Showing posts with label kisah keluarga. Show all posts
Showing posts with label kisah keluarga. Show all posts

16.4.12

Pijakan Pertama di Tanah Banua

November 2011


source : click !

BAHAGIA adalah satu perasaan yang turut dihati saya tatkala turun dari burung besi yang membawa saya terbang dari Jawa ke Tanah Banua untuk kali pertama. Kala itu sudah petang, sekitar pukul 7 WITA, saya dijemput oleh suami di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Bagaimana tidak bahagia, sebelumnya saya harus puasa tak bersua dengan suami sekitar 2 bulan ( 10 September - 15 November 2012) karena si dia harus melengkapi tugas kesamaptaan di Kopassus Batujajar, Bogor demi proses pengangkatan kepegawaian di Perusahaan yang baru. 

Tak bersua sekian lama serta sempat beberapa minggu terputus komunikasi bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi di usia pernikahan kami yang masih anyar. Sedikit hiperbolis, tapi faktanya memang saya sendiri tak bisa 100% fokus menjalani hari. Ibarat kata, jiwa saya sedang kehilangan separuh spiritnya. Dilanda rindu yang obatnya hanyalah doa khusuk pada 'Illahi Robbi..

Kembali bersua dengan suami menjadi satu hal yang sangat dinanti, bahkan sejak detik pertama kami harus saling bertolak guna menyelesaikan tugas masing-masing. Namun, syukur alhamdulillahirobbi.. finally, hari itu datang dan kami kembali dipertemukan dalam keadaan sehat wal afiat. Ada senyum kikuk yang sempat menghias bibir, ada air mata yang menyudut di kelopak mata, ada lantunan hamdallah yang spontan saja terucap dari mulut... 

Di bandara yang terbilang besar itu, di tengah hiruk pikuk para penumpang dan penjemput, saya mencoba fokus untuk satu suara yang memanggil- manggil saya dengan penggilan khasnya: 

"Ling..ling..ling...", yang merupakan kependekan dari 'darling'

Seorang pria bertubuh gempal, berkulit hitam legam melambaikan tangannya ke arah saya. Seraut wajah yang awalnya saya sedikit sulit mengenali karena phisically telah berubah lumayan drastis, tambah gendut, tambah hitam. Untuk lebih meyakinkan saya, pria itu mendekat sehingga jelas bagi kedua mata saya untuk mengenalinya, serta mudah bagi kedua tangan ini untuk menyambut hangat peluknya. Dialah orangnya, suami yang  saya susul keberadaannya di Borneo.

Usai sebuah pelukan yang mencairkan perasaan kikuk karena lama tak berjumpa, akhirnya kami langsung tancap gas meninggalkan pelataran parkir bandara. Kami melaju menuju salah satu kota kecamatan di Kalimantan Selatan, yaitu Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Perjalanan dari bandara Syamsudin Noor ke tempat yang kami tuju memakan waktu lebih kurang satu jam dengan jalanan yang sepenuhnya dibangun dengan asphalt. 

Suami saya menghentikan laju kendaraan ketika kami sudah memasuki gang kecil menuju depan deretan bidakan berwarna orange. Di daerah Pelaihari, bidakan merupakan sebutan untuk sebuah rumah petak berukuran kecil, biasanya dikontrakkan dengan biaya sewa per bulan. Ada tiga bidakan yang berjejer di depan saya, kemudian suami menunjukkan bidakan yang kami sewa, yaitu bidakan yang paling barat (?). Maklum, sesampainya di tempat baru, saya mendadak buta arah mata angin.    

Gulita hampir menenggelamkan seluruh sumber cahaya di angkasa, tapi malam itu purnama setia menemani kami dan membagi sisa romansa melalui secercah sinarnya. Setelah meletakkan koper dan barang- barang bawaan, kami keluar dari bidakan untuk mencari makan di sebuah warung tenda yang menyediakan masakan sederhana. Sambil menunggu pesanan dimatangkan, kami berdua tenggelam dalam obrolan ringan, berbagi kisah dan kasih serta pengharapan atas dimulainya sebuah perjuangan di tanah seberang...

Inilah episode pertama saya di tanah rantau, pijakan pertama dalam duet pengembaraan ini. Banyak kisah yang kemudian mengalir dan terbingkai indah selama tinggal di Pelaihari. Insyaallah ceritanya akan dilanjutkan lagi..

18.10.11

Akad Nikah :)

Lebih dari sepuluh teman perempuan saya tertarik dan penasaran tentang bagian prosesi akad nikah saya beberapa bulan yang lalu yang paling berkesan. Maklum, saya mempunyai segudang teman seusia, usia yang bisa dikatakan matang untuk selanjutnya melangkahkan hidup ke jenjang pernikahan. 

Lalu saya mencoba mengingat- ingat kembali, bagian mana dari serangkaian upacara khidmad tersebut yang sangat menggoncang emosi. Lalu saya terdiam.. tercenung dan mengulang kembali semua memori yang terekam hari Rabu, 29 Juni 2011 yang lalu..

Saya rasa semua rangkaian acara meninggalkan kesan mendalam. Namun, senyum saya terkembang segar, manakala mengingat bagian yang terpenting dalam akad nikah saya adalah pembacaan ikrar ijab qobul oleh bapak dan calon suami. Begitu kuat degup jantung saya kala itu, hingga meninggalkan ketegangan yang luar biasa.

Saya merasakan dengan jelas bagaimana bapak menatap saya dengan sangat tajam, seperti masih berat mengikhlaskan putrinya untuk seorang pria yang baru dikenalnya sejak dua tahun yang lalu. Saya tidak pernah merasakan tatapan setajam itu sebelumnya. Namun, saya membalas tatapan bapak dengan kesungguhan, saya transfer keyakinan yang mengakar dalam hati kepada beliau. Keyakinan bahwa benar pria inilah yang akan menjadi samudera bahagia dalam keseluruhan daratan hidup saya nantinya. 
Ketegangan tidak hanya nampak di raut wajah bapak saja, namun juga pada air muka kekasih saya. Lumrah, karena dengan istilah yang lain, beliau berdua yang menjadi pemeran utama dalam adegan inti acara kami. 

Bismillah.. sambil tangan saling bersalaman, bapak dan kekasih saya akhirnya berhasil mengucapkan ijab qobul dengan khidmat. Alhamdulillah.... Akhirnya kami syah menjadi suami istri :)



____

Kemudian saya mengingat kembali bagian yang paling menguras emosi. Spontan, memori saya terjun ke adegan ini. Yaitu adegan sungkem, yang mana sebelum sungkem, saya memohon doa restu kepada bapak ibu. 
Sebagian teman dan kerabat yang hadir dan menjadi saksi prosesi akad nikah memang sudah lama request kepada saya untuk mengupload doa yang saya ucapkan sebelum sungkem dengan kedua orang terkasih. Namun, baru malam ini saya berhasil mencari file words yang saya tulis pada hari H menjelang dua jam akad nikah. 

Hanya setengah jam, karena kalimat kalimat ini spontan keluar begitu saja. Sangat singkat karena tak perlu berlama untuk memercikkan ide ketika menuliskan memori tentang orang- orang terkasih, terutama ibu dan bapak. 

Saya hanya perlu membuka laptop, membuka file blank words, dan meletakkan jemari di atas tuts keyboard laptop, segera membayangkan dahsyatnya kasih sayang dan arti penting mereka dalam hidup saya, maka otak dan jemari akan senantiasa bersinergi, menari dengan sangat luwes.  

Ya, saya hanya butuh sekitar setengah jam untuk menulis permohonan doa restu yang tulus berikut ini :

Assalamualaikum wr.wb
Maaf saya meminta waktu sebentar untuk memohon doa restu sekaligus sedikit mengucapkan rasa terimakasih saya pada orang- orang terkasih saya.

Rasanya baru kemarin saya mendengar rutinitas ibu bapak mengingatkan saya untuk menjadi anak baik, belajar yang rajin, dan segera menyelesaikan kesarjanaan saya. Baru kemarin rasanya saya merengek- rengek minta uang jajan. Dan baru kemarin saya bercanda sampai tertidur berempat bersama ibu, bapak dan adik saya tersayang. Rasanya seperti masih bermimpi. Hm, tapi kini saatnya saya bangun dari mimpi dan menyadari bahwa sudah saatnya saya melangkah lagi, keluar dari comfort zone yang sejak dulu diciptakan oleh ibu dan bapak saya tersayang.

Ibu Bapak,
Ijinkan saya menempuh kehidupan baru, bersama mengarungi bahtera hidup yang sesungguhnya, dimana ada rasa suka dan duka yang sebenarnya yang akan dilewati bersama. Berikan restu untuk saya menuju pernikahan yang kekal, yang abadi, yang insyaallah hanya akan dilakukan sekali seumur hidup.

Ibu Bapak,
Maafkan saya yang selama ini selalu membuat susah, membuat kesal, membuat marah, merepotkan ibu dan bapak dengan semua tingkah laku atau mungkin dengan teriakan yang secara tidak sadar telah menyakiti perasaan ibu dan bapak.

Ibu, bapak
Tak terasa, rasanya baru kemarin saya masih bayi merah, bayi mungil yang lucu, bayi mungil yang ingin selalu disusui, ingin selalu dibelai, dipeluk, digendong, disayang, dengan tangisan manja hingga beranjak remaja, dengan semua kenakalan, tingkah laku yang menjengkelkan, dan semua keperluan hingga dewasa sampai saat ini.

Ibu, Bapak
Saat ini saya sudah dewasa, dan akan menjalani kehidupan baru, saya mohon doa restu dan keikhlasan untuk menjalani semua ini. Terimakasih sudah dilahirkan ke dunia ini, sudah memberikan pendidikan yang terbaik, sudah memberikan semua fasilitas yang terbaik. Terimakasih atas semua cinta, semua kasih saying yang tulus, yang ikhlas, dan tanpa pamrih yang telah diberikan sehingga saya dapat merasakan hangatnya kehidupan keluarga, arti  kehadiran dan sentuhan seorang ibu saat menimang, menggendong dan merawat dengan penuh kebahagiaan. Kehadiran seorang bapak yang selalu melindungi, setia menemani keluarga dengan penuh tanggungjawab. Saya belum bisa membalas semua perhatian, kasih sayang dan cinta yang telah bapak dan ibu berikan. Hanya ungkapan terima kasih yang sebesar- besarnya yang dapat saya haturkan.

Saya tidak bisa mengungkapkan semua ini dengan kata- kata, mohon petunjuk dan bimbingan dari ibu dan bapak untuk menjalani kehidupan baru nanti, saya selalu berdoa yang terbaik untuk ibu dan bapak dan memohon kepada Alloh SWT untuk memberikan kebahagiaan dan menambahkan kasih sayangnya sebagaimana ibu dan bapak berikan untuk saya. Sekali lagi, terimakasih ibu, terimakasih bapak.

Allohuma firli walli walli dayyah warhamhumma kamma robbaya ni shogiroh. Amin
Wassalamualaikum wr.wb

Tulisan tersebut di atas benar saya ucapkan saat prosesi akad nikah, dan saya benar- benar tak bisa membendung buliran kristal yang meleleh dari mata dan menganak ke pipi. Apalagi saya sengaja menyiapkan lagu "Bunda" karya Melly Goeslaw untuk dijadikan backsound saat mengucapkan permohonan doa restu tersebut di atas. 

Dan, adegan ini spontan-- alias tidak direncanakan hari sebelumnya. Di awal acara, saya hanya berpesan pada pembawa acara untuk memberi waktu sebelum sungkem. So, bapak dan ibu, bahkan keluarga besar benar- benar surprised dengan pembacaan permohonan doa tersebut diatas. Bahwasanya bagian ini hanya improvisasi saya, dan saya sangat- sangat memaknainya :)






19.9.11

yes, saya dilamar :)

Adegan 1#
10 April 2011

LAMARAN / TETEMBUNGAN

Seharian itu saya masih repot mengurus pesanan souvenir - yang alhamdulillah selalu lancar. Saking sibuknya, hingga saya tak menghiraukan dering dari ponsel saya. Hingga akhirnya hari beranjak petang dan saya baru cek ponsel saya. Di layar ponsel saya sudah ada puluhan missedcalls dan beberapa pesan singkat - yang beberapa diantaranya adalah dari kekasih hati :)

OWW, konten SMSnya mengejutkan sekali ... hohohoooooo

" Ling, bapakku nanyain nih, ntar malem bapak ibumu dirumah nggak? kita mau maen kerumah.."

dalam hati udah kepikiran yang 'iya-iya' , maklum, beberapa hari belakangan - tepatnya setelah saya lolos uji skripsi tanggal 8 Maret 2011- si doi itu ceramahnya selalu tentang lamar- melamar. Bukannya melamar pekerjaan loh, tapi melamar menuju pernikahan,  hehe. Intip nih disini salah satu adegan konyol di warung empek- empek Palembang daerah Sondakan. Jadi memang siang itu doi benar- benar excited banget mau melamar saya. hi hi hi

Saking kagetnya nih, saya sampai bingung mau bilang bagaimana sama ibu dan bapak saya. Antara grogi dan malu - malu gitu lah, he he he . Heran ya, padahal selama ini saya anak yang sangat extrovert kalau sama orangtua terutama sama ibu pasti deh semuanya diceritakan. Untungnya kemudian saya punya cukup nyali untuk mengutarakan isi SMS dari kekasih saya tersebut. Intinya saya memberitahukan kepada ibu dan bapak bahwasanya keluarga kekasih saya akan berkunjung kerumah. 

Ibu dan Bapak lumayan surprise juga sih, walaupun mereka sudah pernah ngajak ngobrol mengenai pernikahan, tapi mereka cukup terkejut dan tak menyangka keluarga kekasih akan kunjung secepat ini. Kunjung indikasi meminang, bukan ? he he he

Bapak dan ibu segera siap- siap cari tanggal - karena memang waktu itu mereka sibuk ngurusin laporan kantor. Nah, akhirnya dipilihlah hari Minggu tanggal 10 April 2011 karena kebetulan waktu itu rumah saya juga ada acara arisan rutin keluarga besar.
Saya sih manut aja sama orangtua, hari kunjung mau dibarengkan acara kumpulan rutin juga tak masalah, yang penting kan orangtua udah siap- siap, biar nggak malu- maluin gitu kalau sampai keluarga kekasih datang dan  rumah nggak ada makanan. ha ha ha 

Asli- acara menyambut hari kunjung sangat- sangat bikin grogi. Saya masih bisa merasakannya detik ini, bagaimana degub jantung saya seperti mau copot.. hah, ngalahin rasa stres waktu ujian skripsi lah.. padahal baru kunjung ya.. belum melamar beneran atau akad nikah.he he he

Dan yah, hari yang ditunggu akhirnya tiba, ba'da dzuhur, keluarga mas Bayu- kekasih saya, datang kerumah, kala itu rumah masih lumayan ramai, karena walau acara arisan keluarga sudah selesai tapi keluarga masih pada ngobrol ngalor- ngidul saling kangen kangenan. 

Adegan berubah sangat hening dan menegangkan tatkala bapak camer memulai acara..

deng- deng - deng...

"Bapak Ibu sedoyo keluargo... sakmeniko kulo bla bla bla..."

di cut yah, adegan ini pakai bahasa krama inggil yang saya sendiri sulit mengartikannya, intinya melamarkan putra pertamanya gitu lah. he he he 

Adegan mendebarkan diatas akhirnya usai sudah ditandai dengan jawab menjawab dari keluarga saya, oya, pada malam hari setelah hari itu, gantian keluarga saya yang kunjung ke rumah mas Bayu untuk memberi keputusan mengenai susunan acara dsb.
Haaaaaaaahh, capek deh, baru melamar aja ribet gitu ya, he he he
Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar.. dan sejak hari itu kedua keluarga saling kontak untuk acara selanjutnya.

Sekian dulu ya cerita lamar- melamarnyaa...
Insyaallah besok dilanjutkan episode selanjutnya :)

31.1.11

Aku Wanita Terkaya



Siang yang sangat cerah, dan aku sedang bertugas menjemput jagoan kita pulang sekolah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku sengaja mampir dulu ke sebuah swalayan langganan kita untuk membeli beberapa kebutuhan. Di dalam swalayan, jagoan kita terus saja mengekor dibelakangku, ia layaknya bodyguard kecilku. Dan seperti biasa, dari mulut kecilnya itu terus-terusan terlontar pertanyaan yang ditujukan kepadaku. Pertanyaan yang selalu saja diluar tebakan kita. Pertanyaan yang kadang membuat kita berdua kewalahan untuk menjawabnya. Pertanyaan cerdas jagoan kecil kita :)

Siang ini, ia bahkan belum sempat bercerita mengenai pelajaran di sekolahnya, tapi bom pertanyaan sudah dimulai..

'Bunda, KAYA itu apa?', tanyanya saat kami berdua sedang asik memilih rasa es krim favorit di box freezer di ujung swalayan.

'KAYA itu ketika kita punya uang lebih, dan kita bisa memberikan sebagian untuk disedekahkan pada orang yang tidak mampu..', jawabku sekenanya, sambil sesekali memperhatikan tangan kecilnya ikut memilah- milah es krim cone yang menjadi favoritnya.

Mendengar jawabanku, ia terdiam sejenak. Berhenti memilah es krim dan mengeluarkan tangannya dari box freezer.

Setelah mengelap tangannya yang masih dingin itu dengan tissue, kemudian ia menggeledah tasnya sendiri. Mengeksplorasi setiap bagian tas bergambar robot itu.

Aku sengaja tak bertanya, kubiarkan ia sibuk menggeledah tasnya sendiri, sementara aku berjalan menuju bagian kasir.

Beberapa menit kemudian, ia berlari kecil menghampiriku yang tengah berdiri di deretan antrian depan kasir. Wajahnya murung. Sepertinya ia tak menemukan sesuatu yg dicarinya dari dalam tas.

'Sedih kenapa, mas?', tanyaku pada akhirnya. Tapi ia hanya diam, lalu menggeleng. Hingga akhirnya tiba giliranku membayar barang belanjaanku di kasir.

------------

'Bunda, bunda.. mas minta uang seribu rupiah ya..'', rengeknya tiba-tiba saat melihat petugas kasir menyodorkan beberapa lembar ribuan sebagai uang kembalian kepadaku.

'What's for, dear?', tanyaku setengah curiga, sambil kutatap wajah berlesung pipit itu.

'Mm.. Bundaa.. Sisa uang saku mas hilang.. Tadi... tadi masih ada di tas.. ', air mukanya berubah kecewa.

'Then?', cecarku.

'Mas ingin jadi orang kaya. Mas ingin memberi sisa uang saku untuk kakek yg diluar itu...', jelasnya sambil mengarahkan telunjuk ke arah pengemis tua berpakaian kumal yang duduk di depan pintu masuk swalayan.

Aku tersenyum sambil merogoh kembali beberapa ribuan dari dompet kuningku. Kusalurkan beberapa lembar rupiah ke tangan kanannya.

'Thank you so much, Bunda..', ucapnya sambil bergegas mendahului langkahku keluar dari swalayan.

Tepat di depan pintu, ia menghentikan langkahnya dan memberikan lembaran rupiah yang digenggamnya kepada pengemis tua itu. Kulihat ekspresi jagoanku berubah gembira.

_______



'Sekarang mas kaya ya, Bunda?', tanyanya saat kami berdua berjalan menjauhi swalayan. Aku mengangguk pasti. Tak ada rasa yang lain tersemat dalam hatiku kecuali rasa syukur kepada Tuhan karena memperkenankanku menjadi bunda dari jagoan kecil kita yang KAYA hatinya.

Alhamdulillah ^^



#adegan ini akan terjadi pada waktunya nanti, insyaallah :)
#terinspirasi dari beberapa adegan saat bersamamu beberapa waktu yang lalu :)


Kakek Pengemis di depan Swalayan

19.12.10

Bisnis Terbaru gueee ini !

Lama ngilang dari sini, aku terlalu sibuk sama kualitas hidupku.Ya, benar saja, sapa sih yang nggak boring nunggu dosen pembimbing hijrah ke LN dan membiarkan skripsiku keteter? hm..

Kesal pastinya iya, jadi semakin bingung kan mau ngapain.
alhasil, berkat kreatifitasku di saat- saat kepepet gini, muncullah ide bisnis ini..

Jeng jeng ..!!!









"Boneka Flanel Pre order"

pesan sesuai karakter yang kamu inginkan :)
Cocok Buat kado unik yang different...

Tinggi boneka : 17 cm,
Box : 20 cm

Harga : Rp 30.000 ( + Box )

Pesen :
- Komen di FB
- Message ke inbox
- Sms 085647200900 ( no call )
atau 
" Flanel boneka wisuda "











Cocok Buat Souvenir Wisuda...

Tinggi boneka : 17 cm,
Box : 20 cm

Harga : Rp 25.000 ( + Box ) + Rp 2.000 ( tambah papan nama )

Pesen :
- Komen di FB
- Message ke inbox
- Sms 085647200900 ( no call )
 
sebenernya masih banyak macem yang udah di order, cuma camdig mendadak ngadat rusak. yawes.. ini dulu aja.. sapa aja yang minat , feel free to order yak :)
 
 

18.10.10

Another Party

Masih ditulis seputar Acara Ulang Tahun,

Ternyata ada yang protes setelah artikel terakhir sudah dipublish, si kecil bongsor yang ngaku- ngaku kecewa namanya nggak disebut di blog. he he he. Padahal sengaja loh, aku pengen tulis yang lain- lainnya menyusul, soalnya dalam waktu sebulan ini aku pengen ngisi blog ini dengan semarak ulang tahun and anniversary. Bulan ini kan bulanku yang BAIK. Pengennya sih tiap hari khusus bulan ini aku mau nulis terus, mau publish terus, itung- itung sebagai hadiah dari diri sendiri. Tapi niatku ini terhalang kendala sarana dan prasarana, modemku tersayang itu koneksinya empot- empotan hingga buat buka blogspot aja loadingnya lambretaa. Alhasil emang rencana manis itu gagal jua. Harap maklum, karena untuk ke warnet dan nulis panjang- panjang seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu artikel saja bisa sampai sejam! Fiuhh, berat di ongkos, bang...

Pada akhirnya artikelku yang ini kudedikasikan khusus untuk adikku tersayang, Anindut tidak bisa gendut, dan segenap keluargaku, yang mana aku menyayangi mereka sangat- sangat. Di pergantian tanggal delapan kemarin memang nggak ada yang membangunkanku tengah malam seperti biasanya (memang dasarnya aku juga belum bobok dan asyik telepon- teleponan dengan kekasih.hehe). Namun, justru pas pergantian tanggal sembilan, aku yang belum juga bobok, dikagetkan dengan kilau pendar sinar dari empat batang lilin yang ditancapkan di sebuah tart ukuran moderate. Taraaaaaaaaaa!!!
 
 


'Happy birthday to youuuu'

 
Si cantik itu berdiri dan tertawa- tawa dengan membawa tart berwarna kuning di tangannya. Malam itu, ia memakai kaos orange yang dulunya memang pernah menjadi kaos kesayanganku, judulnya 'Little Girl Big Dream'. Dengan senyumnya yang sok dimanis- maniskan, akhirnya ia nyelonong juga masuk kamar.

'Tart nya dari Ibu dan Bapak', katanya. 'Tapi beliaunya capek, jadi nggak tak bangunin', lanjutnya masih dengan ringisan tawa. Aku mengangguk dan tersenyum- senyum ceria.

'Iyoooo.. maturnuwuuun...', balasku.

Sebentar kemudian, setelah kutiup, api di atas lilin sudah padam. Kali ini aku memang make a wish, tapi singkat, aku cuma pengen diberi kemudahan dalam perkara kelulusan. Amin.

Selanjutnya, ia memberiku sebuah bingkisan mungil. Penasaran sih, jadinya langsung kubuka, dan taraaaaaaaaaaaaaa....

 
 
 
Sebuah dompet berwarna dominasi putih dan sedikit hijau. Cocok ini sih, pas banget mengisi kebutuhanku. Pasalnya memang aku baru membutuhkan sebuah dompet baru untuk mensubtitusi dompetku yang lama yang sudah buluk.

Sedikit bercerita, dompetku yang lama berwarna hitam merk Milk Teddy itu aslinya juga dompet pemberian. He he he. Ceritanya, beberapa tahun silam, tepatnya sekitar tiga setengah tahun silam, temenku yang bernama Fatmanissa Prima Ayunda sedang berbaik hati, hingga pas ia belanja di mall, ia membelikanku dompet itu. Sampai sekarang bandrol harganya tidak kuhilangkan loh, jadi masih menggantung seperti pada mulanya. He he he. Wah, awet juga yah ternyata, lihat nih, meski sudah tua, tapi fisiknya lumayan masih keren. Itu juga sih yang menjadi alasan aku tidak membeli dompet baru selama ini, yah selain alasan pengen ngirit. he he he  

Malam itu, dompet pemberian si adik yang juga ber -merk Milk Teddy, langsung kugunakan. Semua barang- barang termasuk bon- bon dan kartu nama dari dompet lama migrasi ke dompet warna putih. Finally, dapat free dompet baru juga, he he he

Thanks my lil sist.. *kecuppp
Sementara itu, tart- nya aku simpen di dalam kulkas, dengan pertimbangan besok malam kita kerumah simbah, pasti keponakan pada ngumpul, jadi bisa dimakan bareng- bareng sama mereka.

Benar saja, hari Sabtu sore, sepulang dari acara anniversary BAIK, aku sekeluarga kerumah simbah. Dirumah simbah sudah ngumpul keponakanku yang lucu- lucuuuu.. Ada Rizal, Faizal, Rayhan, Galang, Fajar, Dian dan kembaranku, Riris. Kenapa kok aku menyebut anak kecil ini kembaranku? adalah karena dia lahir di tanggal dan bulan yang sama persis dengan tanggal bulan lahirku. 
 
 
 
Riris, atau Kharisma Wahyu Pambangun (di gambar diatas memakai hem warna merah), memang lahirnya sama persis denganku, hanya saja anak laki- laki gendut itu lahir di tahun 2003. Jadi selisih usia kami genap 15 tahun. Selama ini, kata banyak orang, ia lebih tepat menjadi adik kandungku. Menurut mereka, karena karakter sifat dan bentuk wajah kita yang serupa. Hanya saja kulitku agak terang, sedangkan ia hitam legam. he he he

Malam itu, karena dia juga masih terbius euphoria ulang tahunnya, kontan saja dikiranya tart ini dibelikan khusus untuk ngrayain ultahnya. Nggak papa lah, itung- itung menyenangkan hatinya. he he he

Selesai bernyanyi, kita potong kue, dan memang sengaja dari awal hingga akhir acara, tokoh utamanya adalah Riris.

Happy birthday, ya Riris sayang..

Cepat gedhe dan jangan nakal!
yang sangat jelas, diharapkan jangan mewarisi sifat dan  karakter yang buruk dari mbakmu ini.
 
amiiinn ya robbal alaminn :)
 

9.8.10

My Future dream II

Sebelum membaca yang kedua, akan lebih bijaksana apabila meluangkan sejenak waktu untuk membaca part I disini.

Siang ini kau sudah meneleponku lebih dari tiga kali, setiap kali kuangkat, kau selalu tertawa kecil dan berbisik tak bisa berkata banyak. Katamu, ada surprise yang ingin kau ungkapkan padaku, tapi tidak bisa kau katakan lewat udara, melainkan harus bertatap muka. Aku semakin penasaran dan tak sabar menunggumu pulang dari kantor. Seharian penuh aku terus menerka- terka semua kemungkinan surprise yang kau maksud. Tapi nihil. Aku tak bisa menerka. Kau begitu pintar membungkus surprise itu.
Sorenya ketika kudengar suara mobil yang kau kendarai itu, aku segera keluar rumah menuju garasi. Aku bersama si bungsu yang berjalan tertatih- tatih. Kau keluar dari pintu mobil sebelah kanan, sementara si sulung berlarian ke arahku setelah menutup pintu mobil sebelah kiri. Hari ini hari pertama si sulung masuk Sekolah Dasar Terpadu, seperti impian kita sejak dulu, akhirnya si sulung kita sekolahkan ke salah satu sekolah terpadu unggulan di kota ini.
Kau tersenyum sangat lebar dan segera mencium keningku berikut mencium si bungsu yang kegirangan menyambutmu. Kau membisikkan kalimat yang tak pernah lupa kau ucapkan padaku, begitu ekspressive.
‘I love you, bunda’, bisikmu. Kemudian kubalas dengan senyum manja sambil mengendorkan ikatan dasimu. Kini si bungsu tak meronta, ia sudah bisa berdiri sendiri dengan pijakan kedua kakinya.
‘I have something for you, dear’, katamu pada si bungsu setelah mensucikan kaki dan tanganmu di kran air depan rumah. Kau selalu melakukannya sebelum masuk rumah, dan memang itu menjadi salah satu aturan di keluarga kecil kita. Barangsiapa baru saja datang ke rumah setelah bepergian, maka harus mensucikan diri dulu sebelum masuk ke dalam istana kita. Kau dan aku tak pernah menginginkan ada syaitan yang masuk melalui kotoran atau najis yang menempel di jiwa atau raga kita. Semoga Alloh SWT selalu menjaga kesucian istana kita yang sederhana ini dengan kuasaNYA. Amin.   
Si bungsu merengek padamu, makhluk kecil itu seakan mengerti arti dari kata- kata yang baru saja kau ucapkan. Wajahnya yang lucu terus menempel mendekapmu. Aku selalu tertawa melihat tingkah lucunya itu. Sementara kau menggoda si bungsu dengan bingkisan kecil yang kau bawa, aku mendekati si sulung yang juga baru saja selesai mensucikan kaki dan tangannya dari najis.
‘Hows your day, dude?’, tanyaku. Aku membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengan kedua jagoan kecilku ini. Ini salah satu mimpiku, bahkan sejak sebelum kita menikah, aku selalu mengusulkannya padamu tentang berbagai caraku mendidik mereka, dan kau dengan bijaksana selalu menyetujuinya. Ini demi kebaikkan mereka. Aku ingin mendidiknya menjadi seorang multilanguage, selain terbukti sangat membantu proses akuisisi bahasa anak, juga meningkatkan potensi otak mereka, informasi tersebut kudapatkan saat aku mengikuti kuliah ‘Language Acquisition’ di Jurusan Sastra Inggris beberapa tahun silam.
Si sulung meraih tanganku, mencium punggung tanganku dan menempelkan kedua pipi chubby-nya ke kedua pipiku bergantian. Ia berucap dengan semangat.
‘Everything’s alright, Bunda.. I’m happy’, teriaknya girang, sambil setelah itu aku membantunya melepas tas punggung warna hitam bergambar robot dari punggung. Ia sendiri yang kemudian menjinjing kedua sepatunya ke dalam rumah dan meletakkan di rak sepatu.
‘Good job, sayang!’, pujiku untuk kemandirian jagoan cilikku itu, diikuti jempol yang kuarahkan kepadanya. Dia membalasnya dengan gesture serupa, sambil tentu saja melemparkan senyum, senyum berlesung pipit, senyum yang manis seperti senyummu; senyum Papanya.
Tak lama setelah banyak bercerita mengenai hari pertama di sekolahnya, si sulung mengajak si bungsu bermain di ruang tengah. Beberapa robot- robotan dan miniature motor gede tumpah ruah di hadapan mereka. Di tengah keasyikan mereka bermain berdua, kau mendekatiku. Kau membelai rambutku yang panjang dan tetap kupelihara hitam. Kau menatap kedua bola mataku dalam. Kemesraan ini sama persis dengan hari – hari yang lalu. Dalam sayup- sayup suara gaduh di ruang tengah, kau ungkapkan surprise yang sedari tadi sudah kutunggu.
‘Bunda, aku dipromosikan!’, katamu sambil mendekap tubuhku. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang meluap-luap di hati dan terpancar di wajahmu.
‘Alhamdulillah, I love you, hanii… jangan lupa bersyukur, sayang’, aku menyambut dekapanmu, sangat erat. Aku sangat bahagia mendengar surprise yang baru saja kau ucapkan itu. Kau dan aku tak bisa berhenti mengucap syukur dari semua rasa bahagia tiada tara ini. Terimakasih ya Rabb, Engkau selalu melimpahi keluarga kecil kami dengan barokahmu.   Alhamdulillahirabil’ alamin… 



** an extraordinary dream in my ordinary life :) 
IKHA OKTAVIANTI



           

8.8.10

She's my Favorite!

Sabtu, 7 August 2010

Congratulatiiiioooonn!!!




Yup!
She's my lil sister. Setelah sekitar sebulan lalu saya menulis tentang dirinya disini. Kini , di postingan ini, saya bermaksud kembali mengungkapkan kebanggaan saya padanya. Ya, Sabtu kemarin, adik perempuan saya yang cantiknya selangit tapi sedikit jutek dan cerewet itu dinobatkan sebagai Putri Favorite di sekolahnya. Congratulation, sist :)

Sedikit ingin flash back, sekaligus menceritakan sekilas usahanya mendapatkan gelar itu, maka akan saya tuliskan beberapa potongan kisah yang berkaitan dengan acara penobatan tersebut.

Sejak hari Senin, adik saya yang sudah mulai berani berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor sendiri itu pulangnya selalu sore hari. Bukan karena ia 'tersesat' mencari jalan pulang kerumah, tapi karena di sekolah ia mendapatkan kepercayaan mewakili kelasnya untuk maju di ajang pemilihan Putra Putri SMAGA. Praktis, dalam jangka waktu seminggu, terhitung sejak Senin sampai Sabtu, ia harus mengikuti seleksi bertahap, mulai dari tes akademik, tes bahasa asing, tes potensi & kepribadian, tes bakat, dan yang terakhir final perfomance.

Mulanya, pada hari pertama, ia mengaku merasa tak yakin bisa mengerjakan tes akademik, disebabkan ia merasa tidak begitu konsentrasi ketika mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh panitia yang notabene adalah guru-gurunya sendiri. Kendati mengaku sudah agak menyerah, rupanya ia tak menghentikan usahanya sampai hari pertama saja.

Pada hari kedua, ia berusaha tampil maksimal dalam menyelesaikan tes wajib selanjutnya, yaitu pidato bahasa asing. Adik saya memutuskan untuk memilih pidato dengan bahasa Inggris, ia merasa lebih yakin dan percaya diri dengan kemampuannya menggunakan bahasa internasional tersebut. Saya cukup mengetahui kerja keras adik saya ini, pasalnya saya melihat sendiri, pada malam hari menjelang hari kedua, ia tak hentinya berlatih berpidato, agaknya ia ingin menyempurnakan pronunciation berikut vocabulary berkenaan dengan topic pidatonya. Seingat saya, adik saya mengangkat topic pidato 'THE DANGER OF SMOKING', saya tahu betul, ia sengaja menginvasi modem dan laptop demi browsing materi berkenaan dengan topic yang diangkatnya tersebut. Salut pada perjuangannya.

Tak hanya menyelesaikan tes pidato bahasa asing, pada hari kedua ia juga harus mengikuti tes potensi dan kepribadian. Berdasarkan ceritanya sepulang sekolah, ia banyak mendapat compliments dari guru yang mengetesnya. 'Ibu guru menilai saya anak yang cantik dan sholehah , mbak', ungkapnya malu- malu kepada saya, dan tentu saja saya segera mengamini-nya.

Hari ketiga adalah hari yang menyenangkan baginya, karena menurutnya pada hari itu hanya dilangsungkan tes bakat. Tanpa berpikir panjang, adik saya memilih untuk unjuk bakat menari tarian jawa. Ya, saya pun merasa sangat yakin adik saya bisa menuntaskan tes bakat  dengan tanpa masalah. I know, she's surely a talented dancer.  

Hari keempat adalah hari pengumuman seleksi awal, saya dan ibu serta bapak jelas menantikan kabar adik saya sepulang sekolah. Dan ternyata, she got it! Ia mengaku gembira karena berhasil menjadi salah satu finalis yang masuk 10 besar dari sekitar 25 pasang perwakilan kelas. Dari 10 finalis tersebut akan diambil 2 pasang terbaik, sepasang Putra Putri Sekolah, dan sepasang lagi adalah Putra Putri Favorite. 

Sejak pulang sekolah pada hari keempat, saya, ibu serta bapak saya gencar mengirim SMS dukungan untuk adik saya. Ya, layaknya ajang pemilihan Putra Putri yang lain, ajang pemilihan Putra Putri di sekolah adik saya pun mengaplikasikan sistem yang sama dalam pemberian dukungan, yaitu dukungan diberikan melalui SMS. Saya sekeluarga sangat antusias mendukung adik saya tersayang, tak heran, selain meminta dukungan dari kerabat dan teman- teman dekat, kami juga membeli banyak kartu perdana semata hanya untuk mendukung adik saya dalam ajang sederhana itu. Kami mengumpulkan HP bekas layak pakai yang sudah lama kami museumkan. Meskipun masih saja ngadat- ngadat ketika difungsikan, but, they're really helpful at that time.


Pada hari kelima, sepulang sekolah, saatnya adik saya melengkapi semua perlengkapan demi meraih predikat the best performance pada hari pemilihan. Terus terang, untuk urusan baju kebaya sudah beres, hanya kurang sandal highheels, dan sedikit malang, karena adik saya mempunyai ukuran kaki jumbo, sama dengan ukuran kaki saya. Alhasil, saya dan adik saya harus ngubres kios- kios sepatu sandal yang menyediakan ukuran jumbo demi mendapatkan sepasang sandal highheels yang nyaman dipakai untuk berjalan berlenggok- lenggok di atas panggung.  Setelah merasa cocok dengan highheels pilihannya sendiri (yang banyak dipengaruhi saya), adik saya saya antarkan kembali ke sekolah untuk mengikuti gladi bersih. Menurut ceritanya, saat gladi bersih, ia ditatar untuk latihan berjalan ala model catwalk, tentunya dengan memakai highheels yang baru saja kami beli.

Hari keenam adalah hari Sabtu, yaitu hari dimana akan berlangsung acara pemilihan Putra Putri di sekolahnya. Sesuai yang dijadwalkan, adik saya harus datang ke sekolahnya sebelum pukul 11 WIB. Namun, untuk memaksimalkan persiapan,  adik saya memutuskan untuk datang lebih awal. Pagi harinya, sekitar pukul 8 WIB, saya mengantar adik saya ke salon kecantikan untuk make up. Setelah dandanan beres, sekitar pukul 9.30 WIB, saya meneleponkan taksi untuk mengantarkan adik saya menuju ke lokasi ajang pemilihan a.k.a ke sekolahnya di SMA Negeri 3 Surakarta, maklum saya belum bisa menyetir, dan kebetulan hari itu juga Bapak sedang ada acara, sehingga taksi menjadi sebuah pilihan terakhir dan boros. Saya sendiri setelah selesai membereskan biaya salon, juga langsung menyusul adik saya menuju ke sekolahnya. Ya, saya sudah janji akan mengantarnya sampai sekolah, biarpun kami menggunakan alat transportasi yang berbeda, setidaknya saya ingin menyemangatinya sampai gerbang masuk sekolahnya. Seperti komen saya di status FB nya, saya mengingatkannya untuk terus semangat : Keep spirit, keep smiling, you're the best!

Saya tidak diperkenankan masuk ke dalam lokasi sekolah, alasannya karena yang sedang digelar merupakan acara internal. Jadi, saya kemudian pulang kerumah dan tetap dengan semangat memberikan dukungan SMS untuk adik saya yang saya kirimkan ke nomor hot line yang telah ditentukan oleh panitia.

Setelah penantian yang diliputi kekhawatiran, sekitar pukul 1 siang, adik saya mengirim pesan singkat, ia mengabarkan bahwasanya  setelah menjawab pertanyaan dari juri, ia dinyatakan berhasil masuk 5 besar. Dalam pesan singkatnya dia juga menulis bahwa acara selanjutnya adalah acara penentuan, yaitu pemilihan juara umum dan juara favorite, ia minta doa dari kami, saya, ibu, serta bapak. Kami yang dirumah jelas meloloskan permohonannya, kami senantiasa mendoakan yang terbaik untuk adik saya.

Tak lama berselang, sekitar satu jam berikutnya, adik saya kembali mengirim pesan singkat ke nomor HP saya. 'Mba, jemput sekarang', tulisnya. Saya tak sabar mendengar hasil usaha kerasnya dalam ajang pemilihan Putra Putri itu, sehingga saya langsung menanyakannya lewat balasan pesan singkat saya. 'Juara berapa?' tanya saya via SMS. Sambil bersiap menjemput adik saya, saya menunggu balasan SMS darinya, dan beberapa menit kemudian dia membalas SMS saya :

'Juara Favorite!'

Saya kegirangan, saya langsung mengabarkannya pada ibu dan bapak yang juga tak sabar menunggu hasil jerih payah adik saya. Bapak dan ibu tersenyum bangga, demikian juga saya. Beberapa menit kemudian kami meluncur menjemput adik saya di Sekolahnya.

Dia sedang berdiri, dengan sebuah selempang melingkar di tubuhnya, sebuah piala digenggamnya, dan sebuah bucket bunga dalam dekapannya. Dia tersenyum lebar, merasa gembira dengan predikat yang kini disandangnya. Standing applause for her- my lil sister!

Dia memang bukan juara umum, dia juara favorite, entah kriteria apa saja yang menentukan penilaian sebagai Putri Favorite 2010, yang jelas kami sangat bahagia sekaligus bangga tiada terkira. She deserves it.

Adik saya memang bukan juara umum di sekolahnya, tapi ia juara umum di hati kami, keluarganya.

Mba bangga padamu, sist..

Jangan puas sampai disini,
ajang yang lain masih menanti...

Keep moving forward ya cah ayu :) 


Preparation



Grand Final



diary of an ordinary

Ikha Oktavianti


3.8.10

Tamasya Keluarga

Minggu, 25 Juli 2010

Seperti sebelum dan sebelum dan sebelumnya lagi..rutinitas tamasya bareng memang selalu menjadi agenda terjadwal di keluargaku. Seperti halnya liburan semester ini, kita meluangkan waktu tamasya ke Jogja. Tepatnya hari Minggu, tanggal 25 Juli 2010, aku, adekku tercantik, serta bunda dan ayah tersayang berangkat ke Jogja dengan destinasi di Kaliurang, Baron, dan Malioboro. Yah, meskipun sudah berkali- kali ke Jogja sendiri, tapi ternyata berangkat sama keluarga lebih asyik berlipat loh.. (yaiyalah, secara transportasi dan akomodasi kan semua lovely parents yang atur, hahaha)

Dan inilah cerita ceria kami berempat :)


Anindut, adekku tercantik dan terimut sepanjang masa,
lagi pose di depan entrance Taman Nasional Gunung Merapi
Kaliurang


 Aku dan adekku, 
we're totally purple XD


 Bertiga sama si Bos Besar (bukan bodynya :P)


VVIP
Very Very Important Person 
The best people in my life :*


 Bunda dan adek


Bapak : wes rakuat gendong nduk.. awakmu sak gajah
tak geret wae yoo.. wkwkwk


mmm.. narcisus erectus


Narcisus erectus part II


The narciest ever!


Biarpun mata ini terpejam, aku tau mereka ada disini, disampingku
dan akan disini, selalu, selamanya...


Disini di bola dunia :)


 Alhamdulillah sudah berlabuh di Baron ..


Merdeka!!


Kapal Mina Baron 40


 Kekasih selamanyaa...


kemesraan inii.. akan kukenang selaluuu...


Cewe matre kelaut ajeeeeeee...


 Gadis layang- layang..


Ke Malioboro nye naek becak..




Diary of an ordinary

25/07/2010

Ikha Oktavianti