Kamis, 15 Juli 2010
Seperti biasanya, kisahku selalu dimulai sejak sang fajar terbangun dari peraduan. Jua seperti hari sebelumnya, semua berawal sejak pagi menjelang.
Seperti biasanya, kisahku selalu dimulai sejak sang fajar terbangun dari peraduan. Jua seperti hari sebelumnya, semua berawal sejak pagi menjelang.
Aku berangkat menuju tempat dimana aku sedikit mulai berani menggantungkan harapan masa depan generasi bangsa: Sekolah. Menyusuri jejalanan sunyi yang belum terjamah sampah kendara. Berselancar diatas skutermatik yang kurasa suara mesinnya lebih ramah daripada suara hatiku sendiri. Jalanan masih melengang sepi. Hanya kulihat beberapa tani menggiring kerbau- kerbau kurus turun ke sawah mereka. Satu dua kicau burung gereja bersahutan. Kabut tipis sengaja kutepis. Udara dingin membelai ragaku hingga kaku. Aku sangat akrab dengan kehidupan pagi desa kecilku ini.
Hanya dalam hitungan dua puluh menit bersama jalanan beraspal dibelai angin yang sembirit, akhirnya aku menjangkau sektor desa proyek tertunda. Sepuluh menit menuju pukul tujuh, aku memasuki gerbang sekolah tua yang bukan hanya warna catnya saja telah memudar, tapi tetumbuhan di halaman tampak layu tak berkembang.
Aku menyandarkan skutermatik di parkiran. Beberapa wajah kecil sang periang sudah berkerumun di bawah akasia tua yang usianya mungkin sudah melebihi usiaku menatap dunia. Mereka menungguku. Mereka tersenyum melihatku sudah memasuki gerbang. Mereka tak sabar menungguku keluar dari parkiran. Mereka mengantri bersalaman mencium tanganku. Membagikan hangat yang mereka simpan di balik genggaman telapak tangan mereka. Mengecup punggung tanganku dengan bibir kecil mereka yang tipis dan lembut. Rutinitas yang sarat kualitas.
Aku menyandarkan skutermatik di parkiran. Beberapa wajah kecil sang periang sudah berkerumun di bawah akasia tua yang usianya mungkin sudah melebihi usiaku menatap dunia. Mereka menungguku. Mereka tersenyum melihatku sudah memasuki gerbang. Mereka tak sabar menungguku keluar dari parkiran. Mereka mengantri bersalaman mencium tanganku. Membagikan hangat yang mereka simpan di balik genggaman telapak tangan mereka. Mengecup punggung tanganku dengan bibir kecil mereka yang tipis dan lembut. Rutinitas yang sarat kualitas.
'Assalamualaikum, miss Ikha', salam santun dari mereka menghangatkan ragaku yang tadinya kusebut telah kaku.
Aku tersenyum kembali untuk mereka. 'Waalaikum salam'.
Tak menunggu lama setelah aku memasuki kantor guru, bel sekolah berbunyi tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar. Sesuai jadwal, hari Kamis aku mengajar kelas V, kelas juaranya gaduh.
Setelah sedikit brainstorming, akhirnya kelas pun dimulai dengan materi- materi baru. Sedikit ingin mengejar ketinggalan di kelas lalu. Tapi tetap saja: GADUH. Dan SABAR adalah satu- satunya jalan agar aku tetap kerasan berada di kelas yang setiap hari digaungi musik ketukan meja lengkap dengan celotehan anak- anak manja.
Yah. Ini suatu ujian seorang guru. Persis seperti ucapan ibu yang sejak bertahun yang lalu memberi wejangannya padaku. HARUS SABAR.
Sabar meski kadang suara kita disepelekan. Sabar meski kadang celotehan mereka keterlaluan. Dan aku hanya harus mengulanginya lagi untuk lebih sabar.
Karena buku panduan masih menumpuk di meja kantor guru, maka aku mohon ijin keluar kelas untuk mengambilnya. Seketika mereka bersorak gembira, sementara disudut hatiku merasa sedikit kecewa. Keluar kelas, menghela napas. Susah. Tidak mudah merapikan kelas yang semua penghuninya adalah bianglala.
Aku berjalan di sepanjang koridor kelas hendak menuju kantor guru. Namun, pijakan kakiku terhenti tatkala melihat sosok lelaki kecil di depan taman kelas. Ia nampak duduk berdampingan dengan seorang lelaki dewasa. Saraf penglihatanku bekerja optimal seperti biasa sehingga sosok lelaki kecil itu tampak jelas di mataku. Dani, ya, sosok kecil itu adalah Dani, dan lelaki dewasa disampingnya itu kemudian kuketahui sebagai Bapaknya.
Dani yang kemarin tak sempat menjawab panggilan absensi kelas bahasa Inggris. Siswa yang entah kenapa tiba- tiba kusesalkan ketiadaannya di kelas. Dani kulihat duduk meringkuk di taman depan kelas dua. Seragam yang ia pakai sesuai dengan jadwal seragam sekolah ini. Tapi ia berada disana, diluar kelas, di taman depan kelas dua. Pandangnya tiada pernah lepas dari pintu kelas yang terbuka di hadapannya. Menatap ceria yang tergambar di wajah teman- temannya. Membuang sedikit rindu yang menumpuk didadanya.
Aku berlari kecil mendekati keberadaan Dani. Ingin segera kurengkuh tubuh kecilnya itu. Dani, tak sabar aku melihat senyum yang disela giginya terdapat gigis itu. Kini ia kembali ke bangunan tua ini, ke sekolahnya yang terdahulu. Kuelus rambutnya yang memerah kaku. Kuusap pipi dan dagunya. Namun, ia tetap diam. Mengunci mulut kecilnya ketat.
Bapaknya tersenyum, kemudian mengabarkan bahwa Dani tidak mau masuk ke sekolah rujukannya: SLB. Dan kebisuan Dani adalah kerinduannya pada sekolah ini. Aku mengiba, merasakan sepi yang ia rasakan ketika harus berpisah dengan teman- teman akrabnya. Dani masih diam. Hanya raut wajahnya yang bicara, hendak bercerita panjang tentang harapan yang sebenarnya telah ia simpan rapi di dalam sanubarinya.
Dani adalah siswa yang kuketahui terbelakang dalam hal potensi akademik. Meski sudah menghuni kelas satu selama tiga tahun, ia belum bisa menulis dan mengeja kata. Berbagai metode belajar sudah diterapkan guru yang mengajar, tapi nihil alias tiada hasil.
Setelah rapat guru dan wali murid, akhirnya tahun ini Kepala Sekolah memutuskan untuk memberi rujukan kepada Dani ke SLB. Mungkin sebelumnya aku sangat terpukul dan menyesalkan keputusan Kepala Sekolah itu. Tapi akhirnya aku bisa mengerti arti penting di balik keputusan beliau tersebut.
Keputusan memberi rujukan kepada Dani ini adalah keputusan yang terbaik. Terbaik dan demi kebaikan Dani. Meski secara fisik, Dani sehat jasmani dan rohani, namun Dani digolongkan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Maksudnya, Dani sangat terbelakang dalam hal kemampuan intelegensi. SLB adalah solusi terbaik, mengingat guru di SLB dibekali dengan kemampuan mengajar anak berkebutuhan khusus seperti Dani. Bukan bermaksud mendiskreditkan kemampuan guru sekolah biasa. Hanya saja, sudah sepantasnya yang bersangkutan menerima fakta dengan lapang dada. Atas penjelasan ini dan demi kebaikan Dani, akupun merelakan kepindahannya ke SLB.
Dani adalah siswa yang kuketahui terbelakang dalam hal potensi akademik. Meski sudah menghuni kelas satu selama tiga tahun, ia belum bisa menulis dan mengeja kata. Berbagai metode belajar sudah diterapkan guru yang mengajar, tapi nihil alias tiada hasil.
Setelah rapat guru dan wali murid, akhirnya tahun ini Kepala Sekolah memutuskan untuk memberi rujukan kepada Dani ke SLB. Mungkin sebelumnya aku sangat terpukul dan menyesalkan keputusan Kepala Sekolah itu. Tapi akhirnya aku bisa mengerti arti penting di balik keputusan beliau tersebut.
Keputusan memberi rujukan kepada Dani ini adalah keputusan yang terbaik. Terbaik dan demi kebaikan Dani. Meski secara fisik, Dani sehat jasmani dan rohani, namun Dani digolongkan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Maksudnya, Dani sangat terbelakang dalam hal kemampuan intelegensi. SLB adalah solusi terbaik, mengingat guru di SLB dibekali dengan kemampuan mengajar anak berkebutuhan khusus seperti Dani. Bukan bermaksud mendiskreditkan kemampuan guru sekolah biasa. Hanya saja, sudah sepantasnya yang bersangkutan menerima fakta dengan lapang dada. Atas penjelasan ini dan demi kebaikan Dani, akupun merelakan kepindahannya ke SLB.
Sayangnya pagi ini aku tak bisa berlama menguraikan kesedihan Dani. Aku sudah cukup paham, lelaki kecil ini cukup lemah untuk harus kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Tak banyak kata yang kuucapkan untuk membuat hatinya kuat dan tegar.
Memori tentang Dani dan tatapan rindunya berhasil menjadi pembuka kisah haru di hari ini. Aku tak bisa berlama dengannya karena harus segera menuju kantor guru, mengambil buku panduan, dan kembali ke kelas lima. Kelas GADUH.
Memori tentang Dani dan tatapan rindunya berhasil menjadi pembuka kisah haru di hari ini. Aku tak bisa berlama dengannya karena harus segera menuju kantor guru, mengambil buku panduan, dan kembali ke kelas lima. Kelas GADUH.
Dani, bersama bapaknya di taman depan kelas
(candid diambil dari dalam kantor guru)
Diary of an ordinary
15/07/2010
Ikha Oktavianti

