31.1.11

Aku Wanita Terkaya



Siang yang sangat cerah, dan aku sedang bertugas menjemput jagoan kita pulang sekolah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku sengaja mampir dulu ke sebuah swalayan langganan kita untuk membeli beberapa kebutuhan. Di dalam swalayan, jagoan kita terus saja mengekor dibelakangku, ia layaknya bodyguard kecilku. Dan seperti biasa, dari mulut kecilnya itu terus-terusan terlontar pertanyaan yang ditujukan kepadaku. Pertanyaan yang selalu saja diluar tebakan kita. Pertanyaan yang kadang membuat kita berdua kewalahan untuk menjawabnya. Pertanyaan cerdas jagoan kecil kita :)

Siang ini, ia bahkan belum sempat bercerita mengenai pelajaran di sekolahnya, tapi bom pertanyaan sudah dimulai..

'Bunda, KAYA itu apa?', tanyanya saat kami berdua sedang asik memilih rasa es krim favorit di box freezer di ujung swalayan.

'KAYA itu ketika kita punya uang lebih, dan kita bisa memberikan sebagian untuk disedekahkan pada orang yang tidak mampu..', jawabku sekenanya, sambil sesekali memperhatikan tangan kecilnya ikut memilah- milah es krim cone yang menjadi favoritnya.

Mendengar jawabanku, ia terdiam sejenak. Berhenti memilah es krim dan mengeluarkan tangannya dari box freezer.

Setelah mengelap tangannya yang masih dingin itu dengan tissue, kemudian ia menggeledah tasnya sendiri. Mengeksplorasi setiap bagian tas bergambar robot itu.

Aku sengaja tak bertanya, kubiarkan ia sibuk menggeledah tasnya sendiri, sementara aku berjalan menuju bagian kasir.

Beberapa menit kemudian, ia berlari kecil menghampiriku yang tengah berdiri di deretan antrian depan kasir. Wajahnya murung. Sepertinya ia tak menemukan sesuatu yg dicarinya dari dalam tas.

'Sedih kenapa, mas?', tanyaku pada akhirnya. Tapi ia hanya diam, lalu menggeleng. Hingga akhirnya tiba giliranku membayar barang belanjaanku di kasir.

------------

'Bunda, bunda.. mas minta uang seribu rupiah ya..'', rengeknya tiba-tiba saat melihat petugas kasir menyodorkan beberapa lembar ribuan sebagai uang kembalian kepadaku.

'What's for, dear?', tanyaku setengah curiga, sambil kutatap wajah berlesung pipit itu.

'Mm.. Bundaa.. Sisa uang saku mas hilang.. Tadi... tadi masih ada di tas.. ', air mukanya berubah kecewa.

'Then?', cecarku.

'Mas ingin jadi orang kaya. Mas ingin memberi sisa uang saku untuk kakek yg diluar itu...', jelasnya sambil mengarahkan telunjuk ke arah pengemis tua berpakaian kumal yang duduk di depan pintu masuk swalayan.

Aku tersenyum sambil merogoh kembali beberapa ribuan dari dompet kuningku. Kusalurkan beberapa lembar rupiah ke tangan kanannya.

'Thank you so much, Bunda..', ucapnya sambil bergegas mendahului langkahku keluar dari swalayan.

Tepat di depan pintu, ia menghentikan langkahnya dan memberikan lembaran rupiah yang digenggamnya kepada pengemis tua itu. Kulihat ekspresi jagoanku berubah gembira.

_______



'Sekarang mas kaya ya, Bunda?', tanyanya saat kami berdua berjalan menjauhi swalayan. Aku mengangguk pasti. Tak ada rasa yang lain tersemat dalam hatiku kecuali rasa syukur kepada Tuhan karena memperkenankanku menjadi bunda dari jagoan kecil kita yang KAYA hatinya.

Alhamdulillah ^^



#adegan ini akan terjadi pada waktunya nanti, insyaallah :)
#terinspirasi dari beberapa adegan saat bersamamu beberapa waktu yang lalu :)


Kakek Pengemis di depan Swalayan

0 comments:

Post a Comment