Aku terbangun, lalu menyandarkan kepalaku ke tembok kamar. Mengulum senyum, mengingat sebuah mimpi indah malam ini.
Orang bilang: mimpi adalah bunga tidur. Tapi tidak bagiku. Aku selalu mempercayai bahwa semua mimpi adalah pesan tersembunyi untuk digali. Memang benar begitu, aku percaya, sejak beberapa kejadian dalam hidupku kurasakan sama dengan mimpi - mimpi yang sebelumnya menghiasi tidurku, ah aku benar- benar percaya.
Aku tau ia akan datang lagi esok hari, berjalan melewati gang kecil depan sekolahku ini. Berpakaian rapi, menjinjing tas kotak dan bersepatu necis berwarna hitam mengkilap. Oleh sebab itu aku selalu rajin bangun pagi, berharap sampai di sekolah lebih awal, tentu saja agar bisa memandangnya berjalan tegap tepat di depan gerbang.
Ia pria yang selama ini telah membuat hatiku cenut- cenut. Dari perawakannya yang gagah, cara berjalan yang tegap, dan terkadang ia melemparkan senyum ramah ke arahku. Ya, ke arahku.. dan pagi kemarin adalah kali ke sepuluh ia tersenyum kepadaku.
Sejak aku memimpikannya dua bulan yang lalu, entah mengapa aku selalu memburunya. Seolah ia mempunyai magnet yang khusus menarik perhatianku.. Atau bukan hanya aku? Ah, yang jelas ia telah berhasil mengalihkan duniaku.
Pagi ini, seperti biasa, aku bangun pagi- pagi sekali. Setelah shalat Subuh dan mengaji, aku segera membantu ibu membereskan pekerjaan di dapur. Pukul 6 pagi aku bergegas berangkat sekolah, padahal jarak rumah dan sekolah hanya 2 km, sepuluh menit mengayuh sepeda angin juga sudah sampai. Ah, semua itu tidak masalah, asalkan bisa memandang pria berkemeja rapi itu berjalan di depan gang sekolah dan menyunggingkan senyumnya kepadaku.
LIMA BELAS menit lebihnya dari pukul enam, aku sudah bersiap duduk di sebuah kursi di bawah pohon akasia di depan kelas VII, kelasku. Aku membuka lembar kesekian dari buku berjudul Ilmu Alam yang sedang kupangku. Buku setebal batu bata yang isinya kebanyakan berisi gambar- gambar makhluk hidup dan istilah- istilah latin yang sulit dicerna. Sambil berkali- kali aku mendongakkan kepala, sekedar meyakinkan pria tegap itu sudah tampak di depan mata.
Jilbab putih yang kukenakan melambai- lambai diterpa sembirit angin pagi. Hampir setengah jam telah berlalu sejak aku duduk menanti sendiri. Kini beberapa teman mulai berdatangan. Mereka berjalan berduyun- duyun memasuki gerbang sekolahan. Dan pria yang kutunggu- tunggu itu belum juga muncul.. Aku jadi gelisah. Merasakan ada yang kurang di pagi ini, hingga bel masuk sekolah berbunyi dan aku berjalan gontai memasuki ruang kelas.
Sejak pelajaran jam pertama, aku merasa tak bisa fokus dan tak bersemangat. Seolah ada yang kurang hari ini, dan aku yakin.. itu karena sinar pengharapan dari pria yang kutunggu itu tidak nampak.
Sepanjang jam pelajaran, dalam hatiku membuncah tanya, berharap menemukan kalimat kausatif yang pas untuk menjawab alasan mengapa pria itu tidak datang. Pria yang selama ini menghiasi mimpi- mimpiku dengan keindahan. Pria yang .... dewasa, meskipun aku tak tahu persis berapa usianya.
Tak pernah ku menyesal ku telah memilih dirimu..
Dengan perbedaan yg ada namun kita masih bersama..
Kadang aku yg selalu egois dan kamu yg selalu tak perduli..
Dengan sikapku yg tak mau tahu dan kamu yg tak bisa 'tuk mengalah..
Oh cinta ini indah saat kita bersama..
Tak peduli saat senang dan saat susah,kita kan selalu menjaga..
Satu dua kali kita pernah saling membenci..
Ketiga empat kali kita juga saling tak bicara..
Namun tak sanggup ku berlama-lama dgn hari tanpa dirimu..
Oh cinta ini indah saat kita bersama..
Dan bila bosan benci menghampiri,cinta kan membawa kita kembali :$
Kadang merah kadang biru kadang hijau dan ungu..
Berwarna warni ya cinta kita sayang..
just 'saling n jujur' ya saiaankk :$ 27/02/2011 12.12 SMS dari hantuw keren
NAH, setelah sempat terkagum- kagum baca syair yang dikirim sang kekasih tersebut diatas, dan setelah diliputi ketidakpercayaan akan orisinilitas karyanya, akhirnya aku, dengan bantuan pakdhe Google menemukan source asli dari potongan syair yang dikirim si doi via SMS itu.. ini diaaaaa...
Cinta itu indah..
Saat kita senang atau saat susah..
[**]
Tak pernah ku menyesal
Telah memilih dirimu..
Dengan perbedaan yang ada
Namun kita masih bersama..
Kadang aku yang selalu egois
Dan kamu yang slalu tak perduli..i..i..
Dengan sikapku yang tak mau tahu
Dan kamu yang tak bisa tuk mengalah
Reff :
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Tak perduli saat senang dan saat susah
Kita kan selalu menjaga
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Dan bila bosan benci menghampiri
Cinta kan membawa kita kembali
Di satu lollipop love, lollipop love
It’s like a lollipop love, lollipop love
[***]
Satu dua kali kita pernah saling membenci..
Ketiga empat kali kita juga saling tak bicara..
Namun tak sanggup ku berlama-lama..
Dengan hari-hari tanpa dirimu..u..u..
Aku butuh teman untuk bicara..
Dan kamu selalu ada tuk mendengar..
Reff :
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Tak perduli saat senang dan saat susah
Kita kan selalu mencinta
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Dan bila bosan benci menghampiri
Cinta kan membawa kita kembali
Di satu lollipop love, lollipop love
It’s like a lollipop love, lollipop love
[****]
Kadang merah kadang biru..
Kadang hijau dan ungu..
Berwarna warni cinta kita..
It’s like a lollipop, lollipop love..
It’s like a lollipop, lollipop love..
Reff :
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Tak perduli saat senang dan saat susah
Kita kan selalu mencinta
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Dan bila bosan benci menghampiri
Cinta kan membawa kita kembali
Di satu lollipop love, lollipop love
It’s like a lollipop love, lollipop love
Oh love, lollipop love, lollipop love…
Love love, lollipop love
Oh love, lollipop love…
Owaaalaaaaaaaaahhh.. ternyata benar dugaanku, doi cuma kopas lirik lagunya mbak Nina Tamam dari album terbarunya di 2010. Ahahah... tapi, emang bener yah, lagunya enak, easy listening, n liriknya itu lo, gokil dan romantis abis, cucok dipas-in sama yang lagi pacaran. khas kita banget dehh.. hehe
Hey, ini sudah lewat tengah malam, namun jemariku belum lelah menari. Setelah menari dengan benang- benang dan kain – kain flanel warna- warni, kini menari lagi diatas kotak- kotak keyboard...
Aku berhenti sejenak menggerakkan jemariku meloncat ke aksara satu dan lainnya, lalu menatap satu persatu boneka- boneka flanel di dalam box yang kujajar di separuh bagian meja belajarku. Oh, God! Sangat cantik! Aku selalu memuji tanganku sendiri ketika hasil akhir sudah didepan mata.
Aku mengerlingkan pandanganku ke sisi lain di meja belajarku. Sebuah surat kabar terbitan hari ini, laman ProBisnis. Kembali tersungging senyum tipis di hati, sebuah artikel berjudul ’Boneka Bertoga Sebagai Bingkisan Wisuda’. Ada gambarku di samping artikel tersebut. Aku dan ceritaku mengenai hasil karya tanganku, dibaca oleh ratusan pembaca koran Suara Merdeka pagi ini. Thanks, the writer. Thanks, God!
---
Aku tak tahu, kenapa aku tiba- tiba menjadi sangat optimis melihat masa depanku. Masa depan yang awalnya selalu kutakuti, kini tidak lagi. Bukan.. Bukan berarti kain- kain flanel ini yang selalu kubawa bermimpi, tapi keyakinan akan kualitas hidup yang terus kucari- cari.
Aku melanjutkan beberapa paragraf yang sudah tersusun rapi oleh tarian jemari. Bukan lagi tentang skripsi yang tertelan warna- warni manik- manik di laci, namun tentang tautan hidup kelak di kemudian hari. Email untuk Sandra, sahabat dekat yang pernah kuceritakan pada tulisanku sebelumnya.
(email content @danceofmyfinger.blogspot)
----
Aku tersenyum manis mengakhiri tulisanku di surat elektronik yang baru saja kukirim untuk sahabatku di negeri Kanguru: Sandra. Ya, sudah sejak Januari ia bertolak menuju Australia, negeri yang menjadi pilihannya untuk meneruskan jenjang pendidikan Magisternya.
Sedang aku? Jangan tanya dimana gelar kesarjanaanku kusembunyikan, karena memang sampai detik ini aku belum dilegalkan menyematkan gelar di belakang nama panjangku. Ya, aku memang belum juga lulus. Lagi- lagi masih dihadapkan pada persoalan yang sama, pembimbing yang tak kunjung kembali dari negeri tetangga.
Alih- alih mengisi waktu sembari menunggu sang pembimbing pulang ke tanah air, aku memperlebar sayap pemasaran flanel bertoga buatanku, membuka lapak jualan boneka online. Facebook menjadi sarana yang tepat bagiku. Bermula dari keisengan mengunggah foto- foto boneka terdahulu, dari situ pula mengalir pesanan tanpa putus. Sempat kaget, sekaligus kewalahan menerima orderan. Bagaimana tidak kewalahan, sebelumnya aku hanya mengerjakan semua pesanan dengan ibu saja, karena jumlah pesanan baru hitungan jemari. Kini, dua karyawan sudah siap membantu semua pekerjaan tangan.
Dalam email yang kukirim pada Sandra, aku menceritakan semua kegiatan yang kulakukan, termasuk gerak gerik dan arah bisnis kecil yang kutekuni, sekaligus meminta saran daripadanya. Pada sahabatku itulah semua masalah kubagi, selain pada kekasih hati. Kekasih hati? Ya, aku akan menceritakannya pada halaman lain di tarian jemariku ini, tentunya setelah ada balasan surat elektronik dari Sandra. Semoga tidak perlu menunggu dalam waktu yang lama...
Seorang lelaki datang dan duduk di kursi sebelah kiri saya, namun saya tak begitu memerhatikannya. Karena pandangan ini tengah tertuju pada sebuah fragmen yang tengah berlangsung di depan mata saya. seorang bapak tengah menyantap lezat makanan yang dibawanya, sedangkan anak lelakinya yang baru berusia sekitar tiga tahun mencoba meminta makanan Ayahnya. Sesekali sang Ayah memberinya sesuap nasi, kemudian anaknya bermain lagi. lelaki itu nampak sangat menikmati makan siangnya itu, sedangkan anaknya hanya disuapi beberapa kali saja.
“Tega sekali bapak itu ya, ia makan sangat banyak sedangkan anaknya hanya diberi satu dua suap saja. Kenapa ia tak mendahulukan anaknya makan? Orang tua kan biasanya berkorban, biarlah ia tidak makan yang penting anaknya makan lebih dulu…” suara di sebelah saya memecah konsentrasi pandangan saya pada adegan di depan. Rupanya bukan hanya saya yang menyaksikan adegan Ayah dan anak yang tengah menikmati makan siang di ruang tunggu B-6 Bandara Soekarno Hatta itu.
Saya menghela nafas, membetulkan posisi duduk yang sebenarnya sudah cukup nyaman. Saya menoleh ke sebelah kiri, ke arah suara yang barusan kemudian memberikan senyum kepadanya. Ia, lelaki yang belum lama datang dan duduk di kursi sebelah kiri saya itu ternyata ikut menjadi pemirsa adegan ayah dan anak di hadapan saya. Kali ini saya harus menjelaskan kepada lelaki di sebelah kiri saya tentang adegan yang tengah berlangsung itu.
“Sayang sekali, Anda melewatkan adegan terbaiknya dan hanya menonton potongan sisanya saja. Saya yakin jika Anda datang lebih awal, Anda akan tersenyum dibuatnya dan tak mungkin berkomentar seperti tadi…” ucap saya.
Kini giliran lelaki itu yang membetulkan posisi duduknya, wajahnya menghadap ke saya. “Adegan apa yang saya lewati?”
Sebelum lelaki itu datang, kira-kira tiga puluh menit berselang, seorang lelaki bersama anaknya tiba dan memilih tempat duduk di depan saya. Tak berapa lama sang Ayah membuka sebuah kotak makanan dan mulai menyuapi makanan ke anaknya. Perlahan dan penuh kasih sayang ia menyuapi, mulai dari lauknya, nasi, juga sesekali ia memberikan minum. Ketika anaknya tersedak karena makan sambil bicara, ia memberi nasihat dengan lembut, “habiskan dulu yang di dalam mulut, baru bicara ya nak,” kemudian ia menyodorkan air minum ke anaknya.
Anak lelakinya itu terbilang aktif, sambil makan ia berlari sana-sini. “Ayah lebih suka kalau Abang duduk,” Ah, sebuah kalimat positif yang mengagumkan. Biasanya orang tua yang sedang memberi makan dan anaknya berlarian akan berteriak, “Abang! Jangan lari-larian, Ayah capek!” atau “Duduk disini! Jangan lari-larian, ibu nggak mau nyuapin lagi nih…”
Sang anak tetap berlari meski ayahnya lebih suka ia duduk, namun tak sedikitpun ia marah. Tak berapa lama, anaknya tersandung kaki kursi dan jatuh. Makanan yang masih di mulutnya pun ikut tumpah keluar. Lagi-lagi ia tak marah, ia berdiri segera membangunkan anaknya. Kemudian dengan sabar memunguti makanan yang berserak di lantai. Anaknya menatap apa yang dilakukan ayahnya, “Kalau abang duduk dan diam, nggak akan jatuh begini kan…” anaknya mengangguk tanda mengerti.
Sejak itu, anaknya yang bertubuh gempal itu duduk diam dan membuat ayahnya lebih tenang menyuapi hingga makanannya habis. “jangan lupa, baca doa habis makan bagaimana?” tak lama, terdengar suara lucu melafazkan doa sehabis makan. Terbata-bata ia mencoba melafazkannya sambil dibantu ayahnya untuk mengingat bagian yang lupa.
Setelah itu, ayahnya berkata, “Abang sudah makan, sekarang gantian ayah ya yang makan…”
Nah, adegan inilah yang terlewati oleh lelaki yang baru datang dan duduk di sebelah kiri saya. Ia hanya melihat adegan sisanya yang tentu saja bukan bagian terbaik dari fragmen ayah dan anak di hadapan saya itu.
***
Kerap kita melihat sesuatu tidak utuh, kemudian mencoba memberi penilaian dari yang tidak utuh itu. Padahal kalau kita mau meluangkan waktu lebih banyak untuk mengetahui sesuatu lebih dalam dan lebih utuh, banyak hal yang akan mampu mengubah pandangan kita terhadap sesuatu, ataupun seseorang.
Sebagai perenungan saja, terutama untuk sahabat dekat saya yang merasa telah memilih orang yang salah dalam hidupnya. Yang kuat dan tabah ya sayang...
Sebenarnya sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah semata.
Dan memang suatu jalan yang telah ditentukanNya bila tiba sampai saat ini kau sampai di titik yang kau pijak sekarang. Bangkitlah dan tataplah dunia, ada rencana indah untukmu di depan sana....
karna sesungguhnya ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, Allah membuka pintu kebahagiaan yang lain yang harus kau cari sendiri.
maaf, kopas dulu
karena malam melarangku menulis banyak
karena malam menyita ide pikiranku dengan dua project besarku
Berikut adalah isi dari Dua (25) Lima Tarian Jemari, scrap book yang berisi 25 syair olehku dan olehnya, yang ku tulis ulang dengan hiasan foto2 kami berdua :))
Scrapbook ini saya buat sebagai buah tangan untuk kekasih hati di ulang tahunnya yang ke 25 :))
Dua (25) Lima Tarian Jemari
by Ikha Oktavianti
It’s about a warmhearted-fragile guy, named Bayu who’s been unlucky in love. Always surrounded by numerous of girl friends but no one to call his own. And there’s Ikha, a work-hard play-harder kind of girl who believes the right guy will come along after the wrong guy, so she tirelessly seeking.