelah, rasa penat, dan yang kita butuhkan saat itu hanya ingin istirahat.  

Kita harus meluangkan sedikit menit dari 24 jam yang kita punya untuk relax dari semua aturan baku yang selama ini kita terapkan dalam hidup kita. Kita hanya butuh relax.. just take it slow...




ORDINARY PEOPLE (TAKE IT SLOW) 
by John Legend


[Verse 1]

Girl im in love with you
This ain't the honeymoon
Past the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday

[Bridge]

I know i misbehaved
And you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow


[Chorus]

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

 

[Verse 2]

This ain't a movie no
No fairy tale conclusion ya'll
It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss and we make up on the way

[Bridge]

I hang up you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I Still want you to stay

[Chorus]

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 3]

Take it slow
Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave,
maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby youuuu and I

[Chorus]

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Heyyy)
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow




source : LIRICSTOP


diary of an ordinary
ini hanya sebuah lagu, bukan keluhan
aku hanya ingin jujur
aku hanya terlalu lelah
maaf bila kau tak bisa terima
maaf, hanya itu yang bisa
maaf...

IKHA OKTAVIANTI

23/07/2010

22.7.10

Pak Uwo in Memoriam (2 tahun sepeninggal beliau)

Kamis, 22 Juli 2010


Almarhum Pak Uwo


Kala itu tubuhmu masih tampak kekar, meski beberapa keriput sudah mulai nampak samar, namun tenagamu masih rosa. Setiap siang datang menjelang, kau menggiring kambing- kambingmu ke ladang kering di desa selatan. Sementara kambing- kambing itu merumput, kau babat ilalang yang menghalangi galengan. Kau tak pernah mengeluh, meski tubuh sudah membanjir peluh. 

Kau sebentar saja pulang, tepat saat tiba waktuku kembali dari menimba ilmu. Kau menjemputku dengan senyummu. Lalu serta merta mengajakku kembali ke ladang. Kau senantiasa menggendongku saat menyeberang sungai yang ketika itu airnya masih mengalir jernih dan segar. Selalu setelah itu, kau perlihatkan kepadaku kambing- kambing yang kau umbar di rerumputan. Kau pamerkan beberapa betina yang sudah hamil dan beberapa pejantan yang gemuk. Lalu kau menyuruhku menebak berapa jumlah anak yang akan terlahir dari betinanya. Sementara aku selalu menjawabnya dengan angka besar, tapi kau selalu menjawabnya sendiri sesuai dengan jumlah cucumu. Katamu, agar bila anak- anak kambing itu lahir, kau bisa membagikannya kepada mereka dengan adil dan bijaksana. Sifat yang selalu melekat di dalam dirimu.   

Kau pria yang engga banyak cakap. Kau begitu sabar. Hampir tak pernah kulihat setitik amarah di wajahmu. Kau sangat murah senyum. Bahkan, ketika aku mulai nakal karena diam- diam berani menunggangi salah satu kambing yang kau sayangi itu. Kambing itu kemudian lari tunggang langgang, menyeret tubuh kecilku jatuh di ladang. Kala itu aku benar- benar takut. Takut kau akan memarahiku. Namun tidak, kau malah secepat kilat menyabet kambing kesayanganmu itu dengan pecut yang selalu kau genggam. Kau menolongku. Kau membersihkan luka lecet akibat terseret- seret. Dan ketika mataku mulai berkaca- kaca karena kesakitan, kau segera melancarkan aksi jenakamu. Kau lantunkan tembang mocopat yang kau gandrungi itu. Kau usulkan beberapa parikan* yang hingga kini selalu terkenang di sebagian otakku.

Pitik walik sobo kebon.    (nanas!)

Sego sekepel dirubung tinggi.  (salak!)

Mbok e njahit, bapak e ngrokok, anakke nangis wae.  (sepur!)

Mbok e dielus- elus, anakke di idak-idak.  (ondo!)

Pakboletus.    (tipak kebo enek lele ne satus)

Jangan heran aku selalu semangat menjawab parikan yang kau tanyakan itu, dan aku selalu benar menjawabnya. Itu bukan kebetulan aku pintar, tapi karena kau selalu mengulangnya, kau sengaja sebutkan puluhan parikan yang sama. Kau selalu berhasil menyeka air mataku, tepat saat mereka  belum mengalir dari kelopak mataku. 

Kau pribadi yang hangat, benar- benar membuat siapa saja menjadi dekat. Kau sangat lekat dengan istri, anak dan cucu-cucumu. Kau selalu membuat kami semua berkumpul disana saat kau ingin memberi wejanganmu. Kau kumpulkan anak- cucumu di pelataran rumah, hanya beralaskan tikar usang, menatap bintang dan temaram bulan purnama. Kau hebat, kau membuat kebersamaan yang sederhana itu menjadi kebersamaan luar biasa dahsyat..

Kau tak pernah mengeluh, hingga usiamu semakin renta. Bahkan sampai penyakit itu menggerogoti ginjalmu. Hingga hari terus berganti, dan kau tak pernah mau merepotkan orang lain. Kau tetap diam, melawan pesakitanmu itu seorang diri. Sampai waktu itu, kau benar- benar tak kuasa lagi, kau jatuh tersungkur di kamar mandi. Tiada yang tahu menahu bagaimana kronologi kejadiannya. Yang jelas, sejak saat itu kedua kakimu tiada bisa menopang tubuhmu lagi. 

Hari- hari kau lalui bersama istrimu di rumah tua itu, namun, anak berikut cucu-cucumu selalu bergantian mengunjungimu, membantumu mandi, membersihkan rumahmu, menyuapimu, dan membantu perihal lain yang sudah tak mampu kau lakukan lagi.  Tubuhmu selalu terbaring diatas ranjang tua dengan kasur warna kusam yang sudah mulai mengeras itu. Tapi anehnya, selama itu, kau sama sekali tak pernah mengaduh, bahkan saat bidan desa menorehkan cairan revanol ke luka lecetmu. 

Hingga malam itu mungkin adalah puncak ketidakberdayaanmu. Kau muntahkan semua makanan yang terakhir disuapkan ke mulutmu. Wajahmu pucat, sangat pucat. Tubuhmu menggigil, sangat dingin. Kau berucap dalam lirihmu, kau ingin pergi ke tempat indah yang kau inginkan sejak dulu. Spontan, aku dan semua yang menyayangimu  kalang kabut. Pikiran kami semrawut. Tak menunggu lama setelah bantuan datang, kami segera mengangkat tubuh rentamu ke atas bagian belakang mobil pick-up pinjaman tetangga. Kami melarikanmu ke Puskesmas terdekat dengan tubuhmu yang tergolek lemas di bak mobil terbuka. 

Hingga saat ini, mataku terus menetes bila memoriku berputar mengingat kejadian malam itu. Aku dan semua yang menyayangimu sungguh tak bermaksud jahat padamu, atau pada tubuh tua yang kami biarkan kedinginan diterpa angin malam. Hanya saja, kala itu kami belum punya sarana angkut selain sepeda motor, dan mobil pick up itu satu- satunya sarana angkut yang kami dapatkan, itupun atas kebaikan hati salah satu tetangga. Kami sungguh tak berniat menyiksamu yang sudah disesaki luka. Kami hanya mengusahakan kau segera ditangani seorang yang ahli : Dokter.

Dengan kecepatan maksimal mengemudi, sepuluh menit, mobil pick up pinjaman itu sampai ke Puskesmas kecamatan. Tubuhmu segera digeledek menuju ruang darurat, bukan ICCU, karena di Puskesmas ini semua peralatan kedokteran masih sangat sederhana. 

Beberapa menit seorang perempuan ber-jas putih keluar dari ruang darurat. Semua pandangan mata menuju kearahnya. Dari bordir nama yang menempel di jas-nya, aku memastikan perempuan ini bukan dokter. Benar saja, perempuan yang tiba- tiba menjadi pusat perhatian itu memang bukan dokter, dia hanya perawat jaga yang kebetulan didaulat menanganimu. 

Perempuan ber-jas putih itu kemudian menyatakan kondisimu yang parah dengan segala hasil analisa yang dia kemukakan. Diapun mengaku tak bisa memberi banyak pertolongan secara langsung pada tubuh rentamu, hanya menyuntikkan suntikan penenang.  Kemudian kulihat tubuhmu digeledek keluar dari ruang darurat. Masih sangat lemas, sangat tak berdaya. Kemudian  setelah itu, perawat jaga memberi secarik kertas rujukan ke salah satu Rumah Sakit Umum Swasta di Surakarta, yang katanya lebih kaya akan peralatan kedokteran. 

Tanpa banyak menghabiskan kata, kami segera mengangkat tubuhmu kembali ke atas bak mobil terbuka. Kami jelas tak mau banyak kehilangan waktu. Tapi di saat kami genting seperti itu, justru mulutmu terbuka, seperti hendak berbicara. Lalu kami memutuskan untuk mendengar suara lirih dan gerakan bibirmu. Lagi- lagi, dengan isyarat bibir dan suara lirihmu malam itu, kau menyuruh kami yang menyayangimu ini kembali menuju rumah. Kau menyuruh kami membawa tubuh tuamu itu pulang ke rumah.

Sebenarnya kami tak sampai hati, ya benar, dari dalam hati,  kami semua ingin membawamu ke Rumah Sakit rujukan yang dimaksud oleh perempuan ber-jas putih yang mengaku sebagai perawat jaga tadi. Namun, di sisi lain, kami tak mau menjadi durhaka hanya karena tak mau mengabulkan permintaanmu malam itu. Akhirnya kami yang menyayangimu ini sepakat membawa tubuh tuamu pulang, dengan catatan kami akan carikan dokter  yang bersedia merawatmu secara home caring. Sehingga secara berkala dokter itu akan dijadwalkan  secara rutin berkunjung kerumah kecilmu untuk berkenan memeriksa dan menjaga kesehatanmu.

Sesampai di rumahmu, aku dan semua yang menyayangimu berbagi tugas. Yang lain mencari dokter, sementara aku menungguimu. Memandang kedua matamu yang di kulit bagian bawahnya mengantung, dan memegangi telapak tanganmu yang sudah sangat dingin. Berada didekatmu sungguh sesuatu yang selalu kurindukan sampai detik ini. 

Malam itu, selain terpaku memandang wajahmu yang semakin sayu itu, aku dan mereka yang menyayangimu bersama- sama melantunkan kalimat - kalimat Alloh. Kalimat suci yang kami harapkan bisa mengurangi beban pesakitanmu. Aku yakin, saat mendengarkan lantunan ayat suci kala itu, bibirmu terus bergumam menirukan. Meskipun terdengar sangat payah, tapi kau terus berusaha. 

Tapi semuanya terasa sangat cepat. Hingga sang ajal itu datang, dia menjemputmu menuju rumah indah yang selama ini kau inginkan. Kalimat Alloh yang kau dan kami lantunkan seakan menjadi kendara dalam usahamu mencapai kesana. Malam itu tepat pukul 10 , hari Selasa Wage, tanggal 19 Agustus 2008, dalam usiamu yang ke 82,  kau pergi kesana untuk selamanya. 

Semua tak mengira, kau akan pergi secepat ini menuju rumah indah yang kau maksud itu. Kau tampak ikhlas meninggalkan jasadmu yang selalu berhias senyum itu. Kau meninggalkan aku dan mereka yang menyayangimu dalam keharuan yang begitu dalam, meninggalkan kami dalam tangisan kehilangan. 



**
Berdasarkan perhitungan Jawa, persis malam ini, 21 Juli 2010, tepat 2 tahun kau meninggalkan aku dan mereka yang menyayangimu dalam perjalananmu menuju rumah indahmu itu. Dari rumahku ini, baru saja selesai terdengar lantunan ayat- ayat Alloh yang senantiasa mengenang 2 tahun kepergianmu. Semoga Alloh SWT menerima amal ibadahmu selama didunia. Semoga Alloh SWT memberikan rumah terindah yang sejak dulu kau inginkan. Amin ya Robbal alamin....

Pukul 23.15 malam, sepulang dari makam yang nisannya bertuliskan namamu, laptop kembali kugelar, jemariku kembali mementaskan tarian. Seperti biasa, masih diatas panggung yang berkotak- kotak penuh aksara : keyboard. Dan disinari backlight dari screen light. Kutulis kau dan sedikit dari banyak kebaikanmu disini, sebagai lembaran kisah yang akan selalu abadi.



LOVE U, grand pa..

LOVE U, Pak Uwo...


Makam Pak Uwo





Nisan Pak Uwo (Alm. Sumali Pawirorejo)


P.S :

* Galengan : gundukan tanah sebagai pemisah antara dua sawah, biasanya dipakai untuk berjalan para tani.


*  Parikan : tebakan Jawa

Pitik walik sobo kebon => NANAS

indonesia:

bentuknya seperti ayam yang terbalik, sering ditemui di kebun => NANAS







Diary of an ordinary

Pak Uwo in Memorian

mulai pentas : (23.15 ) 22 Juli 2010 s/d 23 Juli 2010 (dini hari)

Ikha Oktavianti



20.7.10

Cooking Academy

Jumat, 16 Juli 2010

Finally, setelah cukup lama engga arisan bareng, kita -para BIDADARI SASING- berkumpul kembali dalam acara temu kangen. Bertempat di istana Nyonya Novika Trisky Hardika di Punggawan, Surakarta, acara ini berlangsung sangat meriah.

Di jaman emansipasi seperti sekarang ini, para wanita dituntut untuk bisa menjadi 'WANITA NGABEHI'. Istilah ngabehi itu sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih adalah BISA MENJADI SEGALANYA. 

Untuk bisa menjadi 'WANITA NGABEHI', seorang wanita harus cerdas membagi peran dalam pekerjaan dan keluarga. Meskipun adat sudah mengijinkan wanita mengejar achievement yang selama ini dimimpikannya, tapi disisi lain, wanita tidak boleh lupa akan kewajiban utamanya dalam kehidupan keluarga (rumah tangga). Sebagai istri yang baik untuk suami sekaligus sebagai ibu yang baik untuk anak- anak. Berangkat dari sebuah keinginan untuk melatih diri menjadi 'WANITA NGABEHI' , akhirnya dipilihlah tema yang tepat untuk acara temu kangen hari ini.  Lain dari pertemuan terdahulu, pertemuan kali ini berlabel 'COOKING ACADEMY'. Dengan tema tersebut diatas, diharapkan kita -Bidadari SASING- bisa berlatih salah satu syarat berperan menjadi seorang istri dan ibu yang baik : MEMASAK.

Rombongan ibu dan calon ibu rumah tangga yang hadir pada pertemuan hari ini adalah : 
1. Novika Trisky H.
2. Ikha Oktavianti
3. Ata Muftihah
4. Tri SetyaRini
5. Endah Budi K.
6. Chandra Septiana
7. Anita Rusjayanti
8. Farida Keni

Pada pertemuan kali ini, kita memasak SPAGHETY, berikut sedikit informasi yang bisa dibagi mengenai resep memasak SPAGHETY :

Bahan- bahan :

1 bungkus spaghetyLa Fonte 250 gram



1/4 kg daging ayam direbus 
(air kaldu sisa rebusan daging nantinya digunakan sebagai kuah)



2 buah tomat segar


1 sachet susu putih kental manis yang diencerkan



3 buah sosis sapi



3 sdm mentega 


saus tomat dan saus pedas manis 



 
Bumbu- bumbu :

2 siung bawang bombay (diiris tipis)
3 siung bawang putih (dikeprek)
1 maggie kaldu block
1 butir pala (dihaluskan)
1 sdm merica (dihaluskan)
garam secukupnya
gula pasir secukupnya

Cara memasak :

1. Rebus spaghety La Fonte sampai lunak. Lalu tiriskan.




2. Lelehkan mentega di panci 

 

3. Tumis bumbu-bumbu yang telah disiapkan.
  

4. Masukkan tomat yang sudah dipotong dadu



5. Masukkan irisan sosis beserta saos tomat secukupnya.



6. Tuangkan susu yang sudah diencerkan.



7. Tuangkan kuah kaldu dan maggie kaldu block




8. Langkah terakhir, masukkan spaghety yang sudah ditiriskan beserta daging ayam yang sudah dipotong dadu.



* Untuk 10 porsi

Dokumentasi lain :
 

inilah proses dan hasil memasak kami :)


menu lain : PECEL

pencuci mulut : LOTIS


Semangka  :)


Secara individu dan kelompok :)
 

 
calon 'WANITA NGABEHI'




diary of an ordinary

Ikha Oktavianti


19.7.10

Lelaki Kecil di Taman Kelas (Kerinduan Dani)


Kamis, 15 Juli 2010

Seperti biasanya, kisahku selalu dimulai sejak sang fajar terbangun dari peraduan. Jua seperti hari sebelumnya,  semua berawal sejak pagi menjelang.
 
Aku berangkat menuju tempat dimana aku sedikit mulai berani menggantungkan harapan masa depan generasi bangsa: Sekolah. Menyusuri jejalanan sunyi yang belum terjamah sampah kendara. Berselancar diatas skutermatik yang  kurasa suara mesinnya lebih ramah daripada suara hatiku sendiri. Jalanan masih melengang sepi. Hanya kulihat beberapa tani menggiring kerbau- kerbau kurus turun ke sawah mereka. Satu dua kicau burung gereja bersahutan. Kabut tipis sengaja kutepis. Udara dingin membelai ragaku hingga kaku. Aku  sangat akrab dengan kehidupan pagi desa kecilku ini.
 
Hanya dalam hitungan dua puluh menit bersama jalanan beraspal dibelai angin yang sembirit, akhirnya aku menjangkau sektor desa proyek tertunda. Sepuluh menit menuju pukul tujuh, aku memasuki gerbang sekolah tua yang bukan hanya warna catnya saja telah memudar, tapi tetumbuhan di halaman tampak layu tak berkembang. 

Aku menyandarkan skutermatik di parkiran. Beberapa wajah kecil sang periang sudah berkerumun di bawah akasia tua yang usianya mungkin sudah melebihi usiaku menatap dunia. Mereka menungguku. Mereka tersenyum melihatku sudah memasuki gerbang. Mereka tak sabar menungguku keluar dari parkiran. Mereka mengantri bersalaman mencium tanganku. Membagikan hangat yang mereka simpan di  balik genggaman telapak tangan mereka. Mengecup punggung tanganku dengan bibir kecil mereka yang tipis dan lembut. Rutinitas yang sarat kualitas.

'Assalamualaikum, miss Ikha', salam santun dari mereka menghangatkan ragaku yang tadinya kusebut telah kaku.

Aku tersenyum kembali untuk mereka. 'Waalaikum salam'.

Tak menunggu lama setelah aku memasuki kantor guru, bel sekolah berbunyi tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar. Sesuai jadwal, hari Kamis aku mengajar kelas V, kelas juaranya gaduh.

Setelah sedikit brainstorming, akhirnya kelas pun dimulai dengan materi- materi baru. Sedikit ingin mengejar ketinggalan di kelas lalu. Tapi tetap saja: GADUH. Dan SABAR adalah satu- satunya jalan agar aku tetap kerasan berada di kelas yang setiap hari digaungi musik ketukan meja lengkap dengan celotehan anak- anak manja.

Yah. Ini suatu ujian seorang guru. Persis seperti ucapan ibu yang sejak bertahun yang lalu memberi wejangannya padaku. HARUS SABAR.

Sabar meski kadang suara kita disepelekan. Sabar meski kadang celotehan mereka keterlaluan. Dan aku hanya harus mengulanginya lagi untuk lebih sabar.

Karena buku panduan masih menumpuk di meja kantor guru, maka aku mohon ijin keluar kelas untuk mengambilnya. Seketika mereka bersorak gembira, sementara disudut hatiku merasa sedikit kecewa. Keluar kelas, menghela napas. Susah. Tidak mudah merapikan kelas yang semua penghuninya adalah bianglala.

Aku berjalan di sepanjang koridor kelas hendak menuju kantor guru. Namun, pijakan kakiku terhenti tatkala melihat sosok lelaki kecil di depan taman kelas. Ia nampak duduk berdampingan dengan seorang lelaki dewasa. Saraf penglihatanku bekerja optimal seperti biasa sehingga sosok lelaki kecil itu tampak jelas di mataku. Dani, ya, sosok kecil itu adalah Dani, dan lelaki dewasa disampingnya itu kemudian kuketahui sebagai Bapaknya.

Dani yang kemarin tak sempat menjawab panggilan absensi kelas bahasa Inggris. Siswa yang entah kenapa tiba- tiba kusesalkan ketiadaannya di kelas. Dani kulihat duduk meringkuk di taman depan kelas dua. Seragam yang ia pakai sesuai dengan jadwal seragam sekolah ini.  Tapi ia berada disana, diluar kelas, di taman depan kelas dua. Pandangnya tiada pernah lepas dari pintu kelas yang terbuka di hadapannya. Menatap ceria yang tergambar di wajah teman- temannya. Membuang sedikit rindu yang menumpuk didadanya. 

Aku berlari kecil mendekati keberadaan Dani. Ingin segera kurengkuh tubuh kecilnya itu. Dani, tak sabar aku melihat senyum yang disela giginya terdapat gigis itu. Kini ia kembali  ke bangunan tua ini, ke sekolahnya yang terdahulu. Kuelus rambutnya yang memerah kaku. Kuusap pipi dan dagunya. Namun, ia tetap diam. Mengunci mulut kecilnya ketat.

Bapaknya tersenyum, kemudian mengabarkan bahwa Dani tidak mau masuk ke sekolah rujukannya: SLB. Dan kebisuan Dani adalah kerinduannya pada sekolah ini. Aku mengiba, merasakan sepi yang ia rasakan ketika harus berpisah dengan teman- teman akrabnya. Dani masih diam. Hanya raut wajahnya yang bicara, hendak bercerita panjang tentang harapan yang sebenarnya telah ia simpan rapi di dalam sanubarinya.

Dani adalah siswa yang kuketahui terbelakang dalam hal potensi akademik. Meski sudah menghuni kelas satu selama tiga tahun, ia belum bisa menulis dan mengeja kata.  Berbagai metode belajar sudah diterapkan guru yang mengajar, tapi nihil alias tiada hasil. 

Setelah rapat guru dan wali murid, akhirnya tahun ini Kepala Sekolah memutuskan untuk memberi rujukan kepada Dani ke SLB. Mungkin sebelumnya aku sangat terpukul dan menyesalkan keputusan Kepala Sekolah itu. Tapi akhirnya aku bisa mengerti arti penting di balik keputusan beliau tersebut.


Keputusan memberi rujukan kepada Dani ini adalah keputusan yang terbaik. Terbaik dan demi kebaikan Dani. Meski secara fisik, Dani sehat jasmani dan rohani, namun Dani digolongkan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Maksudnya, Dani sangat terbelakang dalam hal kemampuan intelegensi. SLB adalah solusi terbaik, mengingat guru di SLB dibekali dengan kemampuan mengajar anak berkebutuhan khusus seperti Dani. Bukan bermaksud mendiskreditkan kemampuan guru sekolah biasa. Hanya saja, sudah sepantasnya yang bersangkutan menerima fakta dengan lapang dada. Atas penjelasan ini dan demi kebaikan Dani, akupun merelakan kepindahannya ke SLB.  

Sayangnya pagi ini aku tak bisa berlama menguraikan kesedihan Dani.  Aku sudah cukup paham, lelaki kecil ini cukup lemah untuk harus kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Tak banyak kata yang kuucapkan untuk membuat hatinya kuat dan tegar.  

Memori tentang Dani dan tatapan rindunya berhasil menjadi pembuka kisah haru di hari ini. Aku tak bisa berlama dengannya karena harus segera menuju kantor guru, mengambil buku panduan, dan kembali ke kelas lima. Kelas GADUH. 





Dani, bersama bapaknya di taman depan kelas
(candid diambil dari dalam kantor guru)




Dani (paling depan) saat mengikuti ujian semester kelas 1






Diary of an ordinary

15/07/2010

Ikha Oktavianti