Siang yang sangat cerah, dan aku sedang bertugas menjemput jagoan kita pulang sekolah.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku sengaja mampir dulu ke sebuah swalayan langganan kita untuk membeli beberapa kebutuhan. Di dalam swalayan, jagoan kita terus saja mengekor dibelakangku, ia layaknya bodyguard kecilku. Dan seperti biasa, dari mulut kecilnya itu terus-terusan terlontar pertanyaan yang ditujukan kepadaku. Pertanyaan yang selalu saja diluar tebakan kita. Pertanyaan yang kadang membuat kita berdua kewalahan untuk menjawabnya. Pertanyaan cerdas jagoan kecil kita :)
Siang ini, ia bahkan belum sempat bercerita mengenai pelajaran di sekolahnya, tapi bom pertanyaan sudah dimulai..
'Bunda, KAYA itu apa?', tanyanya saat kami berdua sedang asik memilih rasa es krim favorit di box freezer di ujung swalayan.
'KAYA itu ketika kita punya uang lebih, dan kita bisa memberikan sebagian untuk disedekahkan pada orang yang tidak mampu..', jawabku sekenanya, sambil sesekali memperhatikan tangan kecilnya ikut memilah- milah es krim cone yang menjadi favoritnya.
Mendengar jawabanku, ia terdiam sejenak. Berhenti memilah es krim dan mengeluarkan tangannya dari box freezer.
Setelah mengelap tangannya yang masih dingin itu dengan tissue, kemudian ia menggeledah tasnya sendiri. Mengeksplorasi setiap bagian tas bergambar robot itu.
Aku sengaja tak bertanya, kubiarkan ia sibuk menggeledah tasnya sendiri, sementara aku berjalan menuju bagian kasir.
Beberapa menit kemudian, ia berlari kecil menghampiriku yang tengah berdiri di deretan antrian depan kasir. Wajahnya murung. Sepertinya ia tak menemukan sesuatu yg dicarinya dari dalam tas.
'Sedih kenapa, mas?', tanyaku pada akhirnya. Tapi ia hanya diam, lalu menggeleng. Hingga akhirnya tiba giliranku membayar barang belanjaanku di kasir.
------------
'Bunda, bunda.. mas minta uang seribu rupiah ya..'', rengeknya tiba-tiba saat melihat petugas kasir menyodorkan beberapa lembar ribuan sebagai uang kembalian kepadaku.
'What's for, dear?', tanyaku setengah curiga, sambil kutatap wajah berlesung pipit itu.
'Mm.. Bundaa.. Sisa uang saku mas hilang.. Tadi... tadi masih ada di tas.. ', air mukanya berubah kecewa.
'Then?', cecarku.
'Mas ingin jadi orang kaya. Mas ingin memberi sisa uang saku untuk kakek yg diluar itu...', jelasnya sambil mengarahkan telunjuk ke arah pengemis tua berpakaian kumal yang duduk di depan pintu masuk swalayan.
Aku tersenyum sambil merogoh kembali beberapa ribuan dari dompet kuningku. Kusalurkan beberapa lembar rupiah ke tangan kanannya.
'Thank you so much, Bunda..', ucapnya sambil bergegas mendahului langkahku keluar dari swalayan.
Tepat di depan pintu, ia menghentikan langkahnya dan memberikan lembaran rupiah yang digenggamnya kepada pengemis tua itu. Kulihat ekspresi jagoanku berubah gembira.
_______
'Sekarang mas kaya ya, Bunda?', tanyanya saat kami berdua berjalan menjauhi swalayan. Aku mengangguk pasti. Tak ada rasa yang lain tersemat dalam hatiku kecuali rasa syukur kepada Tuhan karena memperkenankanku menjadi bunda dari jagoan kecil kita yang KAYA hatinya.
Alhamdulillah ^^
#adegan ini akan terjadi pada waktunya nanti, insyaallah :)
#terinspirasi dari beberapa adegan saat bersamamu beberapa waktu yang lalu :)
“Setelah lulus, aku akan mengambil kuliah lanjutan di luar negeri…” begitu ucapnya tadi siang. Aku hanya mengangguk ketika ia mengucapkan keinginannya itu. Sungguh bukanlah sebuah impian tinggi bagi seorang Sandra untuk bisa mewujudkan keinginannya yang bagiku serasa mustahil itu. Sandra anak orang kaya, bapaknya pejabat tinggi di kota metropolitan sana, ibunya juga bukan sembarang ibu rumah tangga, beliau dari keturunan orang berada. Tak heran jika Sandra, teman dekatku itu, dari kecil sampai sekarang tumbuh sebagai si kaya tanpa cela. Di Solo ini, Sandra tinggal bersama neneknya, ia tak tinggal dengan orangtuanya di Jakarta karena ia lebih memilih hidup tenang di kota kecil yang damai seperti disini. Malam ini entah sudah berapa kali terlintas dipikiranku tentang Sandra dan kenikmatan hidupnya.
“Ah, andai saja aku juga terlahir dari keluarga kaya raya, pasti aku juga bisa dengan enteng bicara kuliah lanjutan diluar negeri,” gumamku dalam hati, sambil menelusupkan jarum jahit pada kain flannel berpola yang kupegang. Minggu ini pesanan hiasan dari flannel sedang ramai, hingga belakangan aku kerap terpaksa tidak tidur untuk menyelesaikan pesanan. Meski yang terkumpul dari penjualan hiasan flannel itu masih uang kecil, tapi lumayan bisa menutup biaya kebutuhan hidup sehari- hari.
Beda dengan Sandra, aku memang terlahir dari keluarga yang diliputi kesederhanaan. Bahkan untuk urusan pendidikan, sampai detik ini Bapakku belum sempat menamatkan pendidikan S1 nya. Bisa dibilang sebuah keberuntungan karena dua puluh lima tahun silam beliau terjaring sebagai siswa teladan di sekolah kejuruan hingga kemudian mengantarkan beliau masuk sebagai salah satu tenaga pengajar berstatus Pegawai Negeri Sipil. Sementara ibuku sedikit lebih beruntung karena pada akhirnya dua tahun yang lalu beliau bisa menamatkan pendidikan kesarjanaannya. Aku tentu saja bangga, meski ibu meraih titel SP.d pada usia yang sudah kepala empat, tapi beliau masih bersemangat. Sama dengan Bapakku, Ibu pun juga sudah sejak dua puluh tiga tahun yang lalu terdaftar sebagai tenaga pengajar berstatus Pegawai Negeri Sipil. Yah, itulah kedua orangtuaku, bagi mereka, usia bukanlah halangan bagi siapapun yang ingin meraih cita-cita mulia. Pelajaran itu pula yang membuatku tetap survive sampai detik ini. Detik perjuanganku meraih gelar sarjana diusia muda. Meskipun banyak halangan dan kendala, tapi aku masih berharap bisa lulus sebelum tahun ini berganti.
Bukan hal yang baru bagi mahasiswa Sastra terutama Sastra Inggris, bahwa sistem kependidikan dan kelulusan di jurusan bersifat ekstrim dan berbeda dengan jurusan lainnya. Baik sistem perolehan nilai indeks prestasi maupun rata- rata lama studi, keduanya sama sulitnya. Bagiku, ini awalnya cukup menyiksa, mengingat banyak kawan dari jurusan lain sudah berkesempatan memakai toga di acara pengukuhan wisuda sarjana, sementara aku masih tertatih mengerjakan skripsi yang berulang kali harus revisi dan berulangkali pula harus nganggur karena ditinggal pembimbing kabur ke negeri tetangga. Namun itu dulu, sekarang aku dan semua teman jurusanku sudah hafal dengan keadaan dan kurasa cukup bisa legawa menerima kenyataan. Kalaupun masih saja ada yang menyindir dengan maksud memberi motivasi tapi melampaui batas, semuanya akan disimpan sebagai ungkapan perhatian saja. Ah, yang penting kan aku dan teman- teman seperjuangan di jurusan sudah mengerjakan sesuai prosedur jurusan.
Yah, beginilah aku, setiap kali bicara tentang kelulusan, setiap kali itu pula aku merasa perlu menjelaskan bahwa aku sudah melakukan apa yang dilakukan oleh mahasiswa yang ingin mempercepat waktu mendapatkan gelar kesarjanaan. Kalaupun banyak yang kecewa atau mencela karena keterlambatan yang memang sudah mentradisi di jurusanku ini, aku akan sangat paham.
Pikiranku kembali lagi menghadirkan Sandra dan kehidupannya. Beruntung benar ya, dia dulu masuk universitas ini lewat jalur swadana dan diterima di jurusan yang lumayan mudah prosedur kependidikannya. Mungkin juga predikat bapaknya yang pejabat itu memberi semacam ide atau inspirasi baginya memilih masuk jurusan Hukum. Ah, yang jelas pilihan Sandra kala itu adalah pilihan yang sangat tepat. Sama sepertiku, pilihanku mengambil kuliah di jurusan Sastra Inggris adalah pilihan yang beralasan dan aku mempercayai sebagai pilihan paling benar.
Aku dan Sandra sudah berkawan sejak SMP. Sandra seorang sahabat yang baik bagiku. Semua yang ada didirinya itu dambaan setiap gadis remaja, cantik yang natural, kulit yang putih bersih, rambut yang indah terawat, tubuh yang sintal semampai, serta senyumnya yang murah dan manis, aku berani menjamin siapapun yang melihat sahabatku itu pasti terpana. Meskipun ia dari kalangan orang atas, tapi tak pernah kutemukan sedikitpun bakat congkak di dirinya. Kalaupun ia pernah mengatakan cita-cita dan keinginan yang terlampau tinggi bagiku, tapi aku tak melihatnya sebagai sikap sombong, ia manusia normal yang mempunyai hak merencanakan masa depan sebaik mungkin layaknya orang kebanyakan.
Siang tadi memang aku dan ia janjian bertemu di sebuah warung makan sederhana favorit kita sejak SMA. Seperti sudah tidak bertemu dalam waktu yang lama, sehingga kami pun saling berbagi cerita hingga menyinggung cita- cita. Aku tak menyalahkan Sandra yang berbangga hati mengatakan Desember nanti dirinya sudah mendapat jatah kursi wisuda. Meskipun kala itu ia tak beruntung masuk universitas melalui jalur SPMB hingga terpaksa masuk melalui jalur swadana, itu bukan berarti ia tak pintar. Sebaliknya, ia sangat cerdas dan kukira bukan perkara yang sulit baginya meraih gelar sarjana secepat itu. Apalagi kudengar indeks prestasi komulatif kelulusannya mencapai rentang predikat cumlaude atau dengan pujian. Lengkap sudah bahagia dalam hidup seorang Sandra dimataku, termasuk cita- citanya mengambil kuliah lanjutan di negara tetangga itu.
Malam ini, dengan dibantu ibu, aku menyelesaikan hampir sepuluh hiasan flannel berbentuk boneka wisuda. Pekan depan memang ada wisuda periode pertama bulan September. Cukup menyenangkan mendapatkan pesanan cukup banyak dalam waktu seminggu ini, tapi juga menyedihkan karena boneka – boneka itu seakan mengingatkan perjuanganku mengejar wisuda. Ya sudahlah, semoga esok hari Dosen pembimbingku sedikit bersahabat denganku sehingga berkenan mempermudah jalanku untuk segera mewujudkan kelulusan yang didamba olehku dan semua orang yang menyayangiku itu.
Diam- diam aku mencuri pandang ke arah wajah lelah ibuku. Ia salah satu yang rasa sayangnya padaku tak pernah kuingkari. Wanita yang warna hitam pada rambutnya sudah pudar dan memutih itu tampak sangat letih malam ini. Namun jarinya masih cekatan menelusupkan jarum pada pinggiran kain flannel berpola. Ibuku memang luar biasa, meski hidup terasa semakin berat karena harga bahan kebutuhan yang selalu meningkat, tampaknya semangatnya masih berlipat. Tiada keluh kesah yang diucapkan, hanya senyum indah yang selalu bisa menghadirkan ketenangan. Aku sangat beruntung mempunyai ibu seperti beliau, meski bukan seorang ibu rumah tangga yang bisa mengawasi buah hatinya secara ekstra, tapi perhatiannya berkualitas luar biasa.
Sandra sering mampir kerumahku yang sederhana ini, ia bahkan sudah sangat akrab dengan keluargaku, dengan adik, bapak, dan ibuku. Sehingga apabila ada cerita tentang Sandra, mereka bisa mengikuti bahkan terkadang ikut menimpali. Namun malam ini aku tak bercerita banyak tentang pertemuanku dengan Sandra. Yah, aku tak ingin melihat ibu dan Bapak semakin berat berpikir tentang kesenjangan sosial yang semakin nampak diantara aku dan Sandra. Ibu hanya berpesan agar tetap berkomunikasi dengan Sandra meskipun kami sudah berbeda jurusan, lebih lanjut beliau berpesan agar kami tetap bersahabat meskipun nantinya jarak memisahkan kami karena pekerjaan. Aku diam saja dan mengangguk tanda setuju. Dalam hati aku berjanji, semua pesan ibu akan kuturuti. Sandra akan selalu menjadi sahabat baikku selamanya, meskipun diantara kami ada jenjang yang tak nampak. Pada ibu aku berucap, jika suatu saat jarak memisahkanku dengan Sandra, itu bukan hati kami yang akan merasa tetap dekat dan lekat. Lalu ibu tersenyum, sangat lega dan menenangkan.
Sejak tadi aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan kuajukan kepada Bu Ari, guru PPKn di kelasku. Mungkin, bagi yang sudah beberapa kali mengalaminya, pertanyaanku bisa saja dianggap sepele. Tapi bagiku yang baru menapaki usia ke-17 –yang notabene kali pertama bisa ikut berpartisiasi dalam Pilpres- semua masih tampak samar-samar.
Ya, sampai saat ini aku belum punya gambaran sama sekali tentang figure presiden yang akan kupilih besok. Sudah beberapa kali aku mencoba mencari tahu tentang sosok-sosok tokoh pasangan calon presiden dan wakil presiden itu lewat berita di Koran atau di televisi. Namun, sungguh sulit menentukan figure mana yang paling pas kucoblos besok. Semuanya sama baiknya.
Bel berdentang dua kali menandakan saat istirahat tiba. Bu Ari mengakhiri pelajaran dengan senyum ramahnya, kemudian mengemasi buku-buku di meja dan melangkahkan kaki meninggalkan ruang kelasku. Dengan segenggam pertanyaan, aku mendekati Bu Ari. Kukejar dia yang berjalan menuruni tangga.
“Boleh. Apa ada pelajaran yang nggak kamu ketahui, Nis?” jawab Bu Ari sambil menoleh ke arahku.
“Bukan, Bu. Saya ingin bertanya tentang penggunaan hak pilih dalam Pilpres besok. Begini Bu, bulan lalu usia saya sudah memasuki 17 tahun. Berarti bulan September nanti saya bisa ikut nyoblos dong, Bu?”
“Iya, kamu bisa ikut andil dalam Pilpres tahap terakhir nanti. Agar kamu bisa ikut nyoblos, kamu harus minta kartu pemilih tambahan ke kelurahan dimana kamu tinggal, melalui Ketua RT.”
“Lalu, kira-kira siapa yang pantas dicoblos, Bu?”
“Saya nggak bisa menentukan pilihanmu. Saya juga tidak bisa mengharuskan kamu memilih Capres yang saya pilih. Saya hanya bisa menyarankan, pilihlah Capres yang sesuai dengan hati nurani kamu, Anis.”
“Maksudnya apa, Bu?”
“Anis, untuk mewujudkan cita-cita Negara yang berdemokrasi, Pemerintah Indonesia memberi kesempatan kepada rakyatnya untuk memilih figure pemimpin yang pantas memimpin negara ini. Yah…melalui Pilpres itulah kita dapat memilih langsung siapa yang kira-kira pantas memimpin negara ini. Sesuai dengan hati nurani kita, maksudnya adalah menurut kata hati dan pengamatan kita selama ini, sudahlah tentu kita punya seseorang yang klita pandang mampu untuk menduduki kursi presiden, bukan karena janji-janjinya yang muluk atau karena kecantikan atau ketampanannya lho…,” Bu Ari tersenyum sambil mengelus kepalaku.
“Lalu karena apa, Bu?” aku minta penjelasan beliau yang lebih rinci.
“Yah…mungkin karena kepandaiannya dalam mengatasi suatu masalah atau karena peran sertanya dalam membangun negeri ini.”
“Lalu dari mana kita bisa tahu sejauh mana peran serta para Capres dalam membangun negeri ini, Bu?”
“Bukankah ada sarana informasi yang sekarang sudah merambah ke masyarakat luas, Nis? Misalnya melalui TV, radio, Koran, majalah, atau bisa juga dari internet, bukankah bagi gadis seusia kamu sudah sangat familier dengan media internet? Makanya kalau ke warnet jangan hanya membuka situs porno yang bisa merusak jiwa kamu yang masih remaja atau situs yang tidak ada manfaatnya, tapi bukalah situs yang menyediakan informasi tentang perkembangan pemerintahan negeri kita. Ya, kan?”Bu Ari kembali melempar senyum ramahnya kepadaku, aku sedikit kena sentil atas keterangan Bu Ari, karena aku sering ke warnet untuk sekadar chatting dan berkirim email bahkan sesekali membuka situs-situs yang nggak ada manfaatnya sama sekali buatku.
“Iya juga sih Bu, kenapa saya harus susah-susah cari sumber informasi mengenai para Capres ya, Bu. Padahal kan di sekeliling kita sudah banyak menyediakan informasi mengenai para Capres pada Pilpres nanti, lagipula sekarang banyak selebaran yang memberitahukan tentang visi dan misi para Capres…”aku menyadari kebodohanku.
“Nah…itu juga penting. Kita juga harus mengetahui visi dan misi para Capres kita, misalnya tentang bagaimana cara mereka membawa negara ini di kemudian hari…tapi jangan langsung terhanyut di lautan janji yang digembar-gemborkan…kita juga harus pandai-pandai menilai mana janji yang sekiranya bisa dipercaya jangan asal pilih karena janjinya yang bisa membuat kita terlena, tapi kita juga harus memikirkan akan sisi buruknya.”
“Wah ternyata menggunakan hak pilih itu juga harus hati-hati ya, Bu? Salah-salah kita sendiri yang akan menuai hasilnya,” aku sedikit berkesimpulan.
“Nah, sekarang sudah paham bukan?”
“Iya Bu…makasih ya Bu…berkat penjelasan Ibu, saya jadi tahu cara memakai hak pilih secara tepat.”
“Iya…sama-sama. Lagipula sudah sepantasnya saya sebagi guru menjelaskan apa yang tidak diketahui muridnya,” Bu Ari kembali mengelus kepalaku.
Kami berpisah di lantai bawah karena Bu Ari melangkah menuju kantor gur u, sementara aku meneruskan langkah menuju kantin Mbok Yah untuk membeli donat meses kesukaanku. Hingga tak terasa waktu istirahat sudah habis dengan ditandai berdentangnya bel dua kali. Kulangkahkan kaki menuju ke kelasku untuk menerima pelajaran selanjutnya.
Legalah hatiku setelah menerima penjelasan dari BU Ari mengenai prosedur pemilihan presiden secara langsung yang baru kali pertama dilangsungkan di negaraku. Semoga besok aku dapat menggunakan hak pilihku dengan baik dan benar sesuai hati nuraniku.
Aku masih bingung dan nggak enak sama Ningsih, sobat karibku itu. Gimana tidak , soalnya pacarnya yang bernama Indra itu tiba-tiba penuh perhatian padaku. Berawal dari acara nonton bareng yang notabene acara hari jadian Indra dan Ningsih. Ningsih memperkenalkan Indra sebagai pacarnya. Acara perkenalan yang sewajarnya, Ningsih tampak dengan mesranya menggandeng Indra. Aku nggak tahu pasti siapa Indra. Tapi dari cerita Ningsih di kelas,yang hampir setiap hari bercerita membangga-banggakan Indra, aku yakin Indra adalah laki-laki yang baik.
Singkat cerita, entah angin apa yang membuat Indra begitu berbeda jauh. Ningsih bilang, akhir-akhir ini dia sering menanyakan aku. Aku paham bagaimana perasaan Ningsih saat itu. Sejak saat itu, aku khawatir Ningsih akan salah paham.
Aku semakin bingung dan serba salah , karena diam-diam Indra berani menulis surat cinta untukku. Tapi nggak pernah kuhiraukan , entah dia sudah nulis berapa kali dan aku nggak pernah membalasnya. Hingga pada suatu malam , ya Tuhan beraninya dia datang kerumahku, sendirian lagi.
“ Ada perlu apa kamu kemari ?! “, tanyaku sedikit gugup karena nggak percaya Indra akan senekat itu.
“ Kenapa surat-suratku tak pernah kau balas, Nis ?” katanya.
“ Tidak dan tidak akan pernah !!”, jawabku tegas.
“ Tapi, Nis …. “, rayunya.
“ Kau tahu kan , Indra, Ningsih itu pacarmu dan dia sahabat karibku, mana sekelas lagi! Jadi nggak mungkin aku mengkhianatinya. “, jelasku.
“ Kamu harus tahu , Nis. Aku sebenarnya nggak bahagia di sampingnya , dia itu orangnya keras kepala, suka ngatur, dan maunya menang sendiri, jadi rasanya aku nggak bisa jalan dengan dia seperti ini “, katanya.
“ Maafkan aku Indra, meskipun kau paparkan kejelekan Ningsih dihadapanku setinggi gunung, aku nggak mungkin merebutmu darinya. Apalagi aku sudah lebih lama mengenalnya daripada mengenalmu. Aku lebih tahu siapa Ningsih daripada kamu“.
“ Tapi, Anis. Bila aku disampingmu , aku merasakan lain. Aku bisa tenang dan damai disana”, kata Indra.
“ Tidak Indra, apapun alasannya aku tetap tak bisa menerimamu. Jadi tolonglah aku , Ndra. Jangan kejar aku dan jangan harapkan apapun dariku, aku tak ingin dan nggak mau terbawa dengan masalahmu.” kataku.
Kulihat Indra pergi dengan sejuta kekecewaan . Tapi itu lebih baik daripada aku bernasib sama seperti Ningsih. Dasar laki-laki.
Sejak saat itu , kita nggak pernah lagi bertemu. Komunikasi antara kita terputus, dan hilang begitu saja, tanpa meninggalkan sisa. Hal yang sama terjadi juga pada Ningsih, hal yang kutakutkan selama ini ternyata menjadi kenyataan. Ningsih sedikit demi sedikit menjauhiku. Hingga kejadian siang itu, aku melihat Ningsih duduk melamun menatap kearah luar kelas, dengan segenggam keberanianku aku mendekatinya.
“ Ning, boleh aku tahu kenapa akhir-akhir ini kamu menjauhiku, apa salahku, Ning ?Atau kamu baru ada masalah ? Ayolah , Ning. Cerita sama aku “, kataku.
“ Jelas ini gara-gara sikapmu sama Indra, Nis !! Kamu tahu kan siapa Indra ?! Dia pacarku, Nis ,tapi teganya kau rebut dia dariku !”, pernyataan Ningsih benar-benar membuat telingaku memerah. Mataku terbelalak. Kulihat buliran kristal-kristal halus mencair dari kelopak matanya. Ningsih mulai menangis. Aku semakin bingung, bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Ningsih.
“ Ningsih, aku tak pernah bisa mengerti apa maksud Indra selama ini. Dia datang kepadamu memberi sejuta harapan. Tapi, disisi lain , Indra datang kepadaku menjelek-jelekkanmu. Dia mengungkapkan rasa cintanya padaku lewat lembaran-lembaran kertas yang nggak pernah kuhiraukan. Tapi kini kau menjauhiku dan menuduh aku telah merebutnya darimu.” aku berusaha menjelaskan. Tapi aku nggak bisa melanjutkan kata-kataku, karena aku tak kuasa menahan air mata. Dadaku sesak oleh tuduhan Ningsih.
Namun ironisnya, sampai saat ini Ningsih masih nggak bisa percaya atas kejujuran yang telah aku ungkapkan. Seiring berjalannya sang waktu, Ningsih lebih memilih untuk menjauhiku. Tanpa ada sedikit waktu untuk merenungkan arti sebuah sahabat . Dan kini, aku pun hanya melewati jam istirahat bersama sepi. Tanpa canda tawa di antara aku dan Ningsih.
Aku masih sibuk dengan sarapanku, ketika motor dinas ayah sudah siap mengantar ke sekolah baru. Aku baru sepekan yang lalu pindah Solo karena urusan dinas ayah. Oleh karena itu pula, aku harus pindah sekolah.
Di sepanjang jalan menuju sekolah baru, mulutku masih komat-kamit menghafalkan kalimat-kalimat perkenalan nanti. Hingga kurang lebih sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di depan gerbang masuk SMA Widya Dharma. Sebenarnya bukan perkara besar bagiku untuk melafalkan kalimat-kalimat perkenalan dengan baik. Pasalnya pengalaman sering pindah sekolah membuatku semakin lancar bermain kata-kata perkenalan. Tapi kali ini mungkin beda dari yang lalu, karena kali ini aku pindah sekolah di SMA yang notabene adalah sekolah unggulan di kota Solo.
Bel masuk sekolah kemudian berbunyi. Aku kembali merapikan baju seragam dan menata rambut panjangku yang sedikit acak-acakan karena angin dalam perjalanan menuju sekolah tadi. Tanganku sedikit gemetar ketika Bu Niar memanggilku untuk masuk kelas dua F.
“ Anak-anak, di kelas ini akan ada siswa baru, namanya Eska. Tapi untuk lebih jelasnya saya akan memberikan waktu kepadanya langsung untuk berkenalan dengan kalian. “ Bu Niar menyilakanku untuk mulai bicara.
“ Selamat pagi teman- teman! Namaku Ni Made Eska. Aku berasal dari Bali. Aku pindah ke Solo karena urusan dinas ayahku. Semoga teman-teman mau menerimaku untuk belajar bersama di SMA Widya Dharma ini. Terima kasih”. Sebuah perkenalan yang singkat dan berhasil menyulap suasana kelas menjadi riuh. Tapi kemudian Bu Niar segera meredakan suasana kelas.
“ Anak-anak! Bagi yang ingin berkenalan dengan Eska lebih jauh, saya berikan waktu nanti pada jam istirahat. Dan sekarang silakan Eska duduk di meja nomor dua itu, disamping Anis.” Bu Niar kembali tersenyum ramah kepadaku sambil menunjuk kursi kosong disamping gadis manis berkerudung yang juga menyambutku dengan senyum ramahnya.
Hingga kemudian bel istirahat berbunyi. Anis menawarkan sebuah roti lapis legit yang baru saja dia ambil dari tasnya. Sebuah awal perkenalan yang tidak kuduga sebelumnya. Sepanjang waktu istiharat aku bersama Anis di dalam kelas saja. Menikmati lezatnya lapis legit dan bercerita lebih jauh tentang diriku.
Sabtu yang mulanya kupikir akan membosankan, karena ada pelajaran olahraga. Diawali dengan ganti baju olahraga. Huh! Mana seragam olahragaku belum ada. Kami kemudian berkumpul di lapangan untuk melakukan pemanasan. Dan………….ah! pekerjaan yang paling membosankan karena harus menunggu pelatih olahraga yang katanya masih mengambil peralatan lompat jauh. Apa ?! Lompat jauh ?! Olahraga yang sangat aku benci, karena tahun lalu tulang kakiku retak saat pengambilan nilai lompat jauh di sekolah yang lama.
Sebentar kemudian, sosok tegap itu kudapati berlari kecil kearahku dan siswa yang lain yang sedang melakukan pemanasan. Badannya atletis, dan kedua mata elangnya tajam menatap ke arahku.
“ Maaf, saya sedikit terlambat. Tapi…”, sebelum suara lantangnya selesai berucap, aku sadar sedari tadi dia menatapku yang memakai kaos oblong biasa, bukan seragam seperti teman-teman yang lain.
“ Saya siswa baru, Pak! Dan saya belum mendapat seragam olahraga yang baru”, aku menjawab tatapannya. Tatapan yang seketika itu pula menghilangkan kebencianku pada pelajaran olahraga dan lompat jauh.
Lelaki berusia sekitar duapuluh lima tahunan, yang berpostur tubuh atletis dan memiliki mata elang tajam itu ternyata adalah guru olahraga di sekolah baru ini. Guru yang membuatku bersikap lebih semangat saat mendengar kata ‘olahraga’.
Anis membuyarkan lamunanku dengan tawa cekikikannya itu.
“ Duh, lagi mikirin yang disana atau yang barusan hayo…….?”, Anis menyindir.
‘Yang disana’, maksud Anis adalah Petra, pacarku yang kini berada di Bali. Sedangkan ‘yang barusan’ , maksud Anis adalah Pak Abi, guru olahragaku itu. Pertanyaan yang membuat tawa kami berdua pecah.
“ Sudahlah ngaku aja, sudah banyak siswi yang klepek-klepek karena tatapan guru muda itu….kamu juga kena, kan ? “, Anis meneruskan kata-katanya ditengah tawanya. Aku masih tertawa lepas, diantara menghindar dari pertanyaan Anis dan menyadari kebenaran kata-kata Anis.
Siang yang panas, di halte depan sekolah. Aku berdiri menunggu bus yang seharusnya menggantikan ayah untuk mengantarku pulang. Siang ini ayah ada rapat penting di kantornya, jadi tidak bisa menjemputku pulang sekolah, sebagai gantinya ayah memberiku ongkos naik bus.
Tapi kemudian Pak Abi berhenti tepat di depan halte tempat aku berdiri.
“ Menunggu bus atau jemputan, Eska ?”, tanyanya tiba-tiba.
“ Menunggu bus, Pak! Karena ayah nggak bisa jemput” jawabku sedikit canggung.
“ Mau pulang bareng saya ?”, Duuh…..benarkah aku tidak bermimpi ? Benarkah guruku yang cakep itu menawariku boncengan di motornya ?.
“ I… iya,Pak! Tapi … apa nggak ngrepotin nih, Pak ?” , jawabku gugup. Senyumnya mengembang diikuti gerakan tangannya yang mengisyaratkan agar aku segera membonceng di motornya.
Hmm…perjalanan pulang sekolah yang menyenangkan. Karena ternyata Pak Abi sangat ramah sekali. Di sepanjang jalan, dia bercerita tentang berbagai tempat yang indah di kota Solo ini. Hingga akhirnya pintu gerbang rumahku tampak di depan. Setelah berterimakasih kepada Pak Abi, aku segera masuk rumah.
Hari demi hari kulalui dengan senang di sekolah baru ini. Belum lagi cerita tentang Pak Abi yang sering mengantarkanku pulang. Dan wajah cakep Pak Abi, yang tidak begitu saja larut dalam hari-hariku. Cerita-ceritanya, senyumnya dan apapun yang ada dalam dirinya selalu terekam dalam ingatanku. Sepertinya sudah ada benih-benih asing yang tumbuh subur di hatiku. Tapi kadang aku tersadar akan posisiku saat ini. Aku murid dan Pak Abi adalah guru olahragaku. Tidak mungkin aku menyatakan perasaanku pada Pak Abi, sekali lagi aku adalah muridnya. Meskipun aku sering membuat puisi untuknya, tapi puisi itu hanya kusimpan dalam laci belajarku.
Hingga suatu hari, Pak Abi tidak kutemui di sekolah. Kudengar sudah tiga hari dia absen mengajar. Padahal sebelumnya Pak Abi tidak pernah absen mengajar. Dalam hatiku sering berkecamuk tanya besar mengenai keadaannya. Jangan-jangan Pak Abi sedang sakit dirumah…
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan kubiarkan terlalu lama menghinggapi hatiku. Kemudian aku memutuskan untuk pergi kerumah Pak Abi bersama Anis. Yah…sekedar memastikan keadaan Pak Abi.
Setelah melalui jalan yang lumayan jauh, akhirnya aku dan Anis sampai di rumah bercat biru itu. Ada taman kecil di depan rumah, memberi kesejukan tersendiri bagiku. Anis mencocokkan alamat Pak Abi dengan rumah di depan kami. Kemudian Anis mengangguk pasti.
Setelah memencet bel, kulihat sosok Pak Abi membukakan pintu dari dalam.
“ Hey, Eska dan Anis….” , kalimatnya masih menggantung tapi jabatan tangannya memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja. Pak Abi menyilakan kami masuk.
“ Bapak baik-baik saja, kan ? kami kemari karena ingin memastikan keadaan Bapak. kenapa Bapak nggak masuk sekolah, Pak ?”, Anis memulai pertanyaannya. Sebelum Pak Abi menjawab, tiba-tiba terdengar lengking tangis seorang bayi dari dalam rumah. Pak Abi tersenyum…
“ Itu dia…sebentar ya…”, kemudian Pak Abi masuk. Sebentar kemudian keluar lagi, kali ini Pak Abi menyambut kami dengan seorang bayi di pangkuannya.” Tiga hari yang lalu istri saya melahirkan…”.
Tubuhku bagai terkulai lemas. Aku tercengang. Ternyata Pak Abi sudah punya istri dan tiga hari yang lalu dia menjadi seorang Bapak. Anis menatap kearahku…masih dengan tatapan ibanya Anis mengusap punggungku.
“ Kalian mau menggendongnya ?”, Pak Abi kembali tersenyum ramah. Tapi kali ini senyuman itu tidak istimewa lagi bagiku.
Setelah berbasa basi kemudian Anis tau diri, dia segera berpamitan dan mengajakku pulang. Di perjalanan pulang, Aku dan Anis tak mengeluarkan sepatah katapun. Kami terlarut dengan pikiran kami masing-masing, tentunya masih dengan topik guruku yang cakep itu.
“Uke, anak SMU Harapan Bangsa I,” kataku pasti menjawab pertanyaan Dodi siang tadi.
Ketika teman- temannya mulai membahas pacar, Dodi memang tampak selalu menggebu-gebu. Mungkin karena predikat playboy-nya itu ya, jadi dia takut bila ada saingan. Terlebih bila tahu temannya punya pacar yang lebih cantik dari pacar-pacarnya.
Setelah 4 bulan lebih aku jalan bareng dengan anak sekolah sebelah itu. Yahhh.. kayak normalnya pacaran, ada saja suka dukanya. Mulanya kami bertemu di acara kemah persahabatan antara sekolahku dengan sekolah Uke. Dengan isyarat cinta, kami berdua dipertemukan. Nggak tahu apa yang membuat kami sebegitu dekatnya. Dengan PDKT selama kurang lebih 1 bulan, lewat acara-acara Pramuka, akhirnya aku berani menyatakan semua isi hatiku pada Uke.
Hari-hari serasa sangat indah bersama Uke. Gadis manis berambut panjang itu berhasil mengambil seluruh isi hatiku. Aku yakin Uke adalah tipe cewek setia. Bagiku, saat Uke tak berada di sampingku, aku tak ubahnya burung tanpa sayap yang tak bisa terbang untuk menatap indahnya alam. Puitis ya?
Uke telah mengubah diriku, luar dan dalam. Mataku yang dulu buta dengan yang namanya cinta, sekarang telah terbuka lebar. Hatiku yang dulu beku, sekarang telah mencair karena kehangatan cinta Uke. Yach... sejak ada Uke, aku telah benar-benar berubah. Uke adalah segalanya bagiku. Tiap helaan nafasku, selalu terhembus namanya. Seperti malam ini, aku terus memandangi wajah maya Uke yang terpampang di bingkai mungil di hadapanku. Di sudut foto itu, Uke mengukir tanda tangan dan nama akrabnya dengan indah.
Hanya saja, di sekian lama kebersamaan itu, ada satu yang buatku heran, setiap kali kutanya nama panjangnya, Uke pasti berkelit dengan mengalihkan pembicaraan kami. Tapi itu bukanlah soal yang berat bagiku. Nama bukanlah halangan untuk manjalin cinta. Suatu saat pasti Uke mengatakan kepadaku, siapa nama panjangnya.
” Pacarmu itu nama panjangnya siapa sih?”
Nah, Pertanyaan dari teman- teman yang kayak gini nih yang sering membuatku risih. Kupikir, kenapa juga mereka tanya-tanya. Toh mereka nggak ada perlunya mengetahui nama panjang seseorang. Ah, mereka nggak tahu makna cinta yang sebenarnya sih, makanya hal sepele seperti itu pun ditanyakan.
Jika aku balik tanya, mereka pasti menjawab bahwasanya mereka hanya ingin tahu yang mana pacarnya Angga. Dan, payahnya nih, kalau jawabanku cuman gelengan kepala, pasti mereka serempak menertawakanku. Mereka bilang, aku bukan orang yang bisa memahami betul asal-usul pacarnya sendiri. Masak, nama pacarnya sendiri aja nggak tahu.
Lama- lama aku sadar, betul juga sih. Kalau dipikir-pikir memang seharusnya aku tanya saja kepada Uke, siapa nama panjangnya sebenarnya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk bertanya.
Sudah kuputuskan, siang ini juga aku harus menanyakan nama panjang Uke. Karenanya, sepulang sekolah, aku sengaja mampir ke rumahnya. Kuparkir sepeda motor di depan rumah Uke yang rindang oleh tanaman-tanaman hias dengan bunganya yang bermekaran. Ah, pasti tangan-tangan mungil kekasihku yang telah membuat segalanya menjadi seperti surga dunia.
Dari balik pintu, Uke muncul menyambutku. Kami kemudian duduk berdua-duaan di kursi teras. Perasaan damai menyelimuti hatiku. Sungguh tak enak rasanya merusak suasana damai itu dengan pertanyaan kecil soal namanya.
Tapi, tekatku sudah bulat. Setelah berbasa basi, pertanyaan itu keluar juga dari bibirku.
”Ke, telah lama kita pacaran, tapi tak pernah kamu memberitahu kepadaku perihal nama panjangmu itu. Dan sekarang aku ingin kamu mengatakan sendiri nama panjangmu itu. Siapa sebenarnya nama yang sering menjadi teka-teki malam-malamku?”, kata-kata itu meluncur begitu cepat dari mulutku. Kupandangi wajah Uke. Jangan-jangan dia marah dengan pertanyaanku tadi. Tapi tidak, Uke tidak marah. Dia malah tertunduk.
”Mmmm...tapi janji ya, Ngga! Kamu nggak akan ambil jarak dariku setelah kamu tahu nama panjangku,” mulanya Uke berkelit seperti biasanya, tapi setelah aku mengangguk dengan tegas, Uke tampak luruh. Dia menggenggam tanganku erat, seperti sedang mencoba menghilangkan kelu di lidahnya.
”Ngga, nama panjangku.........Sri Suketmi,” wajahnya tertunduk lesu.
Aha, Sri Suketmi!
Kupandangi wajahnya. Diam-diam muncul juga rasa iba melihat wajahnya yang menunduk. Sepertinya dia malu saat mengucapkan nama itu.
” Terima kasih, Ke, kamu mau berterus terang. Kamu harus paham bahwa nama bukanlah jurang yang bisa memisahkan hubungan kita. Nama adalah anugerah yang diberikan kepada kita melalui orangtua kita. Kamu tidak boleh malu mengucapkan nama panjangmu, Ke! Kamu paham maksudku, sayang?”. Kuangkat wajah Uke dan kutatap bola matanya dalam-dalam. Sesaat kemudian, tampak senyum mengembang dari bibir manisnya. Dengan lega batinku berkata.
”Ah, Uke sayang, akhirnya kau paham juga dengan maksudku. Aku tidak mencintaimu dari nama, yang penting adalah ketulusan hatimu, Ke! Bukan sederet nama yang bagus.”
Dan esok, bila teman-teman bertanya lagi, akan kujawab dengan tegas,
”Nama panjang pacarku adalah Sri Suketmi”.
Masa bodoh dengan tawa yang akan kembali kudengar dari mereka, yang penting aku mencintai Uke bukan dari namanya saja, tapi semua kebaikan hatinya.
Hari yang melelahkan!. Setidaknya hanya untuk jalan – jalan mengelilingi kompleks. Itu bukan karena aku sok manja atau suka mengeluh, tapi memang kaki ini masih terasa sakit. Patah tulang kakiku ini yang membuatku pincang dan tak tahan untuk sekedar berjalan apalagi berlari – lari kecil mengitari kompleks.
Aku yang salah. Seminggu yang lalu, ketika gadis kecil yang manis itu sedang berlatih sepeda-sepedaan, aku nekat memboncengnya di sedel belakang, karena belum bisa mengendalikan keseimbangan, akhirnya aku terjatuh. Setelah dibawa ke dokter, ketahuan juga bahwa kaki kananku patah. Sakit rasanya, apalagi ketika pria berbaju putih dan berkacamata tebal itu memijat-pijat sendi-sendi kakiku. Aku bahkan tak ingin membayangkannya lagi. Setelah menjalani perawatan intensif, kini aku harus menjalani terapi berjalan. Setiap pagi dan sore, aku harus berjalan atau terkadang berlari kecil mengitari kompleks. Tentu saja aku tidak melakukannya sendiri, karena aku selalu ditemani gadis manis berambut keriting itu.
Gadis manis yang baik hati itu bernama Anis. Dia adalah teman bermainku sejak kecil. Bahkan sejak ibuku meninggal beberapa bulan yang lalu, dia menjadi bagian yang paling penting dalam hidupku. Aku tinggal satu atap dengannya, meskipun kami tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Terkadang kami bermain bola, bermain piano, jalan- jalan, menonton film dan masih banyak lagi, semuanya kami lakukan bersama- sama. Aku sangat menyayanginya, dan aku yakin dia pasti juga menyayangiku. Aku selalu memperhatikannya, kulitnya yang berwarna sawo matang, matanya yang indah, rambut keriting yang dikuncir dua, dan tentu saja tawa riang yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Anis tidak pernah menyakitiku, dia bahkan tidak pernah membentakku. Anis selalu berbuat baik padaku begitu pula orang tuanya. Mama dan papa Anis sudah seperti orang tuaku sendiri.
Hari ini agaknya tidak hanya terasa melelahkan bagiku, tapi juga bagi Anis. Setelah menemaniku jalan-jalan berkeliling kompleks, kulihat wajah gadis kecil itu pucat dan matanya sayu. Namun sayang, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menatapnya dengan penuh iba. Bahkan aku tak mampu sekedar mengucapkan kata-kata anjuran agar dia istirahat. Huft! Memang aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa melakukannya.
Malam hari, suara gaduh di ruang tengah membangunkanku. Sayup – sayup kudengar suara tangis. Sebenarnya aku ingin bangkit dari tidurku dan memastikan apa yang terjadi. Lagi- lagi, kesakitan ini membuatku pincang, aku tak bisa bangkit dengan mudah. Aku harus berusaha keras untuk bangkit dan menapak hingga akhirnya aku bisa berjalan ke ruang tengah. Tapi aku terlambat, ketika aku tengah tertatih – tatih menuju ruang tengah, semua telah sunyi kembali. Aku kecewa tak menemukan apapun di ruang tengah dan aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Hanya terakhir kudengar suara mobil yang sedang digas, mulanya keras kemudian suara itu menjauh dari rumah dan menghilang.
Esok hari, ketika kubuka mata, kurasakan sedikit berbeda dari biasanya. Ketika bangun, aku tak merasakan hangatnya sentuhan Anis. Bahkan aku juga tak mencium aroma crunch dan susu putih kesukaannya. Pagi ini, rumah ini benar- benar sunyi, semua terdiam, aku juga tak mendengar suara mama, papa, atau Anis. Semakin penasaran dengan apa yang terjadi, aku segera berjalan menuju seluruh kamar, tapi hasilnya nihil. Tak kutemukan siapapun dirumah sebesar ini.
Siang hari, ketika aku duduk terpekur memandang keluar jendela, kulihat mobil ambulans memasuki halaman rumah dan diikuti mobil dinas papa. Kulihat dengan seksama, beberapa dokter keluar pertama dan membuka pintu belakang ambulans. Astaga! Siapa itu yang sedang diusung menggunakan tandu? Kain putih menyelimuti seluruh tubuh hingga menutup wajah. Aku segera bangkit dan menuju ruang tengah, aku tak ingin melewatkan apapun. Kulihat kali ini papa membuka pintu dan masuk rumah pertama kali. Matanya sembab, diikuti beberapa lelaki yang mengusung tandu, dan terakhir mama yang wajahnya masih berurai air mata. Sekarang, aku bisa menebak tubuh siapa yang berselimut kain putih itu. Anis.
Aku hendak menjerit ketika mama benar-benar membuka kain yang menutup wajah gadis itu. Mama menangis meraung-raung. Tapi aku hanya bisa mendekat, mengendus, dan mengelus – eluskan bulu lembut di tubuhku ke wajahnya. Sebentar kemudian aku tahu, gadis itu telah pergi untuk selamanya. Anis meninggal karena penyakit kanker darah yang selama ini seolah tak pernah membebaninya. Aku diam. Aku tak bicara. Tapi aku tahu, melalui naluri dan bahasa hati, gadis kecil yang tubuhnya kini tergolek dingin dan kaku itu tahu apa maksudku. Yaa, meskipun aku hanya seekor anjing dan dia manusia. Dan aku yakin, dia akan damai dalam tidur panjangnya. Kini, aku hanya bisa berucap dalam hati dengan bahasa yang tak akan pernah terungkapkan , selamat tinggal teman kecil. Semoga Tuhan menerimamu disisi-Nya. Amin.
Kamu itu sebenarnya nggak cantik banget tapi wajahmu itu manis dan seakan memaksa setiap mata untuk memperhatikanmu. Aku melihatmu saat pendaftaran masuk sekolah ini. Saat itu kamu terlihat sangat feminine dengan hem putih ketat dan rok jeans dibawah lutut . Kamu melemparkan senyum padaku karena kamu mendapatiku sedang memperhatikanmu. Saat itu kulihat kamu bersama banyak teman cewekmu,gengmu kali ya?. Tapi diantara teman-teman se-gengmu, kamulah yang terlihat paling menonjol. Perawakanmu yang tinggi, rambutmu yang panjang , hitam dan lurus, serta kulitmu yang putih bersih membuat kamu tampak memiliki pesona yang lebih dibanding yang lain. Sejak pandangan pertama itu ternyata wajahmu tidak hilang begitu saja dari ingatanku. Malamnya aku jadi sulit tidur dan selalu mengingatmu, tawamu bersama teman se-gengmu dan tentunya wajah manismu itu membuatku ingin mengenalmu.
“ Rasmini “, kamu menyebut namamu dengan bangga saat acara perkenalan siswa baru di kelas ini. Bagai mendapat durian runtuh karena ternyata kamu dan aku diterima disekolah ini dan ditempatkan dikelas yang sama. Ah, senangnya diriku !.Kemudian senyummu mengembang bagai bunga mawar di halaman rumahku. Bunga mawar yang sedang mekar itu selalu menarik perhatian orang yang lalu lalang didepan rumahku.
Hari pertama masuk sekolah baru jadi terasa sangat menyenangkan bagiku, karena ternyata aku sekelas denganmu dan hari itu juga aku tahu namamu. Kamu bilang kamu berasal dari salah satu SMP negeri favorit di Solo ini. Itu membuat aku semakin yakin kalau kamu itu pasti cewek yang pandai. Lagipula sekolah ini kan juga salah satu SMA Negeri favorit di Solo. Senyummu kembali mengembang saat aku melemparkan senyumku padamu. Senyum termanisku itu hanya untuk dirimu. Dari situ aku yakin pasti kamu cewek yang ramah dan murah senyum. Ah, Rasmini!
Ini tepat seminggu aku sekelas denganmu. Setiap hari aku belajar mengenal sekolah baruku ini denganmu. Tapi percaya atau tidak sampai saat ini juga aku belum pernah bicara sama kamu. Bila sudah berada didekatmu aku seakan bisu dan tak mampu mengatakan niatku untuk sekadar bicara dan mengenalmu lebih jauh. Huh, memalukan!. Tapi itu benar-benar kualami dan sulit kumengerti kenapa itu semua terjadi. Sesekali aku mencoba untuk mencari waktu yang tepat untuk bicara denganmu, menanyakan alamatmu dan sebagainya, siapa tahu ternyata kita ini tetangga. Ah, aku mulai berkhayal lagi tentang dirimu,tapi seandainya kamu benar-benar tetanggaku , kita bisa berangkat bersama dengan sepeda motor baruku itu. Sepeda motor yang dibelikan Bapak karena aku berhasil menempuh ujian SMP lalu dengan hasil yang bisa dibilang sangat memuaskan. Aku selalu bangga mengendarainya, dan seandainya aku bisa mengendarainya denganmu, pasti aku menjadi sangat bangga sekali. Tapi bagaimana mungkin hal itu terjadi sedangkan aku belum berani bicara denganmu.
Akhirnya kuputuskan, hari ini juga aku harus bisa bicara denganmu, karena menurut penanggalan pribadiku, hari ini juga adalah tepat dua minggu aku sekelas denganmu dan genap dua minggu pula aku mendadak terserang penyakit sulit tidur atau biasa orang bilang insomia karena selalu membayangkanmu. Sedikit hiperbol sih, tapi aku benar-benar merasakannya. Siang itu saat jam istirahat berbunyi, para siswa menghambur keluar kelas. Saat yang tepat bagiku untuk melancarkan aksiku ini, karena kebetulan kamu nggak beranjak dari tempat dudukmu. Disana, dimeja nomor dua dari belakang. Sepertinya kamu lagi asyik membaca buku. Aku mendekatimu dengan sedikit canggung. Tapi kali ini aku harus bisa karena ini kesempatan bagus untuk pendekatan denganmu.
Beberapa pertanyaan berhasil aku tanyakan padamu hingga akhirnya bel masuk itu berbunyi. Yach , belum puas sih sebenarnya ngobrol sama kamu, tapi Lastri , teman sebangkumu itu sudah masuk kelas dan mengusirku dari tempat duduknya. Huh, sial !
Siang yang cukup panas, bel pulang sekolah yang kutunggu-tunggu itupun berbunyi. Seusai berdoa aku segera menuju parkir sepeda motor dan sampai di gerbang depan sekolah aku berhenti. Aku mencari-cari sosokmu. Niatku sih baik, aku cuma pengin nawarin kamu boncengan karena kamu tadi kan bilang kalau kamu nggak bawa motor. Setelah menyebarkan pandang akhirnya kutemukan juga sosokmu sedang ngobrol sama Hendra. Hendra sudah nangkring di sepeda motornya. Aku jadi sedikit cemburu. Huh, ngapain sih tuh anak ?. Secepatnya aku membawa motorku mendekati kamu dan Hendra. Tapi sebelum aku sampai di dekatmu, alangkah terkejutnya diriku karena kamu sudah nangkring juga di motor Hendra. Dan Hendra, dia langsung tancap gas dengan cengirannya itu. Ceritanya aku sudah kalah cepat dengan Hendra nih. Tapi tunggu besok yah…
Pagi yang sumringah dengan semangat empat lima aku berangkat ke sekolah , itu semua berkat kamu. Senyum kamu itu membuat aku jadi semangat setiap berangkat ke sekolah. Sampai di kelas aku lihat segerombolan cewek-cewek sedang cekikikan. Dasar cewek, masih pagi gini sudah ngrumpi. Semakin keras tawa mereka membuat aku semakin tergoda akan bahan rumpian pagi itu. Dengan sedikit isyarat aku memanggil Lastri. Dan dia segera menuju ke mejaku.
“ Lagi ngrumpiin apa tho, kok kayaknya heboh ?” , aku bertanya kepadanya.
“ Itu anak-anak lagi pada minta makan-makan sama Rasmini. Ayo dong, kamu juga ikut ngrayu dia. He…he…he!!”, Lastri malah menarik-narik tanganku.
“ Makan-makan apa, dia ulang tahun ya ?”,tanyaku lagi.
“ Huh, kamu kok telmi amat sih. Si Rasmini kan kemarin jadian sama Hendra.”,Lastri segera meninggalkanku dan kembali berkerumun bersama cewek-cewek yang lain.
Apa?! Jadi selama ini ?!Aku tercengang. Bagai mendengar petir di siang bolong, aku sadar ternyata senyumanmu selama ini bukan untukku tapi untuk Hendra, teman semejaku. Aku tak bisa menerangkan bagaimana perasaanku, tapi yang jelas aku sangat malu padamu, dan pada diriku sendiri. Tapi setidaknya senyummu saat pandangan pertama itu memang buat aku, kan ?!