Showing posts with label kisah sekolah. Show all posts
Showing posts with label kisah sekolah. Show all posts

9.3.11

miss you, miss Ikha..




"Miss..."

"Miss..."

Ah, setiap kali panggilan itu terdengar rasanya saat itu pula aku rindu. Yah, rindu pada musik ketukan meja mereka, rindu pada celoteh mereka, rindu teriakan mereka memanggil namaku.

Atau...

"Miss, ayoo to ngajar kelasku!", teriak mereka di kantor guru sambil tangan- tangan mungil  mereka menarik- narik tanganku. Tidak setiap hari ada jadwal pelajaran Bahasa Inggris di kelas, tapi mereka selalu melakukan hal yang sama setiap pagi. Lucu. Rasanya aku benar- benar seperti idola di sekolah mereka.

Atau...

"Heh! Ojo too! Iki kan Miss Ikha -ku", celoteh mereka setiap jam istirahat sambil tangan- tangan mungil mereka berebutan mendekap tubuhku. Tangan- tangan mereka kadang tidak bersih, bau keringat mereka sudah tentu bau matahari. Lugu. Tapi rasanya aku selalu ingin memeluk mereka kembali.

Namun semua lamunanku buyar saat bel pulang berdentang, menghilang bayang keriuhan anak- anak mungil berseragam putih merah. Memandang mereka yang bergandeng-gandengan menjauhi sekolah. 


Aku rindu.. hanya rindu pada semangat yang mereka tularkan padaku saat menikmati masa- masa indah di sekolah.




#saat aku rindu pada mereka; 
tunas- tunas bangsa SD Pondok III



26.7.10

Buku Kuning

Rabu, 21 Juli 2010

Langit masih membiru, mentari masih malu- malu, dan seperti biasa, semangatku masih jauh dari layu. Masih dengan suasana pagi yang sering kudeskripsikan dalam potongan timeline hidupku. Aku kembali hadir menjalani peran menjadi seorang pengajar yang masih selalu belajar. Belajar pada alam, belajar pada keadaan, belajar pada kesalahan, serta belajar pada malaikat- malaikat kecil yang selama tiga hari dalam seminggu selalu kutemui itu.

Sehari sebelum hari ini, aku sudah mempersiapkan agenda mengisi kelas. Kelas kecil. Bukan, bukan luasnya yang kecil, tapi jumlah jiwa yang mengisinya tiap pagi sampai siang itu yang kecil, alias sedikit. Hanya lima belas jiwa saja ditambah aku atau kadang guru lain yang mengisi, jadi hanya enam belas jiwa. Ya, enambelas persis kalau semua jiwa periang itu datang. Karena sering sekali kelas menjadi benar- benar sepi gara- gara dua sampai tiga siswa absen. Tidak masuk karena sakit, karena keperluan keluarga, atau mungkin karena kondisi psikologis mereka masih labil, jadi berangkat sekolah masih sesuai hasrat dan syarat. 

Setibanya di dalam kelas, aku menghitung jumlah sang periang yang hadir. Satu, dua, tiga.... dua belas. Hm, jadi hari ini aku akan melewati kelas tanpa senyum tiga periang. Nanda, Anas, dan Atikah..

Setelah menghitung, aku mengangguk sebagai kode, menyilakan sang ketua kelas memimpin doa. Dengan cekatan Wildan berdiri, lalu mengomando seisi kelas dengan lantang. Suasana kelas menjadi hening dan khidmat, hanya suara sang pemimpin melantunkan doa belajar. 

Aku mendengar ketukan pintu sedetik setelah Wildan menyelesaikan komandonya. Aku  bergegas membuka pintu. Kudapati satu lagi senyum sang periang di depan pintu kelas. Tahi lalat di alisnya memberi ciri sendiri selain matanya yang sipit itu. Anas. Ya, Anas akhirnya mau datang ke sekolah setelah Bapaknya bersedia memenuhi seabrek syarat yang diajukannya. Salah satu syarat mengharuskan Bapaknya menungguinya di depan kelas. Itu masih mending, kemarin dan beberapa minggu pertama ajaran baru, periang yang matanya sipit ini mensyaratkan semeja dengan Bapaknya. Sungguh pemandangan menggelikan karena setiap hari ada siswa usia dewasa di dalam kelas.

Tanpa menunggu perintah, Anas segera mencium tanganku. Peraturan tak tertulis yang tak pernah dilanggar. Anas kemudian masuk ruang kelas dan duduk di kursi pojok. Sepertinya dia sudah merasa cocok dengan kursi yang sedikit reot itu. Setiap kali dia bergerak, kursi itu akan berdecit dan ia menyukai suara decitan itu. Dulu aku sudah menyuruhnya duduk di kursi lain, tapi tetap saja dianggapnya tidak memenuhi syarat, sehingga ia kembali ke pojok, kembali pada kursi reot.

Hari ini aku membagikan buku yang kusebut buku kuning. Disebut demikian karena memang warnanya kuning. Sebagai bocoran, kuning adalah warna favoritku. Bukan kebetulan, karena memang aku sengaja menyetujui keinginan personal dengan memilih sampul berwarna kuning untuk membungkus buku bergaris itu. Ah, tenang saja, tidak akan ada yang protes, karena buku kuning itu ikhlas kubelikan untuk mereka dengan tabungan pribadiku. Harapanku, buku itu bisa digunakan oleh sang periang untuk mencatat pelajaran Bahasa Inggris sampai kelas berikutnya. Catatan dari kelas yang lalu akan sangat membantu, mengingat Bahasa Inggris adalah pelajaran yang dinamis. 

Satu persatu, sang periang melangkah ke depan kelas setelah berhasil berhitung dalam Bahasa Inggris. One, two, three... dan inilah wajah- wajah sang periang setelah berhasil menyebutkan angka satu sampai sepuluh. 


Senyum sang periang dengan buku kuning di tangan :)

Buku Kuning :)




-to be continue

diary of an ordinary

21/07/2010

Ikha Oktavianti

19.7.10

Lelaki Kecil di Taman Kelas (Kerinduan Dani)


Kamis, 15 Juli 2010

Seperti biasanya, kisahku selalu dimulai sejak sang fajar terbangun dari peraduan. Jua seperti hari sebelumnya,  semua berawal sejak pagi menjelang.
 
Aku berangkat menuju tempat dimana aku sedikit mulai berani menggantungkan harapan masa depan generasi bangsa: Sekolah. Menyusuri jejalanan sunyi yang belum terjamah sampah kendara. Berselancar diatas skutermatik yang  kurasa suara mesinnya lebih ramah daripada suara hatiku sendiri. Jalanan masih melengang sepi. Hanya kulihat beberapa tani menggiring kerbau- kerbau kurus turun ke sawah mereka. Satu dua kicau burung gereja bersahutan. Kabut tipis sengaja kutepis. Udara dingin membelai ragaku hingga kaku. Aku  sangat akrab dengan kehidupan pagi desa kecilku ini.
 
Hanya dalam hitungan dua puluh menit bersama jalanan beraspal dibelai angin yang sembirit, akhirnya aku menjangkau sektor desa proyek tertunda. Sepuluh menit menuju pukul tujuh, aku memasuki gerbang sekolah tua yang bukan hanya warna catnya saja telah memudar, tapi tetumbuhan di halaman tampak layu tak berkembang. 

Aku menyandarkan skutermatik di parkiran. Beberapa wajah kecil sang periang sudah berkerumun di bawah akasia tua yang usianya mungkin sudah melebihi usiaku menatap dunia. Mereka menungguku. Mereka tersenyum melihatku sudah memasuki gerbang. Mereka tak sabar menungguku keluar dari parkiran. Mereka mengantri bersalaman mencium tanganku. Membagikan hangat yang mereka simpan di  balik genggaman telapak tangan mereka. Mengecup punggung tanganku dengan bibir kecil mereka yang tipis dan lembut. Rutinitas yang sarat kualitas.

'Assalamualaikum, miss Ikha', salam santun dari mereka menghangatkan ragaku yang tadinya kusebut telah kaku.

Aku tersenyum kembali untuk mereka. 'Waalaikum salam'.

Tak menunggu lama setelah aku memasuki kantor guru, bel sekolah berbunyi tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar. Sesuai jadwal, hari Kamis aku mengajar kelas V, kelas juaranya gaduh.

Setelah sedikit brainstorming, akhirnya kelas pun dimulai dengan materi- materi baru. Sedikit ingin mengejar ketinggalan di kelas lalu. Tapi tetap saja: GADUH. Dan SABAR adalah satu- satunya jalan agar aku tetap kerasan berada di kelas yang setiap hari digaungi musik ketukan meja lengkap dengan celotehan anak- anak manja.

Yah. Ini suatu ujian seorang guru. Persis seperti ucapan ibu yang sejak bertahun yang lalu memberi wejangannya padaku. HARUS SABAR.

Sabar meski kadang suara kita disepelekan. Sabar meski kadang celotehan mereka keterlaluan. Dan aku hanya harus mengulanginya lagi untuk lebih sabar.

Karena buku panduan masih menumpuk di meja kantor guru, maka aku mohon ijin keluar kelas untuk mengambilnya. Seketika mereka bersorak gembira, sementara disudut hatiku merasa sedikit kecewa. Keluar kelas, menghela napas. Susah. Tidak mudah merapikan kelas yang semua penghuninya adalah bianglala.

Aku berjalan di sepanjang koridor kelas hendak menuju kantor guru. Namun, pijakan kakiku terhenti tatkala melihat sosok lelaki kecil di depan taman kelas. Ia nampak duduk berdampingan dengan seorang lelaki dewasa. Saraf penglihatanku bekerja optimal seperti biasa sehingga sosok lelaki kecil itu tampak jelas di mataku. Dani, ya, sosok kecil itu adalah Dani, dan lelaki dewasa disampingnya itu kemudian kuketahui sebagai Bapaknya.

Dani yang kemarin tak sempat menjawab panggilan absensi kelas bahasa Inggris. Siswa yang entah kenapa tiba- tiba kusesalkan ketiadaannya di kelas. Dani kulihat duduk meringkuk di taman depan kelas dua. Seragam yang ia pakai sesuai dengan jadwal seragam sekolah ini.  Tapi ia berada disana, diluar kelas, di taman depan kelas dua. Pandangnya tiada pernah lepas dari pintu kelas yang terbuka di hadapannya. Menatap ceria yang tergambar di wajah teman- temannya. Membuang sedikit rindu yang menumpuk didadanya. 

Aku berlari kecil mendekati keberadaan Dani. Ingin segera kurengkuh tubuh kecilnya itu. Dani, tak sabar aku melihat senyum yang disela giginya terdapat gigis itu. Kini ia kembali  ke bangunan tua ini, ke sekolahnya yang terdahulu. Kuelus rambutnya yang memerah kaku. Kuusap pipi dan dagunya. Namun, ia tetap diam. Mengunci mulut kecilnya ketat.

Bapaknya tersenyum, kemudian mengabarkan bahwa Dani tidak mau masuk ke sekolah rujukannya: SLB. Dan kebisuan Dani adalah kerinduannya pada sekolah ini. Aku mengiba, merasakan sepi yang ia rasakan ketika harus berpisah dengan teman- teman akrabnya. Dani masih diam. Hanya raut wajahnya yang bicara, hendak bercerita panjang tentang harapan yang sebenarnya telah ia simpan rapi di dalam sanubarinya.

Dani adalah siswa yang kuketahui terbelakang dalam hal potensi akademik. Meski sudah menghuni kelas satu selama tiga tahun, ia belum bisa menulis dan mengeja kata.  Berbagai metode belajar sudah diterapkan guru yang mengajar, tapi nihil alias tiada hasil. 

Setelah rapat guru dan wali murid, akhirnya tahun ini Kepala Sekolah memutuskan untuk memberi rujukan kepada Dani ke SLB. Mungkin sebelumnya aku sangat terpukul dan menyesalkan keputusan Kepala Sekolah itu. Tapi akhirnya aku bisa mengerti arti penting di balik keputusan beliau tersebut.


Keputusan memberi rujukan kepada Dani ini adalah keputusan yang terbaik. Terbaik dan demi kebaikan Dani. Meski secara fisik, Dani sehat jasmani dan rohani, namun Dani digolongkan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Maksudnya, Dani sangat terbelakang dalam hal kemampuan intelegensi. SLB adalah solusi terbaik, mengingat guru di SLB dibekali dengan kemampuan mengajar anak berkebutuhan khusus seperti Dani. Bukan bermaksud mendiskreditkan kemampuan guru sekolah biasa. Hanya saja, sudah sepantasnya yang bersangkutan menerima fakta dengan lapang dada. Atas penjelasan ini dan demi kebaikan Dani, akupun merelakan kepindahannya ke SLB.  

Sayangnya pagi ini aku tak bisa berlama menguraikan kesedihan Dani.  Aku sudah cukup paham, lelaki kecil ini cukup lemah untuk harus kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Tak banyak kata yang kuucapkan untuk membuat hatinya kuat dan tegar.  

Memori tentang Dani dan tatapan rindunya berhasil menjadi pembuka kisah haru di hari ini. Aku tak bisa berlama dengannya karena harus segera menuju kantor guru, mengambil buku panduan, dan kembali ke kelas lima. Kelas GADUH. 





Dani, bersama bapaknya di taman depan kelas
(candid diambil dari dalam kantor guru)




Dani (paling depan) saat mengikuti ujian semester kelas 1






Diary of an ordinary

15/07/2010

Ikha Oktavianti



14.7.10

Dalam Peran Bu Guru Cantik

Rabu, 14 Juli 2010


Aku sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi guru, apalagi guru SD. Jurusan kuliah yang kutekuni sekarang pun bukan jurusan kependidikan. Namun aku tidak bisa mengelak saat takdir menuntutku ke tempat ini.

Alih-alih menjadi salah satu agen perubahan, sebagai ujung tombak terciptanya tunas-tunas bangsa berkarakter yang berkualitas. Generasi bangsa yang, semoga saja, kelak bisa membawa republik ini keluar dari keterpurukannya.

Aku tersadar dari fakta memilukan bahwa sekolah selama ini telah tereduksi sebagai tempat belajar hafal menghafal untuk mendapat nilai seratus. Pembelajaran yang terjadi hanya di ranah kognitif saja. Itupun di tataran yang paling rendah, knowledge. Padahal sebenarnya hakekat sekolah adalah tempat untuk belajar hidup. Tempat yang memberi kesempatan anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi unik anak yang kelak berguna untuk kepentingan survival mereka. Yang mengelola anak secara holistik, ya kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. 

Tadinya aku hanya iseng- iseng main ke almamaterku ini. Namun kemudian guru- guru disini menawariku menjadi guru honorer bahasa inggris, menggantikan guru bahasa inggris terdahulu yang beruntung diterima menjadi PNS pada tes CPNS akhir tahun 2009 lalu. Mulanya aku menjadwalkan disini hanya sebentar saja, hanya sebagai pengisi waktu sambil mengerjakan skripsi. Tapi malah keterusan atau kecanduan. Anak-anak itu menjadi candu buatku. Begitu adiktif.

Hari ini, hari pertama mengajar setelah hampir 3 minggu liburan kenaikan kelas. Rasanya  sangat menyenangkan karena akan segera menumpahkanrasa kangen yang memuncak setelah lama engga bertemu sama anak- anak yang lucu-lucu itu. 

Jadwal kelas bahasa Inggris hari ini adalah kelas 1 dan kelas 2, sehingga aku agak santai. Santai karena engga perlu nyiapin materi pelajaran maksudnya. 

Jam pertama aku masuk ke kelas 1. Atmosfer baru, kelas baru, wajah- wajah baru, baju- baju baru, senyum- senyum kecil sang periang mengisi kelas. Namun sayang,  tahun ini sekolah  dasar di tempat aku mengajar ini hanya 10 anak yang mendaftar. 

Ya. Sepuluh anak sudah harus bersyukur, karena itu sudah cukup berarti untuk kelangsungan nasib sekolah ini. Bukan bermaksud menyamakan dengan cerita Laskar Pelangi nya Andrea Hirata lho ya.. karena faktanya emang begitu.  

Total siswa kelas 1 ada 15 anak, 10 anak adalah siswa baru, sedang 5 anak yang lain adalah siswa yang terpaksa harus tinggal kelas. Diantaranya adalah : Bagus, Bachtiar, Mukhlis, Dino, dan Fa'i. Siswa baru yang lain belum bisa menghapal semua, hanya seingatku yang paling menonjol adalah Bintang dan Dinda. 

Beberapa anak mengintip dari balik daun pintu, ketika aku berjalan di koridor sekolah  hingga memasuki ruangan kelas 1. Merasa sudah sangat mengenalku  dibanding anak- anak baru, anak- anak senior yang terpaksa tinggal kelas segera menyambutku dengan teriakan salam khas mereka. 

' Good morning, miss Ikhaaaa!!!'

Aku menjawab salam mereka dengan senyum lebar. Senyum suka cita karena rindu yang menumpuk di dada. 

'Good morning, students.'

Setelah mereka semua rapi duduk di kursi mereka masing- masing. Aku segera memulai kelas. Kelas hari ini masih berupa orientasi. Orientasi di mulai dengan perkenalan guru dan siswa baru. Aku sangat berhati- hati dengan kalimat yang kuucapkan. Salah- salah efeknya bisa fatal karena wajah- wajah baru yang polos ini kulihat masih awam dengan bangku sekolah. Bahkan ketika aku mengajukan pertanyaan tentang TK asal mereka, ada lebih dari separuh siswa mengaku engga mengeyam pendidikan TK.  Sedikit miris dan prihatin. Tapi masuk akal juga, karena berdasarkan informasi dari kanan kiri, emang biaya pendidikan TK lebih mahal sampai 5 kali lipat biaya pendidikan di SD. Belum lagi bila ada acara pesta kebun atau pentas seni. Bisa menguras biaya orang tua atau wali. 

Ini sungguh awal yang tidak bisa diremehkan, apalagi untuk mengenalkan pelajaran Bahasa Inggris. Aku berusaha menjalankan peranku sebaik mungkin. Aku mencoba lepas dari tamengku sebagai guru. Aku ingin berada di hadapan , di samping, dan di belakang mereka sebagai teman mereka. Teman yang menyenangkan buat mereka. Teman yang berusaha menemani mereka pada pijakan awal mereka belajar bahasa asing di hidup mereka: Bahasa Inggris.

Mereka semua sangat antusias mengikuti orientasi yang kuberikan. Namun, keceriaanku bersama mereka harus terhenti saat bel sekolah berbunyi, tanda sudah masuk jam  istirahat. Sebelum aku meninggalkan kelas, aku meninggalkan banyak pesan buat mereka, terutama buat pasukan lama yang terpaksa menghuni kelas ini lagi. Aku mendekati Bagus, Mukhlis, dan Fa'i yang asik dengan permen peluit mereka. Aku banyak memberi wejangan buat mereka. Ah , khas para guru. Sedangkan kepada Dino dan Bachtiar yang selalu asik dengan musik ketukan meja, aku hanya tersenyum sembari mengelus kepala mereka berdua. Emang butuh kesabaran luar biasa menghadapi tingkah polah dua biang kelas ini.

USAI jam istirahat, jadwal memasuki kelas 2. 
Aku kembali menemui anak- anak ceria yang selama beberapa bulan terakhir selalu mengisi pikiranku dengan suka yang menggila ditengah pusingnya mikirin skripsi. Refreshing yang kedua, yang sudah kutunggu- tunggu sejak tadi malam.

Ada satu yang engga bisa kulupakan, memori bersama anak- anak kelas 1 yang sekarang kelas 2 ini, yaitu sambutan heboh khas mereka, yang kelas senior mereka tidak punya. Dan lihatlah, hari ini mereka pun kembali melakukannya untuk menyambutku. Jadi, setiap aku sebelum memasuki kelas, ada anak yang bertugas mengintipku di balik daun pintu, kemudian ketika tau aku sudah berada radius 2 meter dari kelas, anak yang mendapat tugas mengintip itu akan mengomando teman- teman yang lain sekelas untuk segera menyiapkan diri dan berdiri. Lucu sekali gaya mereka, bisikan - bisikan yang masih bisa kudengar menyebut- nyebut namaku:

'Eh, Miss Ikha lho cah, Miss Ikha rawuh..' (rawuh: datang: jawa.red)

Hari ini yang bertugas mengintip kedatanganku adalah Bayu, seorang murid yang apabila menyebut namanya selalu mengingatkanku pada seseorang yang selalu membuatku rindu : Kekasihku. Sepertinya Bayu sudah sejak tadi mengintipku, hingga ketika aku memijakkan kaki di ambang pintu, dia segera berlarian dan mengomando teman- teman sekelasnya  untuk segera bersiap dan berdiri. Bayu dengan senyum khas yang menampakkan dua gigi kelincinya.

Setelah aku berada di depan kelas, berdiri disamping meja guru, mereka semua berteriak :

'SELAMAT PAGI CE'GU !!'

Persis akting salah satu kartun edukasi sarat makna 'IPIN UPIN' ketika sedang scene di kelas. Tentunya dengan gaya dan logat dialek Melayu yang mereka buat - buat persis adegan di film kartun yang berasal dari negeri Jiran itu.

Dulu ketika aku masih awal, aku belum begitu kenal dengan gaya seorang guru yang disebut Ce'Gu di film kartun yang mereka tiru itu, tapi kemudian aku menjadi penasaran, dan dengan penuh semangat aku mengikuti kartun 'IPIN UPIN' tersebut. Sehingga kemudian pada pertemuan- pertemuan berikutnya, aku selalu menjawab salam heboh mereka dengan gaya yang juga meniru adegan kelas di film kartun yang mereka maksud. Seperti pagi ini kusambut salam mereka dengan kalimat:

'Selamat pagi mured- mured...'

Tentu saja dengan logat dialek yang kusesuaikan dengan bahasa Melayu, bahasa guru di film kartun itu. Setelah itu, pasti suasana kelas seketika menjadi riuh. Riuh oleh tawa mereka yang mungkin menganggap guru di depan mereka ini juga narsis.

Aku tak banyak memberikan materi baru di kelas 2 ini, aku hanya mengajak mereka kilas balik pelajaran Bahasa inggris yang sudah mereka dapatkan sejak kelas 1. Aku sebagai pengampu, cukup gembira melihat sebagian besar siswa masih ingat dan hafal materi yang pernah kuajarkan kepada mereka. Canda tawa tidak pernah lepas di sela- sela sesi tebak- tebakan.

Namun, tiba-tiba Mahmud mengacungkan jari, dia bilang Rival menangis karena merasa perutnya mual serasa ingin muntah. Kelas segera kutenangkan, aku harus tangani Rival dulu. 
Sementara anak-anak yang lain kutinggal bersama tugas mencatat jadwal materi baru. Aku  memapah Rival ke kantor guru. Kuberinya segelas teh hangat yang seharusnya jadi jatahku. Melihat raut mukanya yang pucat, segera kuoleskan balsem ke lehernya, sambil sesekali kupijat pundaknya. Kadang kuelus kepalanya, persis seperti ketika ibu memperlakukanku saat aku sakit di rumah.

Rival saat di kantor guru, wajahnya memelas,
aku duduk disampingnya (ini hasil candid camera guru usil)

Air mata Rival terus menetes, hingga aku mengusapnya dengan beberapa lembar tissue yang  kuambil dari packed tissue yang selalu kubawa di tas. Ketika kutanya apa dia sudah sarapan, dia hanya mengangguk disela sela isaknya. Setelah cukup lama duduk di kantor guru, sepertinya Rival merasa sudah nyaman dan baikan. Sehingga kemudian kutanya dia, mau melanjutkan pelajaran atau diantar pulang untuk istirahat. 

Rival tak bergeming, tapi melihat raut mukanya, aku putuskan untuk mengantarnya pulang. Sehingga, aku segera memintakan ijin pulang kepada Bu Kepala Kelas dan guru Wali Kelas 2. Sembari menungguinya mengemasi buku dan tas, aku tuliskan beberapa Pekerjaan Rumah untuk siswa kelas 2 yang lain. Harapanku, saat aku menitipkan kelas kepada guru jaga,  murid- muridku yang lain engga rewel. 

Rumah Rival tidak begitu jauh dari sekolah, hanya berada di seberang jembatan besar Solo Baru. Untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan, aku berniat mengantar Rival sampai rumah, aku ingin langsung pasrahkan anak laki-laki kecil hitam itu pada ibunya. Tapi sayang, berhubung ibunya engga ada, aku antar ke rumah budhenya yang hanya bersebelahan dengan rumahnya. 

Rumah budhenya seatap dengan warung makan gaya kampung. Lantainya masih tanah, dan beberapa perabot masak yang digantung ditembok tampak hitam legam karena angus. Keadaan yang memprihatinkan. Dengan santun aku menyerahkan Rival ke pada wanita paruh baya yang pakaiannya engga bisa dikatakan layak pakai. Dengan kepayahan aku memakai kosakata bahasa Jawa Kromo alus demi menjelaskan kronologis kejadian sampai kenapa aku harus mengantar kemenakan beliau untuk pulang. Hatiku kembali bergetar. Pemandangan yang benar- benar memprihatinkan.

Selepas mengantar Rival ke rumahnya, aku pun langsung kembali ke sekolah, kembali menemui anak- anak kelas 2 yang masih sibuk mencatat tugas rumah mereka. Tepat pukul 10 pagi, aku menyiapkan kelas untuk dipulangkan. Tapi ketika absen pulang, aku merasakan kehilangan saat menyebut nama : Dani.

Dani. Ya. Dani adalah salah satu siswa yang paling kusayangi, meskipun dia terlambat dalam  hal menerima pelajaran, tapi aku selalu memberinya semangat untuk maju. Dulu ketika masih kelas 1, ketika pertama kali masuk ruangan dan memperkenalkan diri menjadi guru baru, aku bertanya pada seisi kelas :

'Anak- anak, siapa yang di kelas ini belum bisa menulis hayoo?'

Lalu seisi kelas menunjuk ke arah Dani dan berteriak memanggil namanya. Seketika waktu itu, wajah Dani memerah, mungkin menahan malu. Aku pun merasa sangat bersalah dengan pertanyaan yang baru saja kuajukan. Sejak saat itu niatku sudah bulat, aku ingin memberi perhatian lebih pada Dani.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku tahu Dani adalah anak yang kemampuan akademisnya agak terganggu. Setiap kali diajak menulis, dia hanya bisa menulis huruf 'b'. Iya. Selalu huruf 'b', bahkan ketika harus menuliskan namanya. Di sisi lain, aku selalu mendampinginya. Setiap kali aku memberi pelajaran mencatat kosakata baru, aku duduk disampingnya, memegangi tangan, dan  kutuntun jemarinya menulis huruf- huruf yang menyusun sebuah kata sederhana seperti tertera di papan tulis. Dani selalu bangga  bila dia bisa mengerjakan catatannya sesuai di papan tulis, dia kemudian tertawa dan memamerkan pekerjaannya kepada teman-temannya yang lain.

Namun itu dulu, sekarang aku tak mendengar tawa Dani. Aku tak melihat sebaris gigi yang  diselanya terdapat gigis itu. Dani, kata siswa yang lain, sudah dipindah ke SLB. Di dalam hati aku sangat terpukul, aku sangat kecewa dengan keputusan orang tuanya yang memindahkan putra mereka ke SLB. Aku merasa sangat kehilangan salah satu murid yang kusayang. 


Diary of an ordinary
Dalam Peran Bu Guru Cantik :)
14/07/2010

Ikha Oktavianti


27.5.10

BANJIIRRRR !!!


Gila,
Ini sekolahku banjir beneran, jadi males ni mo ngajar, pengen maenan air .. hihiii
Dasarnya sekolah udah jelek, ditambah kebanjiran pula, semua perabotan ngajar bececeran kesana kesini, persis kaya kapal pecah. Miris :(
Prihatin juga nih sama gedung sekolah, udah hampir 10 tahun aku hengkang dari sini, tetep aja kondisinya gak tambah baik, eh, malah tambah parah mampus.
Gara-gara banjir, pikiranku jadi berlayar ke masa kecilku dulu, jamannya masih pake seragam merah putih, disekolah sini juga nih..
Dulu, kalo banjir kaya gini, bagian yang paling aku suka tuh, bisa lepas sepatu trus maenan kapal2 kertas, hahaa..
Dan bagian yang paling menjijikkan adalah : CACING masuk kelas!
Nah, cukup beralasan kan kalo cacing yang jelek, item, bau kaya gitu bisa pinter.... pinter mengolah tanah :)

27/05/2010

22.5.10

Refleksi I


Aku masih disini, menikmati masa kecilku di tengah bangunan tua yang berkelas-kelas ini. Aku menatap kearah lapangan kosong yang panas disinari cahaya mentari siang hari, dan aku masih disini. Aku duduk diantara kursi- kursi reot yang bunyinya gemeretak menyayat hati. Aku menikmati suasana masa kecil yang membesarkanku sampai detik ini. Lapangan yang biasa sebagai tempatku berlarian dan bergulung- gulung bersama kawan. Kursi yang berjajar rapi menghadap papan tulis berwarna hitam, tempatku duduk mendengarkan pelajaran . Aku merasakan masa kecilku yang begitu berarti dengan guru-guru yang kusayangi di sekolah yang dulu masih kokoh ini, dan aku masih disini.
Pada siang hari yang hampir saja membakar kulit ari. Aku tersadar oleh teriakan bel sekolah yang melengking tiga kali. Anak- anak yang berhamburan keluar dari ruangan kotak yang berkelas- kelas. Mereka berlarian menuju lapangan, sebagian berjalan melenggang ke kantin sekolah. Memandang mereka sama dengan membangunkan memoriku kembali. Merefleksi cerita dunia kecil yang menyusun kisah hidupku dewasa ini.